SELAMAT DATANG
Showing posts with label Seperti Sajak. Show all posts
Showing posts with label Seperti Sajak. Show all posts

CREPUSCOLO


: Muhammad Tajul Mafachir

Di balik cahya bohlam ini
Pancaran sinar kuningnya berubah merah
Merekah, seperti lepuh timah
Terpukau panas api
Menyala mataku disebagian wajah
Tawajjuhmu disebilah dada
Menjadi mashdar tafakkurku

“crepuscolo”
TibaTiba Luigi Vietti berbisik
Menghadang ketinggian
Sebahu menempel dada
Tepat mengenai telinga
Di sebuah pastoran Tua

“crepuscolo”
Dia Menghilang seperti ditelan Usia,
Katanya. Itu urusan Dunia
Namun saku baju dan celananya tak
Kunjung juga penuh dan runtuh

“crepuscolo”
Katanya sambil meraba hari,
Menanyaiku mengenai apa warnanya sore ini.
Sambil menanyaiku pertanyaan mengenai dan tentang kerinduannya padaku
Sambil terus melambaikan tangan menjauhiku

Ah, “crepuscolo”
Terkadang aku benar Benar ingin membunuhmu
Di valentine februari nanti.
Menikam hatimu dari jauh
Memotong anggota tubuhmu
Menjadi  4 bagian
Pas, 2 saku celana kanan dan kiri
Pas, 2 saku baju kanan dan kiri

Upz,

“crepuscolo”
Mari menepi,
Kutunjukan peti mati
“quando hai seguito, Lin?”



Khartoum, 29 Oktober 2012
Read More...

KUDAPAN MALAM




: Muhammad Tajul Mafachir


Matamu, bulat bohlam
Telingamu, kupandang tak berkesudahan
alismu, selebat hutan
senyummu, menghentikan angin
;sejuk dan dingin
Kulitmu, adonan tepung dan kuning telur
gigimu, berderet biji biji Jagung
Dipandu bibirmu yang tak kenal murung

Ntah,
jika kelak suaramu kau perdengarkan
ah,
Mungkin seperti alunan Qur'an yang dikasetkan.




Kerna kau PAGI,
Bergegaslah Menemuiku.

Khartoum, 29 Oktober 2012
Read More...

Mengingatmu


Untuk Mu 


Inginku menebas batasBatas
Biar kulit tak tersayat kelupas
Inginku meniupkan kapasKapas
Agar tak perlu darah menderaas

Kilau pisaumu
menusuk masuk kanji waktuku
bersama peta wajahmu
yang ku ukir tepat dijantung kiri ku



TahunTahun Berubah syahdu
Tak ada sedikit kabar darimu
Seperti mati
tertikam landep Bayonet
yang mencabik pecah otak
jiwa emas mu

Menebas batasBatas itu,
seperti capung
Terbang tak terlalu tinggi mengitari hulu
Namun sampai ke Jantung

...
Kau sentuh awanAwan; hingga lupa menghirup udara
kemanusiaan
Bertebaran kemudian
Semoga kau ingat arah menuju pulang
jangan
tersesat diruang berpintu dan alangAlang





Khartoum, 12 Sept 2012
Read More...

MATI di Angka Sepuluh


satu dua, kota pernah kita
berjumpa merapat senja
Dua tiga, hari pernah kita
bermalam Di rumah tanpa cahya
empat lima, Kali pernah kita
duduk bersama merantai jiwa
Enam tujuh, waktu pernah kita
menjojoh kalis mata batin sesama
delapan sembilan, mata kita pernah
sama sama terperangkap getar asmara
sepuluh... Angka dimana kita runtuh
di masa kita belum,
bahkan tetapi, api api bertepi
dan mimpi mimpi jatuh
kedalam pusara bumi

MATI




Khartoum, 11 Oktober 2012
Read More...

Ma... CINTA ITU Ma, BUKAN


Kini malam mengasingkan siang
Seperti kelelawar tersalip dipangkal pahamu
Kini cinta telah bermuka usang
Seperti terpaut antar ruang disebagian bibirmu

Kau adalah senja
Begitu kataku padamu
Penuh mega dan pilihan warna

Cukupkan aku pada senjamu
Maka tak ku kejar kelanamu

Ma…
Aku ini telah dewasa ma,
Maka Bolehlah aku menyentuh cinta

“JANGAN”
Katanya

Ma…
Bukankah cinta ini hal biasa
Bagi orang orang dewasa ma

“TIDAK”
Katanya

Ma… (aku mulai bernada tinggi)
Biarlah aku mengenalinya ma,
Sebentar saja

“PERCUMA”
Katanya

Ma… (Aku mulai menangis penuh cerca tanya)
Bolehkan aku memandangnya ma,
Sekelebat sahaja

“TAK USAH”
Katanya….

Ma… (AKU BERTERIAK)
Bukankah aku ada karna cinta ma,

“…..”
Dia berdiam, bukan tak ada jawaban


Hening,
Bening, kering
Tertera di kening
Yang semburat mencetak retak ratak beling
Maka aku kembali bercerita;
…. Seperti sediakalanya cinta
terhadap paduan suara
di bukit bukit jiwa bertemu tuhannya

Seperti sedia kala datangnya
Selalu penuh Tanya dan bara
Ku helai badan yang tak berkesudahan
Sesudah kena tersohor ribuan kesakitan


……
Rupa rupanya masa telah dewasa
Banyak cinta tercecer tidak hanya diperut orang dewasa
Bahkan menyerang bayi, balita, anak dan juga waria

(Relung relung mengandung jutaan anak
Tanpa bapak
Bahkan menginjak usia dan dewasa
Seperti sedia kalanya senja
Datang dengan cinta menilas dosa)

Cinta boleh sekali kau sua
Namun asmara siapa kira
Ia bisa saja menjelma
Atau bahkan kau diperdaya olehnya

Rupa rupanya masa telah dewasa
Kau boleh menimang bayi dewasa milik siapa saja
Atau bahkan membumbungkannya kedalam selokan tetangga
Sembari tak henti henti mencetak noda noda
Bekas darah rahim yang kau betot bayinya

Rupa rupanya masa telah dewasa dengan cinta
Perumahan, toko, apartemen semua terlapis baja cinta
Bahkan jahitan baju yang kau pakai
Adalah sulaman kain wanita wanita penuh cinta

Seperti fatamorgana
Semakin kau dekat semakin hilang rupa
Kau percaya
….
Aduh ma…
Seperti desir aku diombang ambingkan keadaan ma,
Tuhan seperti ditikam. Dibalik seprai penuh noda ma

Maka kutulislah sajak, kepada cinta bermuka muram saja ya ma…

Kepada cinta bermuka muram,
Kutitipkan sajak, dengan goresan kusam
Kearah langit, dia menengadah
Menunggu sajak, datang menjamah
Bersama dengan masa
Dimana, lembayung dan bulan tak lagi bergeming
Terseret oleh derai badai membengkalai
K’rana entah mengapa, kultur pun ikut terbawa luntur
Oleh Guntur, kepulauan sanur
 Kepada cinta bermuka suram,
Ku lukiskan sejenak, diriku yang muram
Oleh segenlintir dan onggok perbuaian
Sebab terbuai, adalah melerai
Sebab melerai, adalah menderai
Sebab menderai, adalah menjibaki
Sebab menjibaki, adalah
Arrrrghh…Semuanya basi
 Kepada cinta bermuka suram
Kutitipkan rinduku, henyak oleh temaram malam
Kutitipkan, sebuah symbol tak berlabirin
Pada cinta muram berdinding
 Kepada cinta bermuka suram,
Ku sebut dirimu, tak semenyeramkan
Dan sesakral yang ku kenal
Tumbuh jiwajiwa lain
Entah aku atau kamu yang salah
Jelas cerita, para tokoh enggan untuk mengalah
Sebab jiwajiwa lain itu
Telat usah tuk di babat
Tumbuh besar dan riang, dalam
Sanubari jiwa lain, menenangkan
 Aku tak banyak menahu,
Tibatiba saja, setelahku terbangun
Kau tikam aku, dengan cercaan pertanyaanmu
Nota kesalahan
Kau buatbuat,
atau kau diperbuat oleh perdaya
 sejak saat itulah,
jiwamu, bias dan sedikit saja tersisa
sebab kisah lama, yang tak mungkin ku melupanya
meski, jiwamu bias
dan jiwa lain, mulai kutangkap menghempas

Aduh ma…
Akupun mulai malas bercerita tentangnya,
Ku sudahi saja ya ma…



Khartoum, 14 Sept 2012
Read More...

TERKILIR


Aku terkilir,
Deras air mengalir
Menyemai rupa racun bias anyir
Menetas anak pinak
Menindas gagal pinak kita dengan bringas;
Keadaan perlahan membusuk

Mencongkak buaian malam tanpa bintang
Seraya menambah deadoran
Menepis bauBau basin
Yang tumbuh di SelaSela perhelakan

Aku yang desau,
Kau seretku tuk merisau
Melelapkan lengah lenguhku bergalau
Bersamamu yang terus sejak daritadi tak henti mengigau mericau

Saudara,
Saudari.
Retaskan semua terbenak dalam sanubari….
Retaskan…
Retaskan…
Retaskan…

Pentaskan, kemudian tunjukan.
Tunjukan, kemudian serahkan.
Apa itu kesalahan ataukah hanya anggapan
Tentang henyak hilir hulu perhelakan semata.

Malam,
Kelam
Diam
kemanakah bintang bertebaran
Saat bencana menyapa?
Bertebaran anaiAnai bak memuai
Melepas lengan dan omongan
Seraya melepas janjiJanji kesejahteraan.
Meretas bias, terpatok di kepala congkak.
Terkilir mungkur di ujung otak otak kufur
terkilir diujung mulut yang mungkur
bersama puluhan calon dewan yang gugur

Read More...

SAJAK SEBELUM SENJA

Muhammad Tajul Mafachir

Masih saja kita, Enggan bertanya siapa mengenai apa
Atau tentang bagaimana dan dimana
Ketika kutemu diri muram, lapuk larut dalam kecubung kerinduan sebelum datang senja

Dan kutemukan dari arah langit timur, kerumunan seperti sejenis burung burung hitam
Yang Nampak hijrah sebab silih bergantinya musim
Disela sela suara keramaian muda mudi menyambut malam,
Menghilir mudik kerumah perasingan menuju kelam.
Kudengar suara tuhan diperdengarkan
Keluar nyaring dari arah mercusuar tinggi dari barat
Ku sapu pandang, kutemukan sumber suara itu penuh sarat
Hingga saat kudengar, kuberi ia sedikit jeda dalam dalam
Bersama makna yang masuk ke dalam lorong lorong pertokoan, perumahan dan segenap pemukiman
Hingga ia merubahnya menjadi makna makna, yang kemudian tersapu kegelapan, kegelapan.
Ya, makna makna yang tersapu kepentingan.
Seperti kata Sitok Srengenge: ‘Ada banyak Nisan Kesepian’

Ah,
Ternyata aku ini, asap ternyata
Ternyata aku ini, kering ternyata
Ternyata aku ini, keriput ternyata
Dan
Ternyata aku ini, Galau ternyata

Oleh kerna aku ini asap, ingin sesekali kau jauhkan aku dari pengap
Oleh kerna aku ini kering, ingin sekali saja kau tuangkan sedikit air bening
Oleh kerna aku ini keriput, berharap kau oles mukaku dengan obat pengawet pesona
Dan oleh kerna aku ini Galau, maka jauhkanlah aku dari risau.

Masih saja kira, kita enggan bertanya kepada hati yang sunyi
Atau bahkan, kita lupa arah datang dan kapan sunyi bisa kita temui

Disini,
Didalam hati dan jiwa yang teramat tuli
Aku mengasingkan diri disebelah senja berpamit diri
Berharap melepas hati dari kasak kusuk dunia kuharap

Tapi, apanya yang berharap melepas hati dari kasak kusuk duniawi
Diseberang sana masih saja mata kepalaku menyaksikan
Hamudi hamudi berkelahi berebut air comberan
Oleh mataku, aku menyaksikan ibu muda membunuh bayi yang baru dilahirkanya,
Lalu Menghanyutkanya kedalam selokan
Oleh mataku, aku menyaksikan para tukang gadai iman
Berjalan menyusur jalan merampok, merampas, membunuh atas nama kebenaran
Oleh mataku, aku menyaksikan Oleh mataku, aku menyaksikan banyak ibu tua menanak nasi hanya dalam mimpi
Oleh mataku, aku menyaksikan dipinggir jalan seorang anak muda menampar pipi ibunya karena berebut sepotong roti yang hampir kering
Oleh mataku, aku menyaksikan seorang perawan menjual kelamin kepada tukang gadai tanah dan rumah
Oleh mataku, aku menyaksikan seorang supir bajai berkata dusta dan sumpah ditengah terik mentari yang menyerapah
Oleh mataku, Aku menyaksikan peraaaaaaaaaaaang saudara selalu tak henti tuk terhelakan.
Oleh mataku, aku menyaksikan segolongan menyerang, mengintai, mencaci, menyumpah, dan merapal mantra untuk kegelapan segolongan yang lain
Oleh mataku, itulah yang aku saksikan dalam bulan bulan dekat ini,
Di bulan sebelum senja berpamit diri.
 Entah apa yang kau rasakan.

Aku tak tahu,
Juga tak mau tahu.
Sebab, yang aku tahu dari hari ke hari makin jauh kita mendaki
Semakin jauh jarak hari dan hati

Aku tak tahu,
Juga tak mahu tahu kemana arah hati menemu diri.
Kemana hendak diri menjumpa hati
Atau bahkan, sekedar harap tuhan bersimpati.

Hingga,
Dibawah gelap luang kamarmu aku melolong
Bercumbu diantara sepi dan bimbang
Serta rasa was was yang menyimpang
Aku berharap, sejak kutulis dan kubaca sajak ini
Aku selalu tergerak, dan bergerak dalam gerakan gerakan pengabdian
Aku berharap, Sejak detik ku tulis dan ku baca sajak ini
Kita selalu mawas dan menemu diri
Menyemai setiap kerlip kerling kenangan tentang keharibaan
Menyusur tiap rongga romansa atas nama cinta, kemesraan dan kebersamaan

Ya tuhan,
Disini, Aku menyeka diri
Menghantar diri menuju kelana malamMu
Berserah diri atas diri
Mengakui keakuanMU
Kulayangkan sekilas doa untuk tuan dari segala tuan yang begini bunyinya;


Oh, tuhan….
Jika memang aku comberan, tolong biar orang orang itu basuhkan tangan
Oh, tuhan….
Jika memang aku keset, biarlah mereka meninjak tengkuku yang rukuk membungkuk berharap kamu masyuk dalam khusyuk.
Oh tuhan….
Jika memang aku cuaca, jangan buat mereka salah membaca
Oh tuhan….
Jika memang aku Kaca, Buatlah mereka seolah riang didepan mata
Oh tuhan…
Jika memang aku ini Kirik, aku berharap selalu mereka dalam keadaan baik baik
Oh tuhan…
Jika memang aku ini manusia, jangan kau cabut kemanusiaanku sampai di stasiun kota itu

Oh tuhan,
Aku mewakili para penggemarmu disini, ingin berkoalisi, bermunajat mengharap kebaikan atas bulan ini. Dimana kau haramkan kehalalan yang selama ini kami lalaikan untuk kami syukuri.
Dibulan ini, aku mewakili para pecintamu selaku hamba yang berharap masih senantiasa kau kasihi. Izinkan kami melewati bulan ini, tanpa noda dan hapuslah dosa di hati.
Disini !
Read More...

HATI ; AKU

Dimana dan kapan pun hati melaju 
Disitu masih selalu aku; mengaku aku 


Khartoum, 17 juli 2012
Read More...

Angin

Angin,
Banyak pertanyaan mengenainya.
'Seperti, darimana arah datangnya?
Hendak kemana ia akan bergulir berjalan?
Apakah selalu ia lewati lorong lorong kosong,
dalam jiwa dan hati yang rapuh?'
Seolah pertanyaan itu bergelinyut tanpa sadar,
terpeta dalam daftar

Angin, 
yang kemudian tanpa sadar aku harapkan
menitip salam rindu yang membentang ribuan mil jarak peraduan
Kuharapkan dia datang, membawa pesan yang selalu mengejutkanku;
Tentang kamu.

Angin, 
Selalu saja senantiasa kurindukan, pada pukul lewat tengah malam
berharap datang dan menemaniku untuk bertamu dengan tuhan
atau,
Sekedar menyejuk hati yang gerah hiruk pikuk dunia terkutuk

Begitulah Angin yang selalu  terselimuti misteri,
Menarik untuk kita diam saja dan merasakan
apa Yang sedang ia kejutkan untuk kita rasakan
Itulah mengapa, Selalu ia buat aku dalam ketegangan,
saat malamku terlewatkan tanpa angin dan hembusan.

Jawab angin,
'Seperti rindu,
dimata cinta yang syahdu'
Read More...

MELUMER

...
Pernah kah dirimu, dengan tibaTiba pada sebuah ketika
tibaTiba saja merasa rindu, benci dan saling beradu
seraya hatimu seolah sedang senantiasa menoktak sebuah lukisan
yang bahkan, kamu sendiri pun tak menahu apa itu maknanya.

Pernah kah suatu ketika kau beradu seperti itu, sayangku?
Dengan secara tibaTiba merasa rindu yang sangat
Mengertap pada kenangan menumpuk dan saling melindap
Bak menidurkan putri kesiur yang lama telah tertidur

Bahkan ketika kamu kelak atau aku terbangun,
Aku tak yakin siapa kelak akan mampu mengeja
Setiap ejaan yang ku sorot di setiap bentuk huruf tak bersukhruf itu
Apa mungkin kamu, sayangku?

Seperti hati sedang berharap kesempatan untuk berteriak
Namun apalah daya hati, sedang kalut tak beriak
Seperti jiwa ini, sedang sendu merindu rindu
Namun apalah daya jiwa, sedang mengasing di ruang pengap gelap mengerjap

Pernahkah engkau, sayang?
Suatu saat menangis, dan bahkan untuk sekedar mengeluarkan airmata,
Kamu tak sanggup melakukannya….
Atau bahkan kau sangat rindu, dan namun tetapi untuk sekedar berucap
‘aku rindu kamu’, pun kau tak ada daya mengecap.

pernahkah engkau mericau,
sembari menggigil sambil bugil?
Kemudian mericau kalam menuju kelam
Hingga hatimu desau ke pelataran risau
Yang serta entah mengapa, airmata ikut melumer
Menganak di tepian danau dimana kita sering beradu malu

Pernahkah benakmu sentuh benakku disela kesibukanmu
Atau hati yang terus menerus kau hujani dengan caci ini
Sesekali kangen, pengen bersenggama dalam mimpi.
Alirkan desahan rindu yang sedari tadi menggumpal di nadi.
Read More...

RINDU BERADU


rebah rasaku bertahan di pundakmu
melolong didera pekik rasa tertahan
aku berdiri di tanah ragamu
Menghitung keringatmu
mengatup kembali inginku,
untuk meninggalkanmu
yang murung rupa saat ku sendu
;
jalanku digilas rindu

aq mencibir luka mu yang sedari kemarin kau selalu keluhkan...
atas dasar apa kau itu berkeluh...
tapi peluhmu sudah cukup isyaratkan pesonaku padamu di ujung bibirku...
untuk meninggalkanmu
yang murung rupa saat ku sendu
sembari ku menghitung peluh
risih melihatmu resah ku ukir resah yang rusuh di sajak rindumu..
terdakwa satu kata
KAMU
;
Rindu

rindu yang meluluhkan setiap terkam cerita sendu dimasa lalu,
 bersamamu

…….. aku menyapamu, sayang...
aku menyapamu sayang,
disetiap kerlinang airmata yang kau tawarkan 
………………………………………………………………….di setiap jatuh kalam,aku diam memandangmu, sayang..
.
.
.
rinduku tergantung di langit2 malam 
diiringi puisian malaikat malam 

aq ambil sebilah pedang...
ku hunus langit malam...
merebahkan bintang untuk di kecup kelam...
kamu hilang di jiwaku...
 ; rindu

lihat dan kulihat, bagaimana rindu menidurkan ibuku. yang terseok.
 lalu menderukan seruan berperang,
 untuk petinggiPetinggi yang kusebut binatang. Yang
 kemudian, henyak menetaskan harapan hampa tanpa peluang

dalam diam
terlafalkan bahasaan rasa
aku beralih bungkam
menggumam resah menahan desah
kesah merindumu
yang aku tak mengerti apakah itu apa?
kepada siapa untuk apa..??
mencolek desah yang kau tumpahkan di sela sela.... ahh..
;
kenangan saat menidurimu

*/tibaTiba menhanyutkanku, pada sekisahan kerinduan yang mendalam
serindu aku pada kedua buah bibirmu
yang mengatup saat ku cium
dan menganga saat ku tak bersua.
yang tak mungkin kulukiskan luka pada luka,
pada rindu yang tak berpaduka

dan tak mungkin ku keluhkan luka pada luka pula... katanya apa...??

adakah rindu mengulum waktu? 
Tanya rindu

bersandar pelepah pisang ku gantungan itu rasa;
melibas pesona di bibir senja...
bersama malam kau terkulai, bersamaan
dengan datang senja dan malam tiba
bersama saat kita tergolek di bibir senja?
aku kenang malam saat pekik gila menyerapah

hei....rindu memasung kepalaku 



ADUUUH
mengaduh pada rindu yang lusuh
sakit jiwaku rindu

ku ikat kenang dengan setumpuk temali hati
biar rindu ku jejalkan asal di nadi
biar ku dakwanya menghuni hati
aku rindu

aku rindu, saat bibirku bersmpuh di kolong harammu
sejak saat kau golek kan dirimu di ujung rapuhku...
aku rindu belulangku runtuh di egoisan lelakimu
menghujam geram hingga luntur bersimpuh di selangkangan...
menunggu geram, saat lelakonmu ku terkam;
rindui tidurmu di puncak malam
bersama tiga tubuh tiga rasa... tiga kelamin...
juga jejak jejak merah yang dipahatkan

aq merindumu…
pada sepasang dua buah mata indahmu 

juga jejak jejak merah yang dipahatkan
pada sepoian angin yang jlalatan,
kuulangi lagi jilatan demi jilatan
biar orang tahu bahwa aku blangsatan
lelah sudah kau pahatkankan di ujung wajahmu...
;
rindu

sudah... biarkan kami mengeja celah rindu kami...ini...
di wajahmu terukir jelas bahasa lelah...
aku berhenti
menjejalkan desah
menatap langit2 merah
tapi kami... di langit kami pandang cerah...


 karena serpihan rindumu...
yang mangap...

hingga jatuh...
rapuh
runtuh
kunyuh
lusuh
renyuh
diserpihan peluh
menyibak cinta yang di hirup rusuh 

  rindu,
   sendu,
     padu.

untuk kata rindu
;
merindukanmu
aku hanya butuh menidurimu
;
menutup kelam lubang kelaminmu
cik





@Lilik Soedirman
@el Syaukani Senqal
@m Tajul Mafachir
Threesome

 22.14 pm 
Surabaya, Jakarta, Khartoum
18 april 2012

Read More...

GALAU;JALING JALANG


sabtu malam
ku jemput di persimpangan jalan
dengan parodi jalanan galau di malam minggu
bukan waktu yang pas kukira

galau di ujung surau
bersama kata yang jatuh menjadi doa
aq hinggap,
dan...

saat ku bangun,
kutemukan dirimu yang terkulai lemas tak berdaya.
sebab entah kerana apa, kau atau aku sedang terperdaya
atau kita samasama terperdaya
atau satu sama lain sayang memeperdaya
hingga pupus sudah rona mawar sore itu,
hilang musna aromanya, saat hendak kusibak kemerlip indahnya
Padahal...

aku mencintaimu.

bisikmu mengaburkan sadar yang tertimang semalaman.
lalu kemudian gagahan lenganmu menjuntai tanpa arah.
menaklukkan irama yang lama terabaikan.
menyanggul nyeri tertahan di pelataran 
selebihnya, tinggal reruntuhan berkaca air mata
mendengus kesal karena hilang dan aku terperdaya

bukan kah kau itu jalang??
yang di tendang bersama nyanyian sang dalang bukankah kau itu hilang??
yang terselip di sesaknya lagu sumbang
 ...............................................

bahkan beberapa bibir mencibir aku pun...
ahhh......
dan jalang bukan hanyaku saja kau penjalangan berhulu darimu
lalu mengalir bebas menujuku

oooh, sayang...

sepi,
sore,
ijen
kangen....
Dimanakah dirimu, rindu...
; hendak kemana?
"ke alam baka".....
istana tanpa nama
penuh noda
;
cinta

Usahaku siasia semata,
Mengetuk mu hampir mati; Nurani
Jubelimu dengan cerca mesra Sebagai manusia dari kota; sapa

Menyerapah mantra serapahan .
.
.
.
bersama cinta yang kau jalangkan





Threesome
@Lilik Soedirman
@El Syaukany Senqal
@M Tajul Mafachir


14 April 2012
Surabaya, Jakarta, Khartoum.
Read More...
 photo Joel2_zps6bff29b6.jpg