SELAMAT DATANG
Showing posts with label Seperti Lelakon. Show all posts
Showing posts with label Seperti Lelakon. Show all posts

Pidato Ala Kadarnya



Pidato Ala Kadarnya
untuk Gebyar elNilein dan Malam Apresiasi Seni 2013

Yang saya hormati Bapak Dubes RI untuk Sudan dan Eritrea, DR.Sujatmiko berserta staffnya, para hadirin baik dari pelajar, mahasiswa dan pekerja, khususnya Ketua PPMI Sudan, segenap pengurus departemen Pendidikan PPMI Sudan, serta rekan rekan saya di kepanitiaan dan lembaga Elnilein.

Disini saya tidak akan panjang lebar. karena saya hanya kebagian berdiri sebagai wakil dari panitia. Ingin menyampaikan beberapa hal yang tidak panjang, namun toh jika dianggap panjang, maka dianggap saja sekalian penampilan dari saya. 

Pertama tama saya ucapkan selamat datang di acara kita semua, malam gebyar elnilein dan apresiasi seni dan budaya.
Dengan tema “mewujudkan kemandirian bangsa melalui apresiasi seni dan budaya”

Saudara saudara, setanah air.
TjiptoMangunkusuma dan Douwes Deker mengetakan bahwa kebudayaan nasional kita tidaklah ditentukan oleh asal usul yang menyertai kelahiran budaya tersebut, namun kebudayaan nasional ditentukan oleh komitmen kita terhadap nasionalism. Oleh sebab itu, Budaya sepenuhnya milik manusia. Bukan Instansi, bukan lembaga, bukan negara -hanya mungkin yang perlu dilembagakan adalah manusia dan kepentingannya. Tentunya itu pengertian budaya dalam arti yang sebenarnya, bukan dalam kapasitas yang lebih dari itu –seperti legitimasi budaya dengan tujuan komersial. Maka bangsa lah yang harus pertama tama mengecam. 

Budaya lahir dari proses yang lama. Budaya tidak dapat dibahasakan dengan satu dua kata. kalau mungkin Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa budaya lahir dari sebuah terma, budi dan daya. maka saya lebih cenderung dengan pendapat Goenawan Mohamad, bahwa pendefinisian Budaya justru membuat alasan definisi sendiri tentang budaya itu menjadi terbatas. Karena budaya sebenarnya itu dilahirkan dari ruang waktu dan sejarah. Jadi bukanya "saya berfikir maka saya ada", tetapi "saya ada maka saya berfikir". Sebab terkadang budi itu datang sendirinya :tanpa reason. Datang dari ruang waktu dan sejarah.

Hubungan antara kebudayaan dan kesenian itu erat sekali. kalau kita melihat berbagai literatur pembicaraan mengenai seni dan kesenian. Mungkin akan sama dengan saya pada salah satu kesimpulan bahwa, Seni adalah perasaan indah seseorang melalui media kata, suara / nada, gerak maupun rupa yang mampu menarik empati bagi penikmatnya.yang ingin saya sampaikan. dengan menjadikan seni sebagai media, ia menyampaikan pesan yang belum sempat kita pahami dari budaya: sebagai peninggalan yang penuh pesan luhur dan ideologis dari pendahulu kita.  


Ada kata-kata Mark Twain yang terkenal, "When we remember we are all mad, the mysteries disappear and life stands explained." (Tatkala kita ingat bahwa kita gila, misteri dengan sendirinya menghilang dan kehidupan menjelaskan). 

kembali menegaskan kepada kita pentingnya penghayatan kita terhadap sesuatu -tidak terkecuali seni. karena bahasa seni adalah penghayatan segala arah. tentunya kita tahu aturan lama untuk menikmati sebuah karya seni adalah membuang jauh-jauh selera seni sendiri dan mulailah menikmati. karenanya akan ruwet, rancu, meski terkadang saya terheran heran sendiri, ketika seorang ideolog mulai berbicara tentang kesenian. karena Seorang ideolog  menilai sebuah karya seni  kurang-lebih sama dengan seorang fuquha yang menilai karya seni:  yang hendak ditemukan adalah apakah karya ini cocok dengan dalil atau tidak, murtad atau tidak, mengandung unsur kafir atau murni beriman. Meski selanjutnya dalam aturan berikutnya ada pakem pakem konvensional dalam kesenian itu sendiri.

kembali ke kata kata Mark Twain. tatkala diri kita mulai tersadarkan -yang salah satunya dengan penghayatan kesenian, Secara berangsur manusia akan kembali menjadi manusia, yang menyadari sepenuhnya bukan dia siapa siapa. Bahkan rela menganggap dirinya sendiri gila -tergila gila dalam banyak hal yang bukan tujuan diciptakannya manusia, yaitu dunia. Maka disanalah, Asraar Ilahiyah (rahasia ketuhanan), atau God Mysteries dibuka sebagai pintu lain dari anugrah yang diberikan allah kepada hambanya. Syahdan, kehidupan baginya akan seperti air dengan falsafi positifnya, mengalir dengan tentramnya dari hulu ke hilir. -dapat dipastikan dari situlah sebuah kemandirian mungkin bisa kita mulai bangun. Individu yang bukan hanya sadar diri, namun juga berakal budi.


Para Hadirin yang saya cintai.

sebelum terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini -KBRI, PPMI, Pertamina dan sebagainya, terkhusus untuk Bapak Dubes kita Sujatmiko, Pak Safri, Pak Edin, Pak Eri, Pak Priyambada, orang orang yang senantiasa mendorong kami untuk terus berkarya. dan secara umum  kepada seluruh warga Indonesia baik yang hadir. Terimakasih atas pastisipasinya.

saya sendiri menyadari, bahwa disana sini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. maka saya mewakili panitia meminta maaf atas kekurangan dan insyallah akan kami benahi. juga jika bahasa saya kurang bisa dipahami dan kurang teratur. mungkin ada benarnya, jika saya kurang menguasai geometri. seperti kata goenawan 
Mohamad, bahwa ilmu geometri bukan untuk menjadi insinyur, namun untuk berfikir secara logis dan teratur.



Akhir kata, saya sampaikan terimakasih dan mohon maaf bila ada kesalahan


 Khartoum, 22 Maret 2013
 Joel

Read More...

Perjalanan "Nota Kerinduan"


Sekitar dua bulan yang lalu. Saya beserta dua sahabat saya; Lilik Soedirman dan Imam Syaukani Ahmad. Berhasil membukukan karya kami yang berupa puisi dalam Antologi Puisi “Nota Kerinduan”. Awalnya adalah pertemuan saya dengan Lilik Soedirman, melalui jejaring sosial. Facebook. Dan untuk pertama kalinya, media maya seperti facebook harus saya andalkan dan percaya penuh sebagai media komunikasi. Ini merupakan pilihan terbaik diantara yang terburuk untuk memilih media jejaring sosial sebagai sarana komunikasi. Mengingat posisi saya yang kebetulan tidak berada di Indonesia. Meski kengerian Kengerian terkadang muncul, karena mitra kepercayaan saya harus di jual murah oleh jejaring sosial. Dengan harus menaruh kepercayaan penuh kepadanya.

Beberapa masa kemudian, aku yang sudah lebih dulu mengenal Imam Syaukani Ahmad. Kita pernah satu gubuk, bertemu di tempat kursus bahasa asing di Pare, Kediri. Kemudian, kita; aku dan Imam. Bertemu kembali di Jejaring sosial lagi. Untuk kemudian, kami saling bertukar pikiran dan ide. Dan sepakatlah antara saya dan Imam syaukani, yang kebetulan juga hobby menulis puisi. Untuk membukukan puisi puisi kita. Melihat semangat nya, saya bergidik untuk ikutan terbawa semangatnya. Maka, saya pun memberikan saran lagi untuk mengajak teman saya;Lilik Soedirman, untuk juga andil dalam perampunganya. Karena saya pun tahu, diantara catatan kami bertiga di jejaring sosial, lilik Soedirman lah yang paling aktif berkicau, baik di facebook, twitter, maupun Blogger.

Kerja pun dimulai. Saya menampung setiap naskah mereka, yang mereka kirimkan melalui alamat email saya maupun Inbox. Terkadang saya menjadi editor kecil kecilan, kemudian menyusunnya agar lebih elok. Tidak jarang pula, kami bertiga bertemu dalam satu ruang chatting, ntah secara kebetulan atau memang kita sudah rencanakan. Kemudian, kami buat semacam obrolan santai. Yang ujung ujungnya pasti adalah, prosesi saling tunjuk pilih salah satu diantara kita untuk membuat kata atau bait pertama sebuah puisi. yang kemudian disusul dengan yang lainnya, kemudian diselingi dengan yang lainnya. Hingga kami merasa seakan akan itu merupakan sebuah hal yang asik. bagaimana tidak, kami diharuskan memahami emosi satu sama lain. Bahkan tidak jarang pula, saya sendiri mengakui bahwa ketika saya kehabisan kata, atau kurang memahami apa yang salah satu teman saya tuliskan melalui inboxnya. Saya tidak perlu khawatir karena, besar kemungkinan akan disaut oleh teman satuku lagi. Asik , bukan?

Akhirnya terkumpul juga puisi puisi kami, dalam satu file. Yang saya susun dengan Mc Word. dan saya langsung berteriak “Wow”. Kerna saya sendiri tidak menyadari bahwa, sekian banyak yang kami kumpulkan. Ternyata sudah melebihi batas hingga 205 halaman. “wow” sekali, bagi saya saat itu.

Tanpa ba bi bu, saya bergegas mencari penerbit yang kira kira bersedia menerbitkan karya kami. ya, perlu saya ingatkan pada diri saya sendiri saat itu bahwa, menerbitkan kumpulan puisi bagi penerbit yang bersedia adalah bukanlah hal yang mudah. Saya pun berulang kali, melakukan lobby, offer, kirim naskah. Dan NIHIL.

Keseluruhan penerbit buku, pada umumnya menolak naskah kami untuk diterbitkan dengan alasan pasar. oke sih, wise juga saya pikir, jika uji kelayakannya dilakukan oleh penerbit itu sendiri. Di kemudian hari, saya dipertemukan oleh facebook juga, dengan kang Putu (Gunawan Budi Susanto) yang kemudian kami berkenalan, melakukan obrolan ringan. Sepanjang pertemanan yang kami jalin, kang Putu bagi saya adalah sosok yang santun, rendah hati, akrab sekali dan bersabar. -dibalik kebesaran beliau sebagai senior journalist, juga cerpenis dan narator. Pada akhirnya sayapun memberanikan diri untuk meminta solusi mengenai nasib naskah saya ini, dan “waw” lagi. Kang putu memberikan saran kepada saya untuk lari ke “gigih pustaka mandiri”, penerbit buku asuhan Mas Budi Maryono dengan akhirnya saya buat keputusan untuk self publishing saja. Sebagai upaya gerak cepat, karena besar pesimis saya waktu itu. Dan “waw” lagi, atas permintaan saya. Kang Putu pun bersedia membantu kami untuk juga sebagai Editor naskah kami.

Hari hari berjalan apa adanya. Naskah kami sedang dalam proses, pada bulan berikutnya. Menunggu giliran. Setidaknya setelah proses penerbitan buku kumpulan puisi Kyai Budi Harjono. Penantian kami pun akhirnya terjawab setelah sekitar 3 bulan berikutnya. Dan inilah hasilnya teman teman. Kumpulan puisi saya beserta 2 sahabat saya telah lahir. Kalau ada kesempatan, jangan lupa membacanya ya.

Pembelian bisa langsung message ke mtajulmafachir@yahoo.co.id atau kirim pesan ke saya. Oh iya, harga Rp. 35.000 (belum termasuk ongkos kirim ya).


Sumber : 


Read More...

Menyelami Puisi Alindia Fitra Joeda


Berkali kali kubaca penggalan penggalan bait ini, ku amati. kubaca kembali. ku ugemi. Ku perhati, ku pahami. Maksud dan makna sang empunya hati yang menggerakan setiap luapannya didalam kata yang seperti ini :

Tmanku, Fachir,tau kah kamu,
kalau aku bukanlah sebuah senja yang indah...
yang senantiasa setia pada mega d pergantian malam,

akuu..-Alin-
Yang hanya setetes air dari langit d saat hujan,
kamu bahkan tak mampu melihatku dari jutaan tetes lainnya yang jauh lebih nyata,

bagiku,senja...
adalah butiran atom surga yang menyublim menjadi partikel2 luar biasa
yg hanya mampu dinikmati oleh mata,

Dia terlampau hebat untuk kamu jadikan perumpamaanku,
Senja terlalu indah,
Untuk ku

Oleh : Alindia Fithria Joeda.
Mahasiswi semester IV Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya


?????

Saya sangat memahami ketika seorang penyair meluapkan isi hatinya, tak jauh dari kejanggalan - kejanggalan yang ia temui dalam realita. Sebab kebanyakan penyair yang saya temui, adalah orang orang yang memiliki respect aktiv terhadap realitas dan fakta yang sedang membenturnya. Tak kecuali dari beberapa penggalan bait yang ditulis oleh Saudari Alindia Fithri joeda ini. Merupakan perwakilan dari kegundahan. Yang tentu batasan ungkapan kata itu tak seluas kemauan hati. Saya pun paham, jika kemudian hari bahwa kata kata itu tidak kesemuanya bisa menyampaikan maksud hati -bahkan kata hanyalah sebagian media visual yang menyampaikan pesan. tidak keseluruhan. Oleh sebabnya bahasa berkategoris, kita kenal bahasa isyarat, tubuh, suara, gerak dan bahkan bahasa teriak teriak gak jelas. hehe

Sedangkan eksistensi dari sebuah puisi sendiri adalah, salah satu media dan gaya dasar seseorang penulis untuk mengungkapkan pesan yang ingin ia sampaikan. Puisi adalah salah satu pilihan diantara banyak macam media yang bisa dipilih. Baik itu tertuju kepada umum, personnal atau bahkan respecty dari sebuah upaya pembuktian -jati diri. 

Disini bisa kita lihat, kemana seorang Alindia F joeda mengarahkan pedangnya :
Tmanku, Fachir,tau kah kamu,
Tentu pernyataan itu jelas, tanpa variable yang memusingkan untuk saya (muhammad Tajul Mafachir) perlu memecahkan kepada siapa hendak penulis berpesan.
Kemudian, 

kalau aku bukanlah sebuah senja yang indah...
yang senantiasa setia pada mega d pergantian malam

Puisi adalah rangkaian kata yang merangkum pesan dengan bahasa keindahan. Keindahan puisi itu tercapai, dari kelihaian olah kata penulis. menjadi pilihan adalah, apakah dia hendak menyudutkan pemahaman dengan bahasa abstrak, vulgar atau absurd. Rupa rupa nya Alindia Fithri Joeda memilih gaya bahasa abstrak, dia memasukan personifikasi sintetis dan ritmis kedalam dua penggal deret puisinya itu. Coba kau amati, dengan Diam sejenak dan Rasakan !
Pada , Kalau aku bukanlah sebuah senja yang indah... kata kata ini, adalah kata kata indah. Dalam pengamatan dalam kapasitas saya. Alindia Fithri Joeda, seakan sedang masuk kedalam lorong lorong terdalam. Sedang membumi. untuk kemudian seraya langit ikut mengamini keindahannya. Sebab Arogansi adalah -dengan sepakat, kita musti menjada diri dan spasi, bukan? Dengan bahasan itu, Penulis membahasakan penolakan arogansi terhadap dirinya sendiri. Luar biasa.

Aku,  kalau dalam persanjakan melayu lama yang saya kenal. Istilah aku ini, lebih terproyeksi maknanya untuk menonjolkan diri. Meski sebagian lain ini adalah sarat arogansi. Namun, dengan kata aku pada 
akuu..-Alin-
Yang hanya setetes air dari langit d saat hujan,
kamu bahkan tak mampu melihatku dari jutaan tetes lainnya yang jauh lebih nyata,

Rupanya Alindia F Joeda sedang mengecoh para pembaca, dan memberikan pemahaman baru bahwa Jutru kata kata yang berkonotasi arogansi bisa menjadikan media masuk ke lembah persemayaman diri dan sunyi. Jauh meninggalkan arogansi. rendah diri adalah sesuatu yang terpuji -ini kita sadari. Pemilah pilihan kata yang kemudian menjadi pilihan kata sebelumnya juga menandakan bahwa bentuk penghayatan terhadap rasa rendah dirinya. Menggambarkannya dengan setetes air dari langin di saat hujan. Bahkan meski kau berada disetiap tetesnya, kau tetap Alin bagiku. :P

Kau bahkan tak mampu melihatku dari jutaan tetes lainnya yang jauh lebih nyata,
Kalimat ini menurut saya, pribadi adalah kalimat dari keberanian seorang Alindia F joeda dalam memerankan perannya sebagai pembaca kahanan. Ia membaca tafsir kahanan. Ia membaca kemudian seolah menyimpulkan. Ini sungguh saya anggap berani. Karena posisi 'kamu' dalam teks tersebut adalah tertuju pada satu kehidupan yang memang Alindia F Joeda sendiri belum mengetahui apakah betul si Kamu sudah meneliti jutaan tetesan dengan nyata atau belum. So, menurut saya ini merupakan sangkaan untuk sama sama mengajak berteka teki dan menyeka diri dari arogansi.

bagiku,senja...
adalah butiran atom surga yang menyublim menjadi partikel2 luar biasa
yg hanya mampu dinikmati oleh mata,

  Menggunakan, KU dalam penggalan pesan yang ia ingin sampaikan. Bahwa benar benar ini adalah murni subyektivitas -didalam penalaran dan pemahaman Alindia Fithri Joeda. Senja adalah butiran butiran atom surga yang menyublim menjadi partikel2 luar biasa. begitulah ia menebang banyak kata. Bahwa sebenarnya senja adalah pilihan dari beberapa pilihan partikel keindahan yang  kemudian menjelma bersama keindahan keindahan, hingga menghasilkan keindahan superior. yang kelak meneduhkan setiap mata. Ini ada hubungan erat dengan, kata sebelumnya dengan pernyataan salbiyyah 'penolakan' dia untuk istilah senja. Padahal bagi saya pribadi, siapapun bisa menjadi senja jika ukurannya adalah keindahan. Dan siapapun berhak menilai sesuatu atas daya imajinasinya. Sebab penilaian itu adalah reduksi daya imajinasi kepada seseorang. Maka menerima atau menolaknya adalah murni keutuhan hak obyek. 
So, Jadi berharap kau tetap senja.

well well well.

Dia terlampau hebat untuk kamu jadikan perumpamaanku,
Senja terlalu indah,
Untuk ku

dalam penggalan kata terakhir dari puisi nya itu, Alindia Fithri Joeda mengambil sudut pandah orang ketiga serba tau. (padahal Sotoy :P). Dengan menegaskan kebertahuannya melalui penegasan penegasan pada akhir larik puisinya. Lagi lagi disitu ada 'kamu', ini tentu dia juga sedang mengajak bicara seseorang. Namun yang saya baca adalah merupakan penolakan yang murni untuk meninggalkan arogansi. Yang padahal, untuk si 'kamu' atau 'kalian', 'kami' boleh menentukan penilaian bagaimana dan hendak ia arahkan kepada obyek. 

Jadi siapa itukah kamu dalam larik puisi tersebut?
Fachir, dia tulis itu pada penggalan bait pertama puisinya.
Siapa Fachir?

Menurut kepercayaan saya (kejawen :D), fachir adalah penggalan nama dari kelengkapan nama saya (penulis). Muhammad Tajul Mafachir. Mahasiswa Jur Islamic Studies di Omdurman Islamic University Sudan. Mahasiswa aneh, yang sangking anehnya. Dia hengkang dari jurusan pilihannya, hanya untuk mengejar ilmu merangkai kata. Juga sedang mengejar senja nya. Sebab senja adalah seni rupa. Dan siapaun tak akan menolak keindahannya. Bahwa didalamnya adalah nada nada dan warna. 


Khartoum, 9 Agustus 2012
Asal Asalan Nulisnya, Ditemani teka teki dan 3 kali (@3:43 Menit. 3:43 menit X 3 =???) ku ulang  lagu Anggun S, Mantra.  
Read More...

Berhentilah

Hanya terkadang, dalam sebuah ketika. Guratan kasar itu kembali muncul, sebagai busur baru. Selaksa mencari buruan baru. Menjajaki hal baru, selayak dirinya yang kulihat masih muda rupanya. Pada pecahan cermin ia berseru dengan percaya dirinya 'aku masih muda'. Euforia emosional yang sulit dibendung bagi lelaki ini. Selaksa perjalanan jarak panjang. Yang hanya sesekali berhenti untuk mengalirkan sedikit nafas segar dalam kedeguban. Bergandeng erat dengan rotasi bumi yang mengarah selaksa romansa yang tertengadah mesra. Berdandeng ria dengan gedung tua beratap nista. Kulihat, hanya ada seikat dan berikat - ikat rumah laba - laba.

Sedang menderu galau, dirinya. Lelaki itu. Menyisir halus persoalan perjalanan mudanya. "Aku masih orisinil". Demikian kata masa lalu, dirinya masih silau masa lalunya. Mengaparkan beberapa harapan, dalam kaparan embun yang menetes jarang di bumi pertiwi. Sebuah layang dharma menempuh dharma. Benderang cahaya yang meredup, oleh sipuan mimpi yang terlalu tinggi.

"PLUK". Suara itu yang pertama dia dengar, sebelum kesilauan dan rabun matanya meradang. Ia begitu hafal dengan suara gesekan itu, mengragas kelugasan lucuran sebuah kenistaan. Hanya terkadang yang ia fikirkan adalah penyesalan. Sebab masa lalunya, ia sebagai pemuda yang riang muka. Selalu ramah senyum dan bergeliat rupa dengan tawa. Kini, hanya terkadang ia memiliki hobi baru; Mengenyit kening, berpangku tangan dan meneteskan sedikit airmata. Bersama dengan liur anyirnya, ia seringkali bermain - main, menarik ulur sebuah ikatan dan janji janji yang terjajakan. menderu nafsu - nafsu liar yang masih saja menganga, meski luka semakin mendera. Ia cuek saja.

Dirinya yang semakin rabun. Tetap saja enggan mengalah pada keadaan. Bukan ia pasrah dan mengalah, Ia semakin menjadi - jadi saja dalam bertingkah. Merebahkan bayangan hitam, sedemikian rupa dalam kilat ia membayangkan. "Ini adalah penyakit hati sayang". Aku pun tahu, dia bukan sosok yang berprestasi rendahan dalam mengulang pelajaran. Ia pernah sesaat mencampurkan formula resepnya sendiri untuk orang lain, pertanyaan yang timbul adalah dia yang gila atau memang orang itu tidak menahu lebih tentang kegilaanya. Sebab ini adalah penyakit hati, selaksa dia menjajakan jajalanan yang menerjalnya. Selaksa ia berkecimpung riuh mengampun. Selayaknya. Sayang, dirinya enyah dengan dunia lurusnya. Banyak norma dan aturan yang ia bredel. Benteng Benteng itu, kurasa memmang rapuh adanya. Namun begitu, bagiku. Kecaman tetaplah menakutkan. Sebab janji Janji bukan semestinya ia mudah ingkari. Sebab janji adalah melihat pemilik janji.

"Jauh aku mengapar , terkapar"

Diantara kerumunan manusia - manusia setengah dewa. Ia mencoba bersikokoh menutup aib diri. Menjibak perasaan was - was tirani. Semakin dia asik tertidur, dan nyenyak dengan lelapnya. Tanpa sadar, semakin ia akan berat berdiri dan kembali. Menempuh jalan Moksa yang ia inginkan. Memulai terkadang dan sering kali lebih sulit daripada harus mengakhiri. Sebab, bisa saja kita enggan membunuh benteng - benteng rohani yang terkulai, karena yang kita hadapkan bukanlah memikirkan kenyataan. Hidup adalah satu diantara sekian kehidupan yang ada. Hidupku, adalah sekian ribu dari kehidupan yang ia ciptakan. Meski harus mengapar.
Tetapi, dalam jiwa yang sebenarnya. "ada Kesadaran".

Terkadang, kucoba meraba hati. untuk mencari sedikit makna. Tetapi, untuk mencari makna. seharusnya aku tak usahlah seperti keledai yang dicambuk kian hari. Sebab untuk bermimpi, adalah pertimbangan panjang bagi penempuh jalanan kehidupan. Karena bermimpi, terkadang melelahkan dan mengurangi kualitas tidur seseorang. Selaksa kau raba warna untuk makna kehadiranku, sedang aku masih tetap saja berdiri disana. Hanya pelapuk kita yang terkadang menipu. MOKSA!
Read More...

Menggerebek Kosong Dengan Lelakon

Menelungkup malu. Merapat diri dengan kopi yang tersedu. Di bawah temaram lampu laptop yang sedari tadi terus menyala. Mendengarkan sayup-sayup lagu yang silih berganti, dengan berbagai genre ‘rock, RNB, Mellow, Pop’. Berjibaku dengan alam alaman yang ku buat bersama si emon, kucing yang biasa mangkir di Indonesian house ini. Tak jarang juga si emon menemani kehidupan malam, bersama kedinginan dan kelaparan.
Malam sunyi dengan tema mixed. Aku berada didepan seholok layar yang menyala. Memang tidak ada yang janggal saat terlihat, letak kejanggalan itu ‘disini’, kataku sambil menunjuk dadaku. jika ku biarkan menerus ia tetap putih bersih tanpa coretan. Jika aku harus diam, apa yang akan ku hasilkan? Apa berfikir lebih baik daripada ber tindak? Apa iya, jika iya. Bagaimana orang mengerti tentang apa yang kau fikirkan. Jika kau hanya diam tak bergerak. Bukan seperti realita cinta yang konon, meski terdiam mulut namun hati bercakap panjang. Bergeraklah kawan!! Teringat jargon salah seorang pemuka agama, bahwa ‘kita berada pada zaman, dimana berfikir lebih baik dari sekedar bekerja’. Kita mengenal slogan umum, ‘talk less do more’. Yang berarti, sedikit bicara dan banyak bekerja, bukan?
Apa yang beda dan membedakan antar kedua jargon di atas? Keduanya, jika kita fikirkan. Akan bertemu pada muara yang sama. ‘berfikir lebih baik daripada bekerja’. Apa kebiasaan kita sebelum bekerja adalah berfikir? Jika iya, tentunya kita termasuk golongan orang-orang yang sadar. Sadar dengan apa yang kita kerjakan. Bukan bekerja kemudian baru berfikir. Jangan samakan manusia dengan kerbau yang di cocok hidung, itu bukan kita. Nilai eksis dari sebuah pekerjaan adalah proses, bukan hasil. Dengan menghargai sebuah proses, kita akan ‘legowo’ menerima apa yang akan menjadi hasil, bukan? Buktikan!!! Saya berani bertaruh, antara perbedaan mereka yang menghargai sebuah proses dan tidak.
Cenderung orang melihat hasil, bukan proses. Dalam proses, ada hal yang melatih kita untuk lebih waspada menerima hasil.
‘Kematangan sebuah proses, lebih mendekatkan hasil yang memuaskan’. 
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua jargon. Mungkin keduanya terkesan mendorong kita untuk apatis. Namun, jika apatis lebih baik daripada bertindak yang serba salah. Apa salahnya? Kita pada zaman, dimana kwantitas lebih ternilai daripada kwalitas.
Coba kita cermati secara sederhana. Kita diam, kita berfikir. Memikirkan sesuatu yang akan kita kerjakan kedepan. Istilah kita, ‘merangkai konsep’. Mempertimbangkan kausa efisiensi, untung, rugi dll. Mnegobrak abrik segala kemungkinan terbaik dan terburuk. Dengan proyeksi ‘merangkai konsep’. Hasil, akan lebih sempurna setelah anda bertindak atas konsep yang anda rancang. Apakah bukan seperti itu?
Jadi, berdiam sejenak lebih penting daripada anda terburu bertindak dan menyesal karena tidak sempat memikirkan kemungkinan terburuk. Ini hanya sebuah lelakon. Maaf, disini saya bukan penulis fiksi. Saya hanya menutup kekosongan.
Read More...

Batasan Sajak

sajak adalah siul melengking suram
sajak adalah gemertak kerucut salju beku
sajak adalah daun-daun menges sepanjang malam
sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
sajak adalah manis kacang kapri mencekik mati
sajak adalah air mata dunia diatas bahu

-Boris Pasternak-


Read More...

Operasi Semantik Makna

Kita mencoba untuk bermain statis. Dalam arti, memainkan peran sesuai kondisi dan keadaan pemain. Boleh ada kesamaan tokoh dan peran. Namun, bukan kebolehan untuk tetap pada satu karakter, tokoh dan peran. Ini kusebut dengan dunia karet. Dimana yang menentukan adalah kadar fleksibelitas antar sesama. Dan menjadi hukum padu. Yang kemudian menjibak satu sama lain untuk menyeru kata ‘sepakat’.

Dunia karet. Ada dan nyata. Ia berada pada peraduan antara relativisme kebenaran dan dogmatism kesalahan. Sebagai hukum peraduan, bukan keterpaduan. Ia bergerak sesuai kesepakatan yang sulit dijelaskan antar dua pemain dalam menghukumi satu kesalahan orang ketiga. Ini menyoal gaya tubuh dan mimic yang sirat. Ini semacam bahasa  baru dalam dunia dan nyata. Sempat sekali saya bertanya, tentang berapa lama yang dibutuhkan untuk satu sama lain saling memahami bahasa baru itu? Dia menjawab, dengan jawaban datar dan sudah kusangka. Memang dia sendiri (pelaku) susah menjelaskan. Ia menganggap ini semacam bentuk kesadaran yang tidak ‘sadar’, semacam bagaimana orang Persi mampu menggerakkan materi tanpa harus menyentuhnya. Semacam relaksasi bahasa yang timbul dalam dunia instutisi baru. Satu hal yang kuanggap sulit. Menyetujui kata ‘sepakat’. Dalam hitungan detik.

Ini semacam permainan – permainan yang kerap dimainkan oleh politikus bangsa kita. Meski saya sendiri belum pernah menganalisa secara utuh untuk sebuah perkara. Bisa jadi iya, mungkin. Mungkin dari dunia dengan bahasa seperti inilah, yang kemudian banyak lahir istilah – istilah lama. Dengan makna berbeda. Sebut saja, apel malang, apel Washington, bos besar, atau apa sajalah. Tahu sumedang, rujak cingur dll. Namun, dengan pemaknaan kata yang sedikit rancu. Pada awalnya, saya bingung untuk menyebut nama proses akulturasi makna semantic ini. Semacam membuat buih baru dalam otak dan rekaman host file saya, bagaimana bahasa – bahasa seperti ini. Yang digunakan untuk semacam aksi rahasia. Tidak jarang, tentara pembela kedaulatan Negara kita menggunakan permainan makna semantic seperti ini. Seperti pada operasi – operasi militer yang berlangsung. Operasi militer ialah sebuah aksi perencanaan dan pengaturan angkatan militer. Operasi militer sering melibatkan operasi udara, operasi darat, dan operasi laut; biasa untuk tujuan keamanan.

Operasi militer merupakan konsep dan penerapan ilmu militer yang melibatkan operasi untuk merencanakan manuver pasukan yang diproyeksikan sesuai ketentuan, layanan, pelatihan, dan fungsi administrasi. Staf operasi memainkan peran utama dalam proyeksi kekuatan militer dengan spektrum konflik di Darat, di Udara, atau di Laut.

Operasi militer terkoordinasi adalah tindakan militer suatu negara dalam menanggapi situasi yang berkembang, sebagai rencana militer. Operasi militer sering dikenal sebagai tujuan operasional.

Kerangka kerja untuk operasi diatur sesuai matra di angkatan bersenjata. Angkatan bersenjata yang menyiapkan dan melakukan operasi pada berbagai tingkat perang. Secara umum ada korelasi antara ukuran unit, wilayah operasi, dan ruang lingkup misi, meskipun tidak mutlak.

Bahkan, setiap operasi militer memiliki nama dan keyword yang berbeda dan memiliki nama yang unik.  Operasi Jaring Merah I, tahun 1991. Operasi Jaring Merah II 1992. Oplihakan NAD 2003. Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Atau seperti Operasi Deadlight merupakan nama kode untuk penenggelaman U-Boot yang menyerah pada Sekutu setelah kekalahan Jerman Nazi menjelang berakhirnya Perang Dunia II. Dan masih banyak lagi.

Pemakaian istilah- istilah seperti itu. Mungkin sama halnya dengan penggunaan yang digunakan oleh politikus kita. sebagai nama pada setiap operasi militer yang mereka buat. Mungkin. Meski pada akhirnya, operasi yang mereka lakukan. Bukan untuk menjaga kedaulatan, ideology bangsa ataupun Negara. Justru merusak dan mengobrak abrik tatanan dan aturan kenegaraan. Membuat keonaran dengan slip tips. Bukan seperti operasi militer yang menagkap para pemberontak atau pembuat gaduh. Tapi operasi yang ini beda, justru untuk menutup diri dari pengejawantahan. Meski bagi sebagian mereka yang tersorot. Harus mengakhiri operasi dibui. Panorama yang sungguh menggemparkan. Ditengah semangat berdemokrasi. Dan demokrasi sebagai solusi. Masih saja, rakyat menjadi suara tanpa rupa. Yang kerap lupa disapa. Papa. Hanya untuk membantu mereka aman di kursinya saja. Seperti pengendara mobil mogok dipinggir jalan yang tidak kita kenal. Kita bantu, dan selepasnya dia pergi tanpa ada kesan terimakasih. Ini terulang berkali – kali dalam duniaku. Yang statis ini.


Khartoum, 14 Februari 2012
Read More...

Batu Perjalanan

‘ Jika memang cinta ada, kenapa aku harus susah payah mengejarnya?’. Endus Warto. Sembari ia terus melanjutkan perjalanan tanpa tujuan.

Warto, pria terpojokkan oleh bangunan tanpa rupa. Ia bangun sendiri kemegahan keterpojokannya. Ditengah ramai himpitan massa. Dimana ia, harus berjudi dan menemukan arti sebelum ia kembali berlari. Mencari ilmu pasti. Bukan terus terjibak dalam permainan naluri yang tak menahu pasti. Ia sendiri sadar, bahwa perjuangan adalah kehidupan. Sebab hidup bisa saja (boleh) menjelma dengan rupa dan topeng apa saja. 


Dalam suasana pertikaian. Hanya karena sekantong nurani yang merasa ternodai oleh dalih-dalih basi. Terserak oleh keadaan. Sederet tuntutan dan aturan kian dirasa menjenuhkan. Jika terus saja beriramakan dan alasan ketentraman. Menjadikan pusaran – pusaran baru tak yang beraturan. Hingga menciptakan cabang dengan akar yang sama 'Bosan'. Seperti membayangkan tuhan yang tak mungkin terbayang. Menjatuhkan apa hukum menuhankan diri. Menyodorkan leher yang terpasung. Atau menjumlahkan bilangan tak terhingga. Merumuskan teori lama. Seperti menghardik karena dalih mendidik. Seperti bergulat ulat. Tanpa ada kemenangan. Bersilat lidah tetang masalah yang mudah. Pendek kata, hanya untuk menggapai ketentraman jiwa, halal lah semua.

Sepanjang perjalanan. Warto terus saja berfikir. ‘bagaimana aku harus mengejar?’. Jika ternyata, apa yang ia kejar hanya bertoreh pada cerita belaka. Kenyataan selalu berbalik fakta. Berita - berita hanya 'pasti' berisi cemoohan anjing - anjing media. Media hanya wadah menggerus noktah. Media hanya wacana tanpa acuan. Memang bedebah. Media hanya seonggok berita dengan cerita yang mengada – ada. Terus saja bicara dan menjadi pendengar setianya. Jika bukan hanya matamu yang buta.

Terbuai, nama lain kata lali. Membuai, adalah sebuah tragedy ironi. ‘aku terbuai oleh keteguhanmu’. Bermakna beda jika kuartikan dengan kondisiku yang terjaga. Dengan mengambil tindakan pendek, aku memotong – potong setiap bagian. Menjadikannya buih – buih tak yang beraturan. Menengadahkan tangan, dan hanya memohon ampunan kasih sayang kenyataan. Karena terbuai. Sebab terbuai, gagasan bukan berarti lagi tindakan. Lagi lagi tindakan mati digiling omongan. Ia kembali membujang. Menceritakan bentuk pembelaan dengan kata dan argument panjang.

Kesalahan, boleh dianggap kewajaran. Dan terkadang terekam setelah kejadian. Bahkan, sebelum diberlakukannya paradigm slogan penyesalan. ‘kesalahan adalah ketidakwarasan’. Jika terekam dalam durasi yang terulang – ulang. Sebuah petuah, bisa benar dengan mengatakan bahwa. Tindak Penyesalan berarti nenek ketidakwarasan. Memang, benar dan tanpa disayangkan. Itu adalah sebuah pilihan setelah penyesalah. Namun, arus dan permainan pola menyerang vertical. Tak selamanya berpola demikian. Terkadang aku di bawah dan ku rasakan kenikamatan. Meski kenikmatan itu, terkadang dengan dirimu yang terus mencekik ku. Hingga hari ini, aku tak lagi bisa merasakan kenikmatan. Mengartikan kata nikmat. Menjamah tirani nikmat. Menggubris nikmat. Sebab terkadang bagiku, kenikmatan dan rasa sakit adalah spasi antara jari manis dan tengah. Kenikmatan pun, tak pernah tercipta. Tanpa rasa sakit yang pernah ada. Antara sakit dan nikmat. Ejaan lama yang perlu diperhalus, agar selalu tampak mulus dan tulus. ‘kenikmatan itu, ciptaan kesakitan yang klimaks’.

‘Jadi, kenapa aku harus mengejar cinta?’. Kata Warto membantu memberi ku sebuah kesimpulan liarnya. Ditengah ketegangan nurani yang menjadi - jadi. Kelam, oleh karamnya kapal kehidupan yang bergeliyut sebab gertak ombak yang menujam. Gelap, oleh gemerlap lampu kehidupan yang melenakan. Oleh segenggam harapan spasi kosong tanpa keharibaan. Menoleh ia pada segumpal jari yang sedari tadi menggumpal. Dan lambat laun memudar. Terdorong untuk sadar.

‘Ternyata, obat nya ada pada diri kita masing – masing’. Mengatasi masalah, adalah menuntun masalah pada pengobatan. Tradisional atau modern yang kau gunakan. Begitu kata Warto untuk kesimpulan ambigunya. Sebelum ia berkata:

‘Jika selama ini cinta yang kukejar dengan semangat dan perjuangan ini. Ternyata memudar di tengah jalan. Itu hanya sebuah ironi. Menganggap kesalahan dan penyesalan adalah ketidakwarasan. Maka Teruslah menempuh dan mencari moksa’. Begitu kata Warto di akhir cerita.


                                     
Gubuk Derita, Khartoum 12 Februari 2012
(Malam hari raya Valentine)


To be continue …
Read More...

Sajak Keteguhan

Keteguhan adalah bangunan kokoh
Keteguhan adalah ruang kosong, hampa tanpa pamrih
Keteguhan adalah prinsip perjuangan dan diperjuangkan
Keteguhan adalah mengerti muslihat lawan
Keteguhan adalah berjalan kedepan
Keteguhan adalah angkatan berbadan tegap
Keteguhan adalah kesehajaan
Keteguhan adalah mempertahankan
Keteguhan adalah perjalanan seorang pelayar ditengah badai
Keteguhan adalah perjalanan malam seorang badui
Keteguhan adalah jiwajiwa sunyi tanpa birahi duniawi
Keteguhan adalah memamah nafsu dan egoego manusiawi
Keteguhan adalah mata hati
Keteguhan adalah mereka yang berdiri diatas badai
Keteguhan adalah mega saat senja
Keteguhan adalah pekerja yang rentan menyerah
Keteguhan adalah sebuah irama tanpa suara
Keteguhan adalah nada tanpa nokta
Keteguhan adalah menjaga muka bahagia
Keteguhan adalah bertanding sebelum menang
Keteguhan adalah nurani tingkat dewa
Keteguhan adalah jabbariyah dan jamaliah-NYA

Keteguhan adalah….

Dan terkadang,
Keteguhan adalah isapan jempol belaka
Keteguhan adalah bermakna murah
Keteguhan adalah pembual saja
Keteguhan adalah sikap yang terpojokan
Keteguhan adalah sikap palsu pencari jabatan
Keteguhan adalah makanan basi kemaren petang
Keteguhan adalah korbankorban ketidakberadaan
Keteguhan adalah hanya sebagai dagelan
Keteguhan adalah pakarpakar yang oleng di bentur kenyataan
Keteguhan adalah tindakan ketidakpedulian
Keteguhan adalah dianggap bukan penyelesaian
Keteguhan adalah tikamantikaman
Keteguhan adalah sebab tangisantangisan
Keteguhan adalah opsi keterlindasan
Keteguhan adalah pembantaian, yang alpa pembangunan
Keteguhan adalah awal kemiskinan
Keteguhan adalah merelakakan bagian roti untuk orang lain
Keteguhan adalah ruang sesak dan memuakkan
Keteguhan adalah pejuang yang harus mati tanpa hormat
Keteguhan adalah ahli agama yang gila hormat
Keteguhan adalah cendekiawan yang kurang kerjaan
Keteguhan adalah bungabunga semacam bangkai
Keteguhan adalah mereka yang dianggap putus asa dari badai
Keteguhan adalah kenistaan orangorang yang dianggap lupa diri

Keteguhan adalah…

Adalah pilihanmu,
Segolongan kanan
Atau kiri.
Yang kelak kau impikan.
Ambisi ataukah engkau yang berfikir dengan naluri.



Khartoum, 28 januari 2012
Read More...

Cemeti Mahavhira Abuya HAMKA

"DI ATAS RUNTUHNYA MELAKA LAMA

PENYAIR TERMENUNG SEORANG

DIRI INGAT MELAYU KALA JAYANYA

PUSAT KEBESARAN NENEK BAHARI

DI SINI DAHULU LAKSAMANA HANG TUAH

SATRIA MOYANG MELAYU JATI

JAYA PERKASA GAGAH DAN MEWAH

TIDAK MELAYU HILANG DIBUMI

TIDAKLAH ALLAH MENGUBAH UNTUNG

SUATU KAUM DALAM DUNIA

JIKA HANYA DUDUK TERKATUNG

BERPELUK LUTUT BERPUTUS ASA"



Oleh : Abuya HAMKA




Read More...

Bualan Belaka



ketika bualan berujar.
apa gerangan, daku untuk menghindar
selain, mengeja dengan terbata
apa maksud sang empunya.

menari nari, dalam naluri penuh birahi
untuk terus berujar, datanglah kesini
kurasakan relung relung ini
sedang menidurkan nuri pagi
ku pandangi sekitar,
pohon pohon, sedang enggan bersemi
di musimnya.
bukit bukit sedang berdiri tanpa nyali.
terik matahari, tak seterik dirimu kemaren petang.

adakah engkau lembayung?
seharusnya aku memamah terong gosong pagi itu.
sebelum ku buang, dan merasa pahit sebelum berujar lapar.
seharusnya aku mendengarkan, sebelum ku berlari dan menjauh.

kau paham apa maksudku?
tentang rasa pahit, tentang duri yang menujam
dengana ujungnya?
seharusnya kau ada, saat kubutuh seseorang tuk sulut rokokku.

damn, dirimu hilang bersama bayangan jinak yang kau ciptakan.
damn, dirimu terbias warna bersama fatamorgana.
damn, dirimu terurai oleh sisa bekas air hujan jeda tadi sore.
damn, dirimu membeku, oleh dinginnya perang yang sedang kita jalalani.
damn, dirimu menawarkan segala bentuk rasa, yang ku tanam sejak lama.
damn, dirimu membiarkanku untuk terus berujar.

'kemanakah kamu ilalangku?'

hingga, alam bawah sadarku sadar.
jika aku sedang tak sadar.

Wisma PCI NU sudan, Khartoum 
20 Jan 2012
Read More...
 photo Joel2_zps6bff29b6.jpg