SELAMAT DATANG

Menulis: mengekalkan diri dalam Sejarah dan peradaban


Sebagai mahasiswa, tentu, teman – teman semua yang budiman akrab dan hangat sekali dengan sebuah adagium arab: al-Ilmu Ka al-Shoid, wa al-Kitaabah Qaiduha,yang kurang lebih terjemah bodoh saya seperti ini: Ilmu seumpama hewan buruan, dan dokumentasi seumpama talinya.

Secara spontan, hal yang akan kita tangkap dari dua frasa profetik diatas adalah: Ilmu dengan kondisi universalnya, dan proses (cara) kita mengemasnya –sesuai dialek sosial dan kondisi zaman. Artinya, sikap kita kepada universalitas Ilmu harus kita pilih sendiri. Setiap individu, berhak penuh menentukan pilihan: apakah dirinya akan menempatkan Ilmu sebagai legislasi –seperti umumnya orang sekarang, atau pada posisi esensial dari tujuan awal Tuhan mengajari Adam nama – nama benda seperti yang diceritakan pada awal Surat al-Baqoroh (?).

Saya kira, kita akan sepakat untuk berusaha memilih yang kedua: Esensialitas ilmu dan keilmuan. Cara berfikir pendek saya begini: Ketika tuhan hendak menciptakan manusia, yang secara kebetulan juga oleh tuhan, Adam dipilih menjadi manusia pertama yang diciptakan dan diturunkan di bumi dan memerlukan bekal pengetahuan bertahan hidup di medan yang Adam dan Istrinya sebelumnya belum mengenalnya: bumi. Maka Tuhan mengenenalkan ilmu Hakiki kepada adam tentang berbagai nama – nama benda (universal) yang pada taham setelahnya dalam peradaban manusia kita dikenalkan oleh penemuan – penemuan ilmiah, teoritis, sains, yang sebetulnya kalau kita telusuri dengan bekal sejarah. Adalah merupakan hasil dari elaborasi dan kolaborasi Ilmu Hakiki yang tuhan berikan kepada Adam tentang nama – nama benda.

Jadi, siapakah yang berhak melakukan legislasi ilmu dan keilmuan dimuka bumi ini kecuali Tuhan? Artinya, manusia dengan peradaban yang terus bergerak ini, tidak ada satupun fase dimana ia berhak melegislasi keilmuan yang ia dapat –dalam proses pencaharian. Karena, manusia hanya mengelaborasi, komparasi dan merunut penemuan nenek moyangnya untuk mendekati esensialitas ilmu dan keilmuan hakiki.  

Semoga dari sini jelas, apa tendensi personifikasi “ilmu” dalam adagium arab di atas dengan “hewan buruan”. Ya, dari preporsisi kita pengartian dan pemahaman kita terhadap Ilmu yang universal. Hingga setiap dari kita, memiliki hak untuk membangun sendiri keilmuan masing – masing yang tentunya sesuai dengan porsi yang sudah saya sebutkan diatas. Dengan tujuan, bagaimana Manusia sebagai makhluk yang selalu disinggung oleh tuhan dengan ekspresi: Afalaa Tatafakkaruun?  Atau Afalaa Ta’qiluun?.

Kembali ke Wa al kitabah Qaiduha. Merupakan hal yang tidak wajar, ketika manusia yang dituntut oleh tuhan mereka membangun peradaban mereka sebagai mana yang tuhan harapkan kepada Adam, tidak menjaga kesinambungan sirkulasi peradaban manusia karena terputus oleh satu generasi “pemalas” terhadap dokumentasi, bahkan minimal untuk dirinya sendiri.

Saya sendiri, acapkali membayangkan bagaimana proses runtuhnya peradaban manusia. Zaman yang serba tekhnologi, menggiring manusia pada peradaban yang ironi –mengkhawatirkan. Teman – teman bisa perhatikan, bagaimana perkembangan gadget dari hari ke lain waktu, juga berbagai produk tekhnologi modern yang lain. Dengan dalil hendak mempermudah kebutuhan manusia, teknologi modern menjawab segalanya; adalah pada hulu segalanya tidak jauh dari Industri.

Kita ambil amsal, gadget. Dengan gadget manusia modern dapat menjalankan akses informasi yang tidak terbatas jarak. Melakukan interaksi sosial non-riil, interaksi ekonomi jarak jauh, sharing idea berjauhan. Yang kesemuanya, bagi tekhnologi modern adalah jawaban atas usaha “pemenuhan” kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. (Manuel Castell)

Tanpa disadari, kita terjebak pada sebuah system micro yang mempersempit dokumentasi kita di kehidupan nyata. Saya tidak menyangkal, bahwa saya pengguna aktif Twitter, Facebook, Blogger, Path, Google Plus, Yahoo Mesengger, gadget dan sejenis apapun yang menampung ekspresi saya. Di facebook misalnya, dengan ironi “what on your mind?” seringkali kita tergelitik untuk juga menuliskan apa yang terlintas secara spontan dalam pikiran maupun perasaan kita pada kondisi saat itu. Itu kadang saya rasakan sebagai jebakan yang menuntut mindset kita untuk berfikir secara instant. Belum lagi persoalan – persoalan lain yang bisa kita pelajari jebakannya, yang tentu, tidak akan saya utarakan kegelisahan saya disini.

Akhirnya, dengan terjebaknya kita pada ranah kedewasaan bersikap yang micro non – riil, seringkali lupa terhadap sesuatu yang lebih besar –Ada hal yang dirasa hilang: Macro riil. Yaitu, keberlangsungan peradaban manusia yang perlu disejarahkan dan transenden menjaga profetik makna riil “ilmu dan Keilmuan” manusia yang perlu kita sikapi secara riil.

Tentu, ada sebagian orang yang kurang setuju dengan gagasan saya mengenai ironisasi penggunaan jejaring sosial karena kecenderungan kepada mindset micro. Saya kira, itu perlu kita perdebatkan ulang karena faktanya ada juga sebagian orang yang memilih sector “maya” untuk mendokumentasikan dirinya secara serius daripada terjebak mengikuti sihir “what on your mind?” dengan menulis hal – hal yang spontan dan hiperbola –Alay dan lebay.

Makna “al-Kitabah” dengan “dokumentasi” untuk saat ini, menurut saya, lebih mewakili dibanding dengan hanya mengartikan “menulis” dalam kehidupan modern saat ini. Karena, dokumetasi adalah memuat hal – hal yang bukan hanya berupa tulisan, namun juga hal lain yang bersifat informatif.

Namun kali ini, saya akan menekankan betapa “menulis” adalah hal dasar yang utama dari segala jenis dokumentasi yang ada. Hal ini, demi, sekali lagi keberlangsungan sejarah dan peradaban manusia dalam semua varietas.

Dalam Kitab suci, Tuhan mengingatkan kita betapa pentingnya “menulis” bahkan di beberapa kesempatan tuhan mengekspresikannya dengan ungkapan perintah. Seperti dalam persoalan hutang – piutang. Ini sudah menjadi bukti, bahwa tuhan menghendaki kita untuk focus, tidak meremehkan hal remeh – temeh dengan melakukan dokumentasi.

Hal ini, perlu kita sadari secara sepihak bahwa betapa tuhan menghargai sejarah. Dengan dokumentai yang ditemukan oleh generasi setelahnya, misalnya, para ahli arkeolog dan sejarawan akan meluruskan persepsi pengetahuan peradaban manusia sebelumnya. Dan hal ini, hanya “mungkin” terjadi jika ada kegiatan dokumentasi oleh generasi sebelumnya. Meski secara kolektif, saya tidak bisa memihak pembenaran bahwa “menulis” lebih utama daripada menvisualkan keadaan, merekam, berekspresi di jagad maya atau dalam bentuk ekspresi lain seperti relief, patung, candid dan sebagainya yang memberi kesan dan getaran keberadaan kita bagi generasi mendatang. 

Bukankah menyimpan dan membuang adalah dua tindakan yang biasa dalam dan untuk peradaban manusia menuju lebih baik, bukan? 




--- Sepenggal dari makalah yang saya sampaikan pada teman - teman Seminar Deminfo dan elNilein PPMI Sudan
Read More...

PRIBADI PREMATUR


Bagi penulis, menjadi bagian dari pengurus, anggota sekaligus warga di lingkaran NU Sudan adalah kesan tersendiri. Kesan itu terkadang lahir dari kegamangan dan disinterpersonal penulis dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hingga tulisan ini nantinya akan sampai pada tangan pembaca, dengan sangat terus terang, penulis masih merasa perlu bertanya – Tanya pada diri sendiri, dimana ruang bermain bagi pribadi yang masih terjebak kekanak – kanakan, seperti penulis?

           Penulis selalu yakin, ditengah tuntutan seseorang yang terlanjur masuk dalam instrumen keorganisasian yang berorientasi komunal-masyarakat, tidak menutup kemungkinan sebagian faksi dalam diri penulis dalam respon spontanitas pribadi terjebur ke dalam lembah kekanak – kanakan yang labil dan lebih antusias pada obsesi kepentingan pribadi, seperti yang penulis sering kali alami.

Terus terang saja menjadi bagian dari pengurus Nahdatul Ulama’ Cabang Istimewa Khartoum Sudan ini, penulis merasa belum sepenuhnya patut baik saat penulis bercermin pada kemampuan diri sendiri maupun pengalaman berorganisasi untuk mengemban amanat – amanat ketika harus terjebur dalam orientasi Komunal - Masyarakat. Terutama dininya usia pengalaman organisasi penulis yang tidak sesuai hierarki structural organisasi yang NU miliki sebagai kontruksi khusus terutama yang bersinggungan dengan kaderisasi.

Dulu, tilikan penulis tentang NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, adalah yang didalamnya diisi oleh orang – orang “sepuh” dengan karakter “matang” yang mengejawantahkan prinsip karakter NU di tengah masyarakat. Bersinggungan langsung dengan masyarakat yang sensitive sebagai stekholder,  yang dalam bayangan penulis saat itu begitu dilematis. Toh, pada kenyataannya tidak sedemikian dilematis ketika penulis akhirnya terjebur juga dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama’ Cabang Istimewa Khartoum Sudan ini.

Kepompongan ini, penulis dasarkan pada pengalaman hierarki struktur organisasi yang tidak komplit. Bayangan penulis selalu dihantui ketidak-siapan. Karena Pada hierarki struktur organisasi NU mengenal istilah pengkaderan dengan berbagai tingkatan yang harus ditempuh untuk menembus esensial struktur NU, seperti badan- badan otomom yang ada baik yang dikelola dibawah Pengurus Ranting (di tingkat Desa), Majlis wakil cabang ( di tingkat Kecamatan), Cabang (di tingkat kabupaten), wilayah (di tingkat Provinsi) maupun  Pengurus Besar NU (di tingkat Nasional).

Meskipun secara skema-sintetis, Badan – badan Otonom tersebut seharusnya tidak terkait dengan kepengurusan pada struktur Organisasi NU dalam sekala dan garis besar. Namun mengingat Banom seperti Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah, Muslimat Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Fatayat Nahdlatul Ulama, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa (IPS Pagar Nusa) dan Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH) memiliki interaksi social yang intim. Bukan hanya karena mengingat memang pada dasarnya Badan Otonom diatas memang sengaja dibentuk oleh NU dalam rangka pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu, tetapi juga berperan penting sebagai ruh dan inti daripada NU sebagai Organisasi Keagamaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat –upaya cultural. Penulis tidak akan membayangkan apa pentingnya NU sebagai organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan tanpa membentuk Banom – Banom yang berpotensi besar mengelola berbagai aspek kepentingan NU di tengah masyarakat.  

Namun secara aplikatif, dan operasinya Banom tersebut tidak dapat dipisahkan dari kepengurusan NU yang berada pada suatu wilayah. Hal ini yang mendasari penulis, tentang pentingnya peran adanya Banom di wilayah territorial pada tiap tingkat pengurus Nahdlatul Ulama’ dan juga, pentingya keikutsertaan para warga NU dalam segala bentuk kegiatan yang dicanangkan oleh setiap Banom tersebut.

Pertama, karena mengingat interaksi NU sebagai Organisasi memiliki kepentingan - kepentingan mulia yang salah satu diantaranya adalah menegakkan ajaran Islam paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) maka harus memiliki interaksi yang mesra dan intim dengan masyarakat sebagai objek daripada dakwah.
Kedua, Banom memiliki otoritas yang divergen dengan kepengurusan, hal ini bisa kita lihat pada keduanya yang memiliki AD/ART yang berbeda. Karena memiliki target dan program yang berbeda, antara structural kepengurusan Nahdatul ‘ulama yang dibentuk di suatu wilayah dengan Badan Otonom didalamnya yang bergerak lebih fungsional komunal, meski secara obyek normatif memiliki kesamaan. Namun karena BANOM lebih menyentuh dan focus pada arah yang lebih intens maka tidak heran jika BANOM lebih ditekankan dalam misi yang lebih fungsional. Itulah dua hal yang menjadi dasar penulis, bagaimana keikutsertaan kita sebagai “orang” NU pada tiap – tiap Banom menjadi sangat penting dan berharga.

Belum lagi jika kita lihat betapa pentingnya peran keikutsertaan para pelajar (NU Muda) dalam kegiatan di bawah Banom seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU – IPPNU) sebagai wahana dan wadah mengenalkan paham, ajaran, semangat berorganisasi dan sekaligus yang terpenting adalah pengkaderan kepada “NU Muda” sejak dini, sejak menjadi pelajar.

Kembali pada dilematisme yang sempat menjangkit penulis pada pembahasan sebelumnya, maka ketika menginjakkan kaki di Sudan yang otomatis spontan, sebagai anak orang NU, mau tidak mau penulis diharuskan terjun berkecimpung dalam lingkaran organisasi NU (maksud penulis, PCI NU Khartoum Sudan) dengan penguasaan dan pengalaman ke-organisasi-an yang minim. Penulis seringkali “klabakan” memikirkan sikap bagaimana menisiasati ketidak-siapan menjalankan organisasi dengan melakukan pengayaan diri nekat “terjun bebas” tanpa disokong instrument formal “diklat ke-organisasi-an” yang seharusnya PCINU Sudan agendakan. Alasan kuatnya, adalah mengemban NU dan masuk dalam arena organiasasinya tidak hanya dibutuhkan keterampilan manajement (dasar) baku seperti pengalaman kita dalam organisasi – organisasi eks-skul, namun lebih dari itu, organisasi NU memiliki obyek yang lebih luas daripada seisi gedung sekolah sewaktu SMA dulu. Yang bagi pegiatnya tidak hanya diharaapkan mampu terampil dalam manajemen organisasi namun juga komperhensip terhadap pengelolaan mental dan spiritual. Karena secara garis besar objek dan sasaran dakwah NU adalah masyarakat umum, luas dan beragam.

Dalam beberapa waktu, sebagai pribadi labil. Keinginan untuk membangun ideology dari dalam selalu penulis usahakan, sebagai bentuk upaya penselalarasan minimal agar tidak terjebak minder dan usah perubahan yang penulis anggap harus dimulai sejak dini dan dari diri sendiri. Dengan kuat, dan penuh kesadaran bahwa yang selama ini penulis anggap itu keliru, beban yang dipikul harus juga dianggap sebagai upaya perbaikan dan pendewasaan. diri. Namun ini hanya sebatas “kesadaran” sepihak yang penulis lakukan oleh dan untuk diri sendiri penulis. Dan belum pernah ter-peta-kan selama rentang tahun 2011-2014 untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan semisal diklat ke-organisasi-an yang seharunya PCINU Sudan selenggarakan sebagai sikap serius pengkaderan. Meskipun ide ini tidak baru, toh, belum juga mampu diselenggarakan secara riil.

Dari sini lah akan terlahir semangat untuk kita selalu belajar, meningkatkan, dan mempelajari segalanya menjadi sebuah pengalaman yang bukan hanya ber-amaliah Nahdliyah namun juga semangat ber-jam’iyyah. Meskipun kita tidak berada pada garis besar yang seharusnya, namun diantara kita selalu yakin bahwa pertolongan Allah selalu lekat disekitar orang – orang yang berjuang  mengawal masyarakat.

TANAM PAHAM KE-ORGANISASI-AN SEDARI DINI

Kaderisasi yang selama ini terjadi dalam lingkup NU, khususnya Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul ‘Ulama Khartoum Sudan hanya berkutat dalam hal “tanam paham” Nahdhatul ‘Ulama sebagai muatan Ideologi an sich. Kant mengomentari pengertian an sich dengan sesuatu yang tak terikat dengan kesadaran maupun pengalaman. Padahal untuk menyentuh sebuah esensi kehadiran diperlukan kesadaran dan untuk menggerakan sesuatu secara fungsional –di garis lurusnya, dibutuhkan pengalaman yang transcendent pada kesadaran. Artinya, kaderisasi PCI NU Sudan selama ini lebih banyak berkutat dalam “tanam paham” yang hanya mengenalkan dirinya sendiri sebagai mazhab ideologi teoritis: NU yang harfiah. Belum sepenuhnya keluar dari jalur yang sesungguhnya dituntut oleh NU sebagai organisasi.

Seingat penulis, Abdurrahman, MA adalah salah satu yang pernah mengemukakan pentingnya kaderisasi pada Rapat Koordinasi lembaga PCI NU Sudan tahun 2012. Ia menilai bahwa Kaderisasi dini ini dirasa penting, melihat gejolak ketidaksiapan sebagian pengurus menjalankan roda program yang dicanangkan oleh hasil konferensi. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi setelah 3 bulan masa jabatan Miftahuddin Ahimy, MA sebagai ketua Tandfidziyah PCI NU. Ketidaksiapan ini pun otentik karena kurangnya pengalaman mengenal NU sebagai organisasi secara utuh. Meski lagi – lagi yang dikemukakan Abdurrahman menjadi sebuah gagasan yang diterima dan direspon oleh forum dengan kembali melakukan kaderisasi NU An sich: Mazhab Ideology Teoritis.

Tidak sangkal jika kemudian hari, setelahnya, dinamika organisasi kembali menjadi kepompong yang bertapa dan tak kunjung berubah menjadi kupu – kupu yang terbang menguasai langit. Karena bagaimanapun harus dibedakan bagaimana memahami NU secara cultural dan structural agar tidak menjadi beban berkepanjangan, dan menjadikan NU lagi – lagi kecolongan dengan orang – orang berkepentingan “pribadi” yang menyusup dalam structural NU sebagai organisasi keagamaan yang profetik.

Jadi sudah seyogyanya PCINU Sudan lebih serius melangsungkan serangkaian program riil yang berkiblat pada seluruh amanat NU sebagai organisasi yang memerlukan kemampuan pengelolaan jalannya organisasi bagi pegiat dan aktivisnya. Jalan formal satu – satunya adalah dengan mengadakan “diklat ke-organisasi-an” secara berkala pada tiap tahun kedatangan mahasisiswa baru NU ke Sudan. Hal ini PCINU Sudan fungsikan sebagai kelas tambahan bagi kadernya untuk mengejar ketertinggalan pengalaman dan pengetahuan di kelas kaderisasi yang tidak semua mahasiswa baru yang datang dari Indonesia mengikutinya disana. Juga dalam upaya menyiapkan kader – kader aktivis dan pegiat PCINU Sudan yang memiliki integritas ber-organisasi baik secara structural maupun cultural.  

Bagi kepentingan organisasi, mereka adalah potensi dan ruh dalam kelangsungan eksistensi organisasi yang perlu PCINU Sudan kelola dan rawat dengan menanamkan paham dan ilmu organisasi sedari dini maupun berkala. Hal ini adalah ke-istimewa-an tersendiri PCINU Sudan dalam perjalanan sejarah dan peradabannya sebagai organisasi yang mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki, bukan?

Read More...

SUTRISNO BERSIKAP


Sepulang dari mengikuti seminar, Subagyo bertemu dengan seorang teman. Namanya Sutrisno, akrab dipanggil Sutris oleh teman – teman Subagyo. Sutris memang berkarakter pendiam, tidak banyak bicara, tetapi dibalik diamnya selalu responsive dan kritis menyikapi apa yang ia lihat. Subagyo yang tergolong dekat jika ia ditanya tentang bagaimana pribadi Sutris Sebenarnya, yang sering  dianggap eksklusif oleh teman – temannya, Subagyo selalu bilang, “Sutris itu memang boleh dikesankan Eksklusif, namun kesanmu jangan berhenti sampai sebatas itu. Karena dibalik eksklusifitas Sutris yang bagi saya menipu, ada banyak sikap – sikap kritis, responsive terhadap sesuatu yang hanya saja Sutris tidak mau tampak – tampakkan”.

Karena bagi Subagyo, banyak yang tidak tahu stream, dan mind Sutris yang responsive terhadap apapun yang kritik-able. Dan itu, biasanya tidak diketahui orang banyak di sekitar Sutris, karena seringkali Sutris hanya berbicara serius kepada orang – orang tertentu yang dianggap mampu menseriusinya. Termasuk Subagyo, yang seringkali dipilih Sutris sebagai lawan bicara.

“Begini Yo, ini tentang dilematika ideology mahasiswa dan ke-mahasiswa-an terhadap gonjang – ganjing persekongkolan  sebagian dari kita dengan partai politik”. Kata Sutris membuka pembicaraan seriusnya.

Dari nada dan gaya Sutris bicara, Subagyo faham. Sutris akan ngomong panjang, makanya Subagyo masih diam. Memberi waktu Sutris menuntaskan.

Kerja praktis partai politik yang selama ini kita kenal bersama, semenjak reformasi dari orde baru dan mulai dibuka selebar – lebarnya dimulai tahun 1999 bagi siapapun untuk berpayung di bawah payung demokrasi sebenarnya masih merupakan rangkaian perjalanan yang belum berumur panjang. Tentang kebebasan berekspresi, mengemukakan pendapat, mendirikan dan melegislasi gagasan kelompok yang menjamur dari barat ke utara, dari kota ke pelosok desa. Ini, sebagai mahasiswa kita, harus berperan sebagai controller, karena dalam praktisnya ternyata “orang – orang itu” tidak semuanya berkesempatan hadir dan memahami serangkaian gonjang – ganjing dan peristiwa – peristiwa rekonsoliasi kebangsaan dan kebudayaan. Sebagian orang, tanpa masuk dalam instrument perjuangan demokrasi dulu justru kerap kali, dewasa ini muncul sebagai poros baru yang bebas keliaran dimana – mana, yang tentu istilah yang dimaksud adalah munculnya “mereka”, dibenarkan oleh demokrasi. Istilah nya, ya, seperti terlahir dari keluarga konglomerat, yang begitu lahir sudah merasa berhak mewarisi dan menikmati hasil kerja keras ayahnya. Hal ini yang mestinya, membuat kita: mahasiswa gerah. Dari sisi strategisnya, mahasiswa harus kita tempatkan bukan hanya sebagai obyek kebijakan politik dan birokrasi, namun lebih spesifik mampu mengartikulasi keadaan dalam kapasitas yang lebih tinggi: Kebangsaan.

Mahasiswa, kita re-posisi bukan hanya sebagai perusuh bagi stabilitas pemerintah, namun sebagai controller. Bukankah diatas jalannya kebebasan (liberty) harus ada yuridiksi, dan cendekiawan termasuk mahasiswa di dalamnya memiliki otoritas penting dalam pengawasan agar perjalanan birokrasi senantiasa under-control ?.

 Di sejarah revolusi manapapun, revolusi tergerak dari kontemplasi pihak cendekiawan sebagai ideologi dengan premanisme sebagai sikap arogansi yang diperbolehkan dalam pengawalan sebuah ide dan gagasan. Justru yang kita lihat, dewasa ini seringkali tidak padu. Istilahnya, Ayatullah Khomeini dan Ahmad Dinejad Sudah pisah ranjang. Atau Muhamad Abdul wahab dan king Abdul Aziz sudah bercerai. Sehingga yang tampak seringkali keduanya berjalan sendiri – sendiri menuju, yang sebenarnya bertujuan sama. Mahasiswa harus menjadi perangkat yang seirama dengan proses berjalannya kebijakan pemerintah dan meluruskan output kebijakan dengan konservatifitasnya.

“Permasalahannya, adalah begini, Yo…”, lanjut dia, mengambil satu tarik nafas.

Jika ada satu golongan partai politik, yang berusaha menggawangi konservatifitas ideology kemahasiswaan, seperti di Sudan ini. Dengan berbagai upaya dan wajah, yang seolah – olah mendapat legislasi untuk juga menggerakan kepentingan politiknya melalui jalur kemahasiswaan. Jika ditilik sepihak dengan memandang hak mendirikan sebuah wadah untuk menampung ide mahasiswa dan meluluskan cita – cita, visi dan missi nya, maka hal tersebut “boleh” secara konstitusional baku. Namun jika ditilik dari jangkauan idealisme seorang mahasiswa dengan berbagai potensi tadi: Controller dengan sikap konservatifitas yang perlu dijaga, maka hal tersebut jelas me-salah-I estetika, dan mencederai netralisme serta konstitusi kemahasiswaan kita. Karena apapun bentuk lembaga atau organisasi yang dibuat oleh sebuah partai politik, maka selalu harus kita curigai bersama apa tendensi dibalik itu semua.

Subagyo yang dari tadi membatu mendengarkan, magut – magut sambil pegang bulu jenggot, memahami maksud Sutris. Sebelum akhirnya bertanya,

“lantas, sebagai mahasiswa, apa sikap kita agar tidak terjebak erosi dan pendangkalan idealisme mahasiswa, Tris?”

Pertama, kita cermati dulu, jangan terburu mengambil sikap hemat. Kita telisik dulu, dengan menjangkau berbagai aspek sudut pandang penilaian sejarah, pondasi dan track record politik partai tersebut. Tolok ukurnya begini, apakah sebuah partai tersebut memiliki perjalanan sejarah yang sesuai dengan cita – cita dan semangat luhur kebangsaan atau malah menyimpang. Harus kita jeli juga, apakah partai tersebut memiliki tendensi sikap dan kepentingan politik yang sesuai dengan pedoman dan empat pilar bangsa dan Negara, atau malah sebaliknya mengkafirinya. Selanjutnya, apakah perjalanan partai tersebut dalam kancah perpolitikan memiliki raport memuaskan, yang ukurannya kita sesuaiakan pada raport para pejabat publiknya, karena baik buruknya rapot seorang pejabat public yang diusung oleh suatu partai menentukan baik buruknya citra politik sebuah partai tersebut.

Tindakan kedua, sebagai mahasiswa yang idealnya senantiasa merawat ideologi dan sikap controller (tanpa kontaminasi dan tidak tercemar tendensi sebuah kepentingan rendah) terhadap kebijakan penguasa yang secara tidak langsung merupakan posisi strategis mahasiswa untuk berteriak “tidak” pada penyelewengan penyelenggaraan kebijakan dan mengapresiasi bersama setiap prestasi dan pencapaian yang dilakukan oleh pemerintah. Nah, hal ini hanya bisa mungkin terjadi secara “wajar” jika para mahasiswa senantiasa merawat ideology kemahasiswaannya dengan tidak terjebak pada kepentingan – kepentingan instan seperti politik praktis yang selalu berujung pada cita – cita rendah sebagai seorang mahasiswa.

Ketiga, adanya sebuah wadah organisasi ataupun apa istilahnya yang mewadahi berbagai kegiatan dan hadir di tengah – tengah mahasiswa itu harus kita telusuri dulu, apakah benar organisasi / lembaga anak partai tersebut yang berada diantara kita benar – benar memiliki niat luhur untuk mewadahi kreativitas teman – teman mahasiswa dalam berbagai hal misalnya, tanpa kepentingan lain, atau justru sama halnya partai dengan kepentingan politik yang hanya bertujuan seperti menanam pundi – pundi massa yang akan dipetik “suara” mereka pada PEMILU? karena jika benar, bahwa berdirinya organisasi anak partai tersebut jatuh pada kepentingan “kedua” maka jelas itu tidak sesuai spirit dan komitmen awal kita, dan bahkan mereka mencederai harkat dirinya dengan persekongkolan jihad demi “kekosongan”.

“Saya kira, kita harus memikirkan yang terakhir ini, Tris…”, Ucap Subagyo menyela pembicaraan Sutris. Matahari sudah terbenam, hari mulai malam. Terdengar lantang dari jauh suara adzan yang tidak pernah gagal mengisi kekosongan hati untuk beranjak memenuhi panggilan. 


Khartoum 230214
Read More...

MENDIRIKAN LESBUMI PCINU SUDAN: SEBUAH MOMENTUM



           Perjalanan perjuangan Nahdlatul ‘Ulama sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Indonesia dengan lebih dari 40 juta pengikut yang bergerak di pelbagai bidang strategis masyarakat sebagai stekholder dan penjaga sikap keagamaan yang moderat, toleran, serta senantiasa mampu menjeburkan diri dalam instrument budaya dan warisan lokal masyarakat setempat dengan kearifan lokal yang dijunjung NU, sebagaimana  metoda akulturasi budaya dalam berdakwah yang sudah diajarkan oleh para walisongo di Jawa. Tidak akan pernah lepas dari sikap permisif Nahdatul ‘Ulama sendiri sebagai organisasi modern, moderate, dinamis dan terbuka terhadap hal baru yang dirasa lebih baik, dan menyimpan tradisi, peninggalan dan budaya lama yang masih baik.

Dalam sikap peradaban Nahdlatul ‘Ulama sendiri kita sangat lekat dengan “al-Muhaafadha ‘ala Qadim al-Shalih, wa al-Akhdzu bi al-jadiid al-Ashlah”, dengan arti sikap menjaga warisan baik berupa khazanah kebudayaan dan tradisi berkesenian yang baik, dan mengambil penemuan (modern) yang dirasa lebih baik. Sikap inilah, alasan kenapa sikap NU selalu teridentifikasi baik secara sosio-historis, ataupun sikap ideology dengan perjuangan awal para walisongo melakukan missi dakwah di tanah Jawa.

Antara Walisongo dan perjalanan Nahdlatul ‘Ulama sebagai organisasi tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dirasakan dari sikap keagamaan NU terhadap perkembangan Seni dan Kebudayaan sebuah masyarakat. Dimana NU selalu berusaha mengadopsi sikap –sikap dan strategi dakwah walisongo yang dengan akulturasi budayanya, para pegiat dakwah cultural NU selalu diterima karena memiliki keintiman dan kemesraan dalam menyikapi suatu budaya masyarakat setempat. Di tengah maraknya ekstrimis kanan yang senantiasa berusaha mengaburkan nilai luhur kebudayaan dan kesenian. Arti singkatnya, perjuangan dakwah Walisongo di tanah Jawa dan perjalanan NU tidak akan dapat dipisahkan. Karena Nahdatul ‘Ulama adalah akselerasi keberhasilan dakwah Walisongo, sedangkan sikap bijak Walisongo akan senantiasa direduksi, diadopsi, dan dikolaborasi dengan pemikiran baru oleh NU hingga saat ini.

Mengacu pada seriusnya para seniman, budayawan, intelektual, cendekiawan dan siapapun yang memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan dan kesenian. Dengan terbukti, digagas ulang berdirinya kembali aliansi Seniman dan Budayawan di tubuh NU sendiri seperti digagas ulangnya Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) Nahdlatul ‘Ulama yang diprakarsai oleh ketua terpilih LESBUMI Saat ini, Zastrwo alNgatawi (masa khidmat 2010-2015). Sudah selayaknya PCINU Sudan memiliki sikap apresiasi gerakan dalam sikap berkesenian dan berkebudayaan.  Hal ini akan menjadi sebuah legislasi sikap kebudayaan NU dalam ranah wilayah (Luar Negeri) yang memiliki potensi  multi-research kebudayaan dan kesenian pada Negara dimana PCINU berada.

Kembalinya semangat melembagakan kegiatan berkesenian ini juga tidak terlepas potensi kentara dari hari ke lain generasi mulai menunjuk perkembangan yang sangat baik. Seperti yang terlihat adalah, semangat berkesenian Hadroh dan Rebana oleh warga PCINU Sudan yang sudah tidak lagi kita ragukan urgensitasnya dalam pelbagai momen Sebagai icon PCINU Sudan dan bahkan mulai dikenal luas oleh sebagian warga pribumi  Sudan sendiri.

 Perkembangan demikian, seharusnya sudah saatnya PCINU Sudan bersikap memberi ruang bagi kelanjutan kegiatan berkesenian yang sudah dirasa membanggakan. Belum lagi kegiatan berkesenian lain semisal dalam seni gerak dan teater yang seringkali berjalan apa adanya, bahkan lebih sederhada dari Hadroh dan Rebana yang masih diayomi oleh Lembaga Dakwah PCINU Sudan, yang memerlukan perhatian khusus bagi para pegiatnya yang seringkali justru tidak terorganisir dan terakomodasi dengan baik. Padahal jika dikembangkan, akan sangat menguntungkan PCINU Sudan untuk merajut ulang semangat dakwah kulturalnya.

Jika di tahun ini, lagi –lagi PCINU mengambil sikap diam seperti tahun lalu dalam menanggapi wacana legislasi (pe-lembaga-an) ruang dan wadah berkesenian bagi para anggotanya yang potensif, maka sudah sangat terbayang bagaimana stagnasi kegiatan berkesenian yang selama sudah ada dan cenderung apa adanya tanpa adanya lembaga yang menaunginya secara serius. Sehingga, terhambat ide – ide yang seharusnya bisa jadi bahan ledak bagi sejarah PCINU Sudan dalam meraih cita – cita pengemban tradisi dan kultur nusantara yang sejatinya mampu diupayakan dengan melembagakannya.

Pelembagaan ini juga bisa bernilai sikap perhatian serius dan jawaban PCINU Sudan terhadap kegiatan berkesenian dan menghargai kebudayaan ditengah gagalnya pelbagai upaya instansi pemerintah dalam mengakomodir kegiatan berkesenian bagi warganya sendiri yang cenderung ber-orientasi “dangkal” dari yang kita harapkan bersama. Karena seringkali Negara hanya menganggap seni dan budaya sebagai warisan yang bisa setiap saat dia pamerkan dan pentaskan kepada Negara lain tanpa berdasar falsafah kesenian dan kebudayaan yang mendalam. Lantas, kepada instansi mana lagi PCINU Sudan bisa mempercayakan potensi berkesenian anggota dan cita – citanya  kecuali pada dirinya sendiri?

Sumberdaya Manusia dalam berkesenian PCINU Sudan pada dekade ini sedang dalam pertanda baik – baiknya untuk mengembangkan kembali semangat berkesenian yang sempat hilang pada beberapa tahun lalu. Lebih – lebih PCINU Sudan dengan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) nya, yang jika direstui untuk didirikan menjadi ruang sendiri dalam melahirkan, mendiskusikan dan mengadvokasi sikap berkesenian dan berkebudayaan yang selama ini cenderung berjalan tanpa payung yang menaungi secara serius.

Dengan berdirinya LESBUMI, PCINU Sudan akan lebih digiring pada sikap substantive dakwah cultural yang selama ini Nahdlatul ‘Ulama’ selalu perjuangkan.

Sudah sangat terbayang, dibawah Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCINU Sudan nantinya, akan lebih sering melakukan maneuver sikap dakwah yang selama ini sering dilupakan oleh pelbagai varietas metoda dakwah keagamaan yang justru dianggap kering dan ironisnya seringkali para pegiatnya malah menampilkan agama dengan muka yang menakutkan. Hal ini, hanya mungkin bisa terjadi secara rapi dan terorganisir jika PCINU Sudan dalam hal ini Steering Committee (SC) Konferensi Cabang PCINU ke XII yang dipimpin oleh H. Zainul Alim, MA mampu meluluskan berdirinya LESBUMI kemudian menjadi wacana untuk direstui pada puncak KONFERCAB XIII nanti.

JIka kita merujuk pada tema Konferensi Cabang (KONFERCAB) PCINU Sudan ke XII 2013 lalu sendiri yang salah satunya adalah optimalisasi peran Sosial Budaya dalam menjaga jaringan Internasional Ilmu dan ‘Ulama’ maka tuntaslah sudah, bahwa PCINU Sudan sudah tidak lagi pantas beralasan untuk menolak kehadiran instrument lembaga baru yang menaungi semangat dan kreatifitas dalam berkesenian dan mengenal kebudayaan nusantara secara intens. Karena ini merupakan titik klimak dan momentum menjalankan amanat profetik semangat KONFERCAB PCINU Sudan ke XII.

Ini akan menjadi serangkaian legislasi terhadap pelbagai sikap PCINU Sudan sendiri dalam bersikap dan juga sebagai lembaga advokasi “syariah” terhadap pelbagai issue dalam paradigma kebudayaan dan kesenian yang tidak bisa kita pisahkan dari perjalanan NU Sendiri. 
Read More...

Rubaiyat Rabu

1/
Paru – paru mu terjemur di rabu
Sesemayam cinta yang jadikanmu atma
Lekas garu tembakau agar tak bengu
Likas batu di dada mata air jemawa

2/
 cahaya – nur di sepanjang rabu
Benar – benar menyimpan biru dan ungu
Biru – ungu cahayamu lekang cemburu pada kelabu:
Benar – benar serdadu berkubu dari perintahmu

3/
Luka – duka menganga di rabu
Mememecah gerimis, pada gelap yang ganas
Bumi muntah, dan isi perutnya yang kuadru
Tuhfatulajnas: dikemas dari magma – magma panas 

4/
rabu, benar kau itu rabu
Dari bisumu, berombak, dari batu
Juga pohon kayu gaharu
Di halaman rumahmu --Jadi sebait lagu

5/
O, Rabu duhai, nahas kau itu
Ketika serdadu, panglima dan raja:
Ingat kita, saat hari panas magma
Tenggelamkan segala tipu daya di rabu

6/
Betapa rabu juga rabu
Sekali meski kembali ke rabu
Aduhai rabu, hilanglah ragu
Paru – paru, dari 7 di tiap rabu

7/
Di rabu, ayat satu berbiak 7
Aduh, buruh bunuh buruh:
Dari gaduh, jadi luka – luka biru:
Lupa makna Memajuh 7 kali tawajuh



Khartoum 2013
Read More...

Rubaiyat Ahad

Rubaiyat Ahad
: untuk Hela Yosef yang mantap murtad di hari ahad

1/
Garis muara hati, dari sini
Tertanam bunga – bunga mesra silih berganti
Dari serbuk, dari bentala pertiwi nan kudus,
Kian subur, dari tanah meski tandus.

2/
Seumpama nafas, kita mesti berhenti.
Seumpama majas, mesti curiga pada asumsi
Luas lautan, hulu segala kisah kitab suci
Tetapi pantai, menjadi suci: kali pertama tanahnya dipijak nabi

3/
Pohon – pohon cemara di palestina sibuk sembahyang
Sapi – sapi Pennsylvania  terdiam, bertafakur di kandang
Di ranjang mimpi kita begitu panjang
Ketika datang makna pesan –perut anak istri diterjang kelaparan

4/
O, Roh kudus yang mati terbius.
Layak kah (aku bertanya ) Pria dan waria diperah susunya ?
Dalam kuali, ntah berapa ratus Celcius
Direbus, Dikemas jadi khotbah, jadi dialog dalam kardus
  
5/
Dari pesan yang langit sampaikan
Mestinya kita sama sebagai makhluk
Dari produk tafsir para cendekiawan dan agamawan
Pelukan kita diharamkan, justru halal bagi kita untuk saling mengutuk

6/
Apalah yang bisa daun titipkan sebagai pesan,
Dari ujung  pagi yang menjadikannya lembab oleh embun.
Apalah tabuhan yang bisa hamba persembahkan pada tuan
Jika tiap kali membaca ayat tuan, hatiku makin rabun

7/
Ahad melekat pada garis misteri tembok kamar mandi
Peta sunyi yang sendiri, sesekali dikecipak air najis pencuci
Kelak puisi tidak lagi suci, dibaca justru bikin alergi:
Karena tinta dan pikiran penyairnya tercemar minyak babi



Khartoum, 2014
Read More...
 photo Joel2_zps6bff29b6.jpg