SELAMAT DATANG
Showing posts with label Seperti Puisi. Show all posts
Showing posts with label Seperti Puisi. Show all posts

Let, Pamplet Latah


Wahai pemuda,
Perang mengkabut di langit
Mengabur gelapkan mata dan akal sehat kita
Orang – orang ke tujuan entah kemana
Berkendara dengan apa saja

Lembaga berkedok apa saja
Menjamur dari kota ke pelosok pelosok desa
Menjelontorkan program – program yang justru bikin kita kelaparan

Agama hanya ditafsir hayati oleh orang – orang miskin dan kelaparan.
Kita punya jutaan alasan untuk antipati menjalankan perintahnya
Kerna seringkali kita dicekok tafsir – tafsir yang menebar kebencian

Oo, juga media oh media
yang semakin menjadi tuhan dan peradilan
menjajah pikiran, Menggoyahkan pijakan
bikin tiap kali membacanya, aku pingin nyimeng dan mabok saja

sambil bertanya – tanya, dimana kalian berada?

Ingat kah masa, ketika kita berani berkata:
Inggris kita linggis, Amerika kita setrika, Jepang kita tendang,
Belanda kita hampir kalahkan ?

Ayo, aku bersumpah, demi diriku yang tak lebih suci dari babi
Mengajak kalian berdiri, meneriakan yang tak sekedar reformasi
Tetapi revolusi yang kita kemas sendiri, yang menjadikan kita abadi
Yang kita impor dari diktat – diktat perjalanan nasionalisme, kemanusiaan dan bisikan alam

Kita berjanji, tidak takut mati sebab kelaparan
Karena otak, pikiran, juga cara pandang kita
Sudah kita netralisir dengan angan – angan panjang masa depan

Kita perangi opini media yang menjadikan kita industry
Kita sebar pamphlet tegas, bahwa faktanya begini
Perusahaan – perusahaan asing harus kita rebut dan kelola sendiri
Kekayaan alam kita gali tanpa lupa kita lestarikan

Lalu Kita jadikan falsafah agama sebagai pijakan hukum tertinggi,
Lebih tinggi dari pencapaian dan gelar akademisi
Lebih etik dari janji politik
Lebih jantan dari jabatan dan kekuasaan
Lebih tinggi dari kepentingan pribadi
Lebih dewa dari perwira

Ayo, aku bersumpah, demi diriku yang tak lebih suci dari babi
Mari kita pelajari potensi alam kita, dan mensyukurinya sebagai anugrah
Lalu Kita kelola anugrah menjadi rahmah


Mari belajar,
Tetapi jika sudah pintar dan bergelar
Jangan Kau merasa jadi paling manusia
Lalu kau anggap sekitarmu kurang manusia

Ayo, aku bersumpah, demi diriku yang tak lebih suci dari babi
Percayalah kepada tanah dan air sendiri.
Pulanglah ke pangkuan ibu pertiwi
Ribuan hectare hutan kita masih lebat,
Tanah – tanah kita masih subur
Gunung, lautan dan batu-batu perawan
Merindui kita, menggerak kepak kan tangan

O pemuda, percayalah kita keturunan konglomerat dunia
Mari kita beli obat anti minder, obat anti rasa takut,
 obat anti gelisah, obat anti ingin terus disembah

karena rumus bernasionalis kita adalah menjadikan tanah air sebagai panggilan
Nasionalis kita bukan melulu optimisme buta,
Bukan melulu rasa bangga yang kita bunga – bunga
Tetapi juga tentang keprihatinan, dan kecemasan
Semua nya itu kita sadari sebagai rasa pertanda ikut memiliki
Kita musti sadar bahwa tanah air memang bukan selintas sejarah dan sepotong geografi

aku bersumpah, demi diriku yang tak lebih suci dari babi
Aku tulis sajak ini dengan latah,
Sebab melulu tiap hari kita dijajah



Khartoum, 8 November 13

Read More...

Hati yang Aneh



Hati yang berada diantara tulang igaku garib
ia memanggil seseorang yang tak menjawab
hari hari berselimut wabah, bencana
yang mencoba membunuh rindu dan nestapa

ia membawa bencana kepadaku
semenjak hatiku ingin mengikatmu
jika semua orang punya hati sepertiku
akan ku lepas kau, tak kuinginkan wujudmu



Layla-Majnun
Halaman 30, Dar-kutub Arabi
Read More...

Nyanyian Babu



Diantara gelap, kau datang menyelinap
ketika bahkan kau datang bersama senyap
aku sudah tak mampu berdiri tegap
Sebab kau buat aku meranap

Kau suruh aku mengukir doa, katamu
"doakan aku, akan berdikari", 
diantara kubus hitam yang kau tak lagi merupa
kau ingin aku menjadi anoa, 
:tertinggal sampan dan jadwal layar ke kota

Kau adalah kelabu, diantara semu
Kita adalah babu, dikawal serdadu
diimpor dari keterasingan, oleh tanah kelahiran
kemudian melahirkan anak babu yang ambreng-ambrengan

Itulah sebab mengapa seringkali logika dan akal sehat
seperti mengasiri sendiri. ditengah pongahnya negri.
Juga kenapa bertebaran orang orang jahat,
kerna seringkali dijepit dan kau terus jejal beban berat

oh, kau...
sayangku, yang tak mau kumadu
yang juga tak mau ku ganggu

oh, kau...
sayangku, yang selalu mengekspor beledu
sampai kenegri tirai bambu

datanglah kemari, reguk dan jenguk nasib babubabu



Khartoum, 2013
Read More...

Bulanan Malam


:Bulanan Malam

Malam, aku ingin  kau seperti malam
hingga petang kau tetap sewangi nilam
Biar senja jauh tinggal menyurukkan
Bagiku mencintaimu tak mengenal riskan

Bulan, aku ingin kau seperti bulan
bersanding dengan gelap dan malam
meski kau bilang kita tak sejalan
aku menunggumu menjadi alam


Khartoum, Maret 2013
Joel
Read More...

CREPUSCOLO


: Muhammad Tajul Mafachir

Di balik cahya bohlam ini
Pancaran sinar kuningnya berubah merah
Merekah, seperti lepuh timah
Terpukau panas api
Menyala mataku disebagian wajah
Tawajjuhmu disebilah dada
Menjadi mashdar tafakkurku

“crepuscolo”
TibaTiba Luigi Vietti berbisik
Menghadang ketinggian
Sebahu menempel dada
Tepat mengenai telinga
Di sebuah pastoran Tua

“crepuscolo”
Dia Menghilang seperti ditelan Usia,
Katanya. Itu urusan Dunia
Namun saku baju dan celananya tak
Kunjung juga penuh dan runtuh

“crepuscolo”
Katanya sambil meraba hari,
Menanyaiku mengenai apa warnanya sore ini.
Sambil menanyaiku pertanyaan mengenai dan tentang kerinduannya padaku
Sambil terus melambaikan tangan menjauhiku

Ah, “crepuscolo”
Terkadang aku benar Benar ingin membunuhmu
Di valentine februari nanti.
Menikam hatimu dari jauh
Memotong anggota tubuhmu
Menjadi  4 bagian
Pas, 2 saku celana kanan dan kiri
Pas, 2 saku baju kanan dan kiri

Upz,

“crepuscolo”
Mari menepi,
Kutunjukan peti mati
“quando hai seguito, Lin?”



Khartoum, 29 Oktober 2012
Read More...

KUDAPAN MALAM




: Muhammad Tajul Mafachir


Matamu, bulat bohlam
Telingamu, kupandang tak berkesudahan
alismu, selebat hutan
senyummu, menghentikan angin
;sejuk dan dingin
Kulitmu, adonan tepung dan kuning telur
gigimu, berderet biji biji Jagung
Dipandu bibirmu yang tak kenal murung

Ntah,
jika kelak suaramu kau perdengarkan
ah,
Mungkin seperti alunan Qur'an yang dikasetkan.




Kerna kau PAGI,
Bergegaslah Menemuiku.

Khartoum, 29 Oktober 2012
Read More...

Mengingatmu


Untuk Mu 


Inginku menebas batasBatas
Biar kulit tak tersayat kelupas
Inginku meniupkan kapasKapas
Agar tak perlu darah menderaas

Kilau pisaumu
menusuk masuk kanji waktuku
bersama peta wajahmu
yang ku ukir tepat dijantung kiri ku



TahunTahun Berubah syahdu
Tak ada sedikit kabar darimu
Seperti mati
tertikam landep Bayonet
yang mencabik pecah otak
jiwa emas mu

Menebas batasBatas itu,
seperti capung
Terbang tak terlalu tinggi mengitari hulu
Namun sampai ke Jantung

...
Kau sentuh awanAwan; hingga lupa menghirup udara
kemanusiaan
Bertebaran kemudian
Semoga kau ingat arah menuju pulang
jangan
tersesat diruang berpintu dan alangAlang





Khartoum, 12 Sept 2012
Read More...

MATI di Angka Sepuluh


satu dua, kota pernah kita
berjumpa merapat senja
Dua tiga, hari pernah kita
bermalam Di rumah tanpa cahya
empat lima, Kali pernah kita
duduk bersama merantai jiwa
Enam tujuh, waktu pernah kita
menjojoh kalis mata batin sesama
delapan sembilan, mata kita pernah
sama sama terperangkap getar asmara
sepuluh... Angka dimana kita runtuh
di masa kita belum,
bahkan tetapi, api api bertepi
dan mimpi mimpi jatuh
kedalam pusara bumi

MATI




Khartoum, 11 Oktober 2012
Read More...

Ma... CINTA ITU Ma, BUKAN


Kini malam mengasingkan siang
Seperti kelelawar tersalip dipangkal pahamu
Kini cinta telah bermuka usang
Seperti terpaut antar ruang disebagian bibirmu

Kau adalah senja
Begitu kataku padamu
Penuh mega dan pilihan warna

Cukupkan aku pada senjamu
Maka tak ku kejar kelanamu

Ma…
Aku ini telah dewasa ma,
Maka Bolehlah aku menyentuh cinta

“JANGAN”
Katanya

Ma…
Bukankah cinta ini hal biasa
Bagi orang orang dewasa ma

“TIDAK”
Katanya

Ma… (aku mulai bernada tinggi)
Biarlah aku mengenalinya ma,
Sebentar saja

“PERCUMA”
Katanya

Ma… (Aku mulai menangis penuh cerca tanya)
Bolehkan aku memandangnya ma,
Sekelebat sahaja

“TAK USAH”
Katanya….

Ma… (AKU BERTERIAK)
Bukankah aku ada karna cinta ma,

“…..”
Dia berdiam, bukan tak ada jawaban


Hening,
Bening, kering
Tertera di kening
Yang semburat mencetak retak ratak beling
Maka aku kembali bercerita;
…. Seperti sediakalanya cinta
terhadap paduan suara
di bukit bukit jiwa bertemu tuhannya

Seperti sedia kala datangnya
Selalu penuh Tanya dan bara
Ku helai badan yang tak berkesudahan
Sesudah kena tersohor ribuan kesakitan


……
Rupa rupanya masa telah dewasa
Banyak cinta tercecer tidak hanya diperut orang dewasa
Bahkan menyerang bayi, balita, anak dan juga waria

(Relung relung mengandung jutaan anak
Tanpa bapak
Bahkan menginjak usia dan dewasa
Seperti sedia kalanya senja
Datang dengan cinta menilas dosa)

Cinta boleh sekali kau sua
Namun asmara siapa kira
Ia bisa saja menjelma
Atau bahkan kau diperdaya olehnya

Rupa rupanya masa telah dewasa
Kau boleh menimang bayi dewasa milik siapa saja
Atau bahkan membumbungkannya kedalam selokan tetangga
Sembari tak henti henti mencetak noda noda
Bekas darah rahim yang kau betot bayinya

Rupa rupanya masa telah dewasa dengan cinta
Perumahan, toko, apartemen semua terlapis baja cinta
Bahkan jahitan baju yang kau pakai
Adalah sulaman kain wanita wanita penuh cinta

Seperti fatamorgana
Semakin kau dekat semakin hilang rupa
Kau percaya
….
Aduh ma…
Seperti desir aku diombang ambingkan keadaan ma,
Tuhan seperti ditikam. Dibalik seprai penuh noda ma

Maka kutulislah sajak, kepada cinta bermuka muram saja ya ma…

Kepada cinta bermuka muram,
Kutitipkan sajak, dengan goresan kusam
Kearah langit, dia menengadah
Menunggu sajak, datang menjamah
Bersama dengan masa
Dimana, lembayung dan bulan tak lagi bergeming
Terseret oleh derai badai membengkalai
K’rana entah mengapa, kultur pun ikut terbawa luntur
Oleh Guntur, kepulauan sanur
 Kepada cinta bermuka suram,
Ku lukiskan sejenak, diriku yang muram
Oleh segenlintir dan onggok perbuaian
Sebab terbuai, adalah melerai
Sebab melerai, adalah menderai
Sebab menderai, adalah menjibaki
Sebab menjibaki, adalah
Arrrrghh…Semuanya basi
 Kepada cinta bermuka suram
Kutitipkan rinduku, henyak oleh temaram malam
Kutitipkan, sebuah symbol tak berlabirin
Pada cinta muram berdinding
 Kepada cinta bermuka suram,
Ku sebut dirimu, tak semenyeramkan
Dan sesakral yang ku kenal
Tumbuh jiwajiwa lain
Entah aku atau kamu yang salah
Jelas cerita, para tokoh enggan untuk mengalah
Sebab jiwajiwa lain itu
Telat usah tuk di babat
Tumbuh besar dan riang, dalam
Sanubari jiwa lain, menenangkan
 Aku tak banyak menahu,
Tibatiba saja, setelahku terbangun
Kau tikam aku, dengan cercaan pertanyaanmu
Nota kesalahan
Kau buatbuat,
atau kau diperbuat oleh perdaya
 sejak saat itulah,
jiwamu, bias dan sedikit saja tersisa
sebab kisah lama, yang tak mungkin ku melupanya
meski, jiwamu bias
dan jiwa lain, mulai kutangkap menghempas

Aduh ma…
Akupun mulai malas bercerita tentangnya,
Ku sudahi saja ya ma…



Khartoum, 14 Sept 2012
Read More...

Kunang-Kunang Terkenang

Kunang menjauh lelah dan pulang
Cukupkan diri, kuatkan hati
Berjalan kembali, merapat padi
;
Kunang Kunang menjauh kenang-kenangan
atau
Kunang menjauhlah untuk kukenang




Khartoum, 5 July 2012
Read More...

Di Sini Pernah Kuputar Kenangan

Di Pare Pernah KuPutar Kenangan
~Muhammad Tajul Mafachir

Di kafe itu, pernah bersamamu
Meneguk kenangan terindahku
Dua porsi hati dan Segelas Janji 
; Gubuk anggur ungu
Hati Gugur bunga jatuh untukmu

#

Segelas anggur ku teguk bersama hilir ku angin mendayu
sepoi ku semai ku rupa baku dalam dadaku
Saatku rapatkan diri, menyendiri dari hati sepi
; ada kamu disini, disisi

#

Hiruk pikuk kota itu, Menghantarkan kita pada sebuah pelataran keramaian
Menghantar sumber suara mercusuar menyorot sinar
Engkau ku Gendong, terbopong dalam peluk mesra semalaman
Ku elus rambutmu, Ku basahi, Kering Ku basahi kembali.... Hingga kesurupan pijar
;Semalaman Bermain Kepekaan

.....

Pagi Menjelang padang bersama cahya tak berwarna
Namun Senantiasa masih Musik kuBaca.
Dari satu Demi satu huruf yang tertulis
;
Singgah ku padamu, seperti batu bulatBulat kutelan tanpa rasa
BatuBatu itulah cinta
Manis
Meski telinga yang berkerja

Disini
Dihati yang senantiasa Sunyi tersuguhi
Aku menantimu Memutar Memoar Muda Mudi





Khartoum, 26 Juni 2012

Read More...

Dalam Kenangan di Kota Ini

Akan terkubur berjuta kenangan,
Mencair, seperti angan
Hayalan, Harapan. Kemudian bahkan pencaharian
Di Kota ini, hendak ku kubur berjuta kenangan

Khartoum, 22 Juni 2012
Read More...

Di Pelabuhan

Di pelabuhan
aku melihat dirimu meraba senja
; airmata yang berkaca kaca
Meratap sisa jumpa
 




Khartoum, 22 June 2012
Read More...

NUSAIBAH

Pada pertengahan musim dibelukar liar,
tiba tiba aku menerima tikaman pada sekujur tubuhku.
Mendengar kabar dirimu yang tertikam 12 kali tusukan
di punggung saat sedang ruku’: berserah diri melindungi nabi

Khartoum, 10 Juni 2012
Read More...

HATI ; AKU

Dimana dan kapan pun hati melaju 
Disitu masih selalu aku; mengaku aku 


Khartoum, 17 juli 2012
Read More...

Hati Cinta, Jiwa Rindu

Cawan untuk kau jatuhkan
kemana pilihan,
disitu kau ditawan;Hati

Rongga terjaga
senantiasa terbuka;Jiwa

Ruang kedekatan
Rindu selalu kau kunjungi
Melebur rasa; Cinta

Meraung
Segarang srigala lapar
terkapar, berharap
selalu ada kamu menemu;Rindu
Read More...

Angin

Angin,
Banyak pertanyaan mengenainya.
'Seperti, darimana arah datangnya?
Hendak kemana ia akan bergulir berjalan?
Apakah selalu ia lewati lorong lorong kosong,
dalam jiwa dan hati yang rapuh?'
Seolah pertanyaan itu bergelinyut tanpa sadar,
terpeta dalam daftar

Angin, 
yang kemudian tanpa sadar aku harapkan
menitip salam rindu yang membentang ribuan mil jarak peraduan
Kuharapkan dia datang, membawa pesan yang selalu mengejutkanku;
Tentang kamu.

Angin, 
Selalu saja senantiasa kurindukan, pada pukul lewat tengah malam
berharap datang dan menemaniku untuk bertamu dengan tuhan
atau,
Sekedar menyejuk hati yang gerah hiruk pikuk dunia terkutuk

Begitulah Angin yang selalu  terselimuti misteri,
Menarik untuk kita diam saja dan merasakan
apa Yang sedang ia kejutkan untuk kita rasakan
Itulah mengapa, Selalu ia buat aku dalam ketegangan,
saat malamku terlewatkan tanpa angin dan hembusan.

Jawab angin,
'Seperti rindu,
dimata cinta yang syahdu'
Read More...

Aku tak Mahu Tahu

Kisana,
Kemana arah kembang mawar hendak mengembang?
jika saja bulan yang kuTunggu, tak kunjung menjelang dan menyinar padang.......

Apa iya ini kehidupan nyata,
atau....
apakah saya sedang sangat diambang kebodohan jiwa.
atau....
ada jiwa lain yang memang,
bodoh ada dan rupanya.

Kawan,
Hendak kemana kakiKaki ini mengayun?
jika aku, kamu dan kita masih dan terusMenerus khusyuk tertegun apa itu,
atau... siapa kamu?
berani mengayunkan kakiku...

apa itu?
aku tak tahu, biarkan tetap menjadi parodi jiwa;
jiwaJiwa muram di ambang kesakitan, yang ampun tahan

Aku tak tahu,
dan aku tak mahu tahu.
apa itu atau tentang siapa kamu?
yang menjerat leher dan pergelangan sendiSendi vital dan ketahananku?

atau kau...
atau aku...
aku tak tahu.
Read More...

SUWUNG

Kuncup mengatup silau menyulut
Tetes embun pagi yang kemudian menghilang
Pada tengah kerlinang saat berjatuhan
Meninggalkan seolah tak pernah terjadi,
Terbias terbawa apa itu daya

Meruap asap berkali menguap
Pengap meredap derap menyadap
Kebulan api yang kemudian iri
Saat kubakar diri tanpa api;
Basahi sanubari

Mungkinkah esok tiba,
Dan aku masih pada dan tempat sedia kala?
Menatap kosong gigimu yang ompong…
Yang pada saatnya juga, aku kelak tergotong
Menuju rumah suwung nan kosong
Sembari merongyong silau kemerlip masa lalu
Mengajakku ketepian jurang merayu

Tapi aku tak mampu,
Tapi aku tak mau….

Adakah ungkapan Tanya untuk ku harap surga?
Read More...

MELUMER

...
Pernah kah dirimu, dengan tibaTiba pada sebuah ketika
tibaTiba saja merasa rindu, benci dan saling beradu
seraya hatimu seolah sedang senantiasa menoktak sebuah lukisan
yang bahkan, kamu sendiri pun tak menahu apa itu maknanya.

Pernah kah suatu ketika kau beradu seperti itu, sayangku?
Dengan secara tibaTiba merasa rindu yang sangat
Mengertap pada kenangan menumpuk dan saling melindap
Bak menidurkan putri kesiur yang lama telah tertidur

Bahkan ketika kamu kelak atau aku terbangun,
Aku tak yakin siapa kelak akan mampu mengeja
Setiap ejaan yang ku sorot di setiap bentuk huruf tak bersukhruf itu
Apa mungkin kamu, sayangku?

Seperti hati sedang berharap kesempatan untuk berteriak
Namun apalah daya hati, sedang kalut tak beriak
Seperti jiwa ini, sedang sendu merindu rindu
Namun apalah daya jiwa, sedang mengasing di ruang pengap gelap mengerjap

Pernahkah engkau, sayang?
Suatu saat menangis, dan bahkan untuk sekedar mengeluarkan airmata,
Kamu tak sanggup melakukannya….
Atau bahkan kau sangat rindu, dan namun tetapi untuk sekedar berucap
‘aku rindu kamu’, pun kau tak ada daya mengecap.

pernahkah engkau mericau,
sembari menggigil sambil bugil?
Kemudian mericau kalam menuju kelam
Hingga hatimu desau ke pelataran risau
Yang serta entah mengapa, airmata ikut melumer
Menganak di tepian danau dimana kita sering beradu malu

Pernahkah benakmu sentuh benakku disela kesibukanmu
Atau hati yang terus menerus kau hujani dengan caci ini
Sesekali kangen, pengen bersenggama dalam mimpi.
Alirkan desahan rindu yang sedari tadi menggumpal di nadi.
Read More...
 photo Joel2_zps6bff29b6.jpg