SELAMAT DATANG
Showing posts with label catatan harian. Show all posts
Showing posts with label catatan harian. Show all posts

Tanpa Judul, Tanpa Ide. Greeting Para Netizen :D <---- Curcol (yang sebenarnya)

Dear,
Para Blogger, para Netizen yang budiman. Sudah sekitar tiga bulan ini saya tidak melahirkan apapun dalam bentuk tulisan. Saya hanya teringat beberapa bulan yang lalu, saya menulis puisi "Andai Kau di Khartoum" yang kemudian dibacakan oleh kedua rekan saya Intan dan temanya (saya lupa namanya) pada Pagelaran Seni dan Budaya yang diadakan oleh PPI Sudan dan LESBUMI PCINU Khartoum Sudan di halaman rumah Duta KBRI Khartoum II.

Dalam hati kecil saya sebenarnya ada sedikit rasa menyesal: kenapa waktu - waktu saya terbuang sia - sia tanpa apapun, laiknya tidak ada yang perlu di-dokumentasikan. Padahal antara rentag november hingga bulan ini --Januari menginjak akhir, banyak hal kisah tentang kesedihan, penyesalan, konflik, kejadian, hal - hal yang janggal mengenai tuhan dan yang tak pernah terselesaikan, juga drama remaja yang sebenarnya bagus ide-nya untuk dijadikan cerpen atau cerbung yang lalu di-bubuhi judul: Wanita - Wanita Maya.

Ada banyak hal, sungguh. Andaikan ini hanya boleh lunas dalam route perjalanan betapa sayang. Banyak pelajaran kehidupan yang perlu digaris bawahi, atau Bold terhadap beberapa kejadian yang sempat bikin mood menulis dan pandangan terhadap alam tidak seimbang. Tapi lama - kelamaan sudah pulih kembali. Saya mencoba menulis. Meskipun yah, begini, seperti malam ini. Kalian bisa baca dan raba - raba sendiri bagaimana dan dalam kondisi bagaimana otak, pikiran dan hati saya saat menulis.

Next Time, saya mau banget nulis tentang Nganjuk dan share beberapa hal yang mungkin menarik. Tentang kebudayaannya, kebiasaan wong Nganjuk yang kadang bikin kekelen ( bikin ngakak ).
Atau mungkin next time, nulis tentang kisah - kisah haru biru perjalanan dari Sudan ke Indonesia --lebbay. iiih.

Well, tapi saya harus ingat satu hal. Bahwa sebenarnya saya punya banyak hal yang perlu saya selesaikan. Draft - Draft tulisan, ada yang puisi, ada cerpen dan novel project yang perlu diselesaikan pelan - pelan sambil santai --kayak di puncak.

to be continue ya... Bye, --Pake Koma
Read More...

Saya Menyesal: Kenapa Tidak Tinggal Saja di Asrama


Pada hari / tanggal keberapa yang penulis lupa –jelasnya awal penulis menginjakkan kaki di Sudan (28 oktober 2011)— perkiraan selang beberapa minggu setelah kedatangan penulis bersama dua sejawatnya: M. Satar Amrullah dan Awaliya Safithri. Sewaktu itu, tampuk kepemimpinan Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul ‘Ulama (PCINU Sudan) dinahkodai oleh DR. H. Sohib Rifa’I, MA sebagai Rais Syuriah dan H. Lian Fuad, BS sebagai Ketua Tanfidzhiyah, dengan kantor kesektretariatan berada di Arkaweet blok 48. Sebuah rumah sederhana dengan total luas kurang lebih 40 X 25 M2.

Terdiri dari satu ruang diperuntukan untuk kantor kerja, satu auditorium sederhana diperuntukan untuk sentral kegiatan berdekatan dengan perpustakaan sederhana di sampingnya –rak berisikan diktat, kitab dan literature--, kemudian satu kamar mandi, satu ruang dapur sederhana yang dipadu dengan baseman berisikan meja dan kursi – kursi tua tempat biasa teman – teman aktivis PCINU Sudan berdiskusi dan berkumpul bersebelahan antara ruang dapur dan satu petak halaman kecil berukuran 4 x 10 Myang merupakan tempat pilihan favorit untuk tidur malam saat musim panas tiba.

Sore hari itu, setelah sholat maghrib berjama’ah, Doktor Sohib menyeru para ‘penghuni’ rumah yang sejatinya kesekretarian PCINU itu untuk berkumpul di Auditorium. Dalam hati kecil penulis, sebenarnya sudah menyangka – nyangka beberapa hal yang mungkin, mengenai kebijakan yang sakit didengar. Doktor Sohib meluruskan beberapa hal, terkait beberapa permasalahan rumah yang sejatinya bertetangga langsung dengan tuan rumah. Diantaranya, kebisingan yang sering terjadi dan jumlah penghuni rumah yang sejatinya kesekretarian itu yang meledak. Bahkan, ketika ternyata kami saling berhitung, pada saat itu, jumlah kami lebih dari 15. Sedangkan, teken kontrak sewa rumah dengan tuan rumah hanya tertera tidak lebih dari 8 orang. Itu adalah permasalahan klasik mengenai kebudayaan sewa menyewa di Sudan, katanya, mayoritas menyewa rumah hanya boleh dihuni oleh minimal 8 orang.

Dalam hal ini, adalah konsekwensi kita harus menghargai dan bersikap realistis terhadap kelangsungan bertetangga sebagai kaum pendatang. konkrit faktanya, kita tidak sedang menyewa rumah untuk kepentigan 8 orang itu, namun lebih. Karena diantara tujuan teman aktivis PCINU menyewa rumah saat itu, adalah difungsikan sebagai kantor kesekretarian dan sentral kegiatan para anggota NU di Sudan.  Hal diatas belum diperparah drama tuan rumah yang mengancam akan menaikan harga sewa, atau enggan diperpanjang pada kontrak berikutnya.

Alhasil, dengan tegas penulis akui cool, Doktor Sohib melalui lisan H. lian Fuad, BS mengambil tindakan ‘pemutihan’ penghuni: terkait nama – nama yang berhak secara de jure menempati rumah yang sejatinya adalah kesekretariatan. 8 orang yang berhak tinggal, setelah melewati pertimbangan elit syuriah dan tanfidziyah pada saat itu. Dan siapapun sudah mengira, penulis dan keenam sejawatnya tidak termasuk, dan harus meninggalkan rumah yang sejatinya kesekretariatan itu. Demi merenggangkan otot saraf guam –perselisihan—tuan rumah yang harus mulai dianggap serius.

Mau tidak mau, penulis beserta enam sejawatnya: Abdul Aziz, A. Lukman Fahmi, Farisul Arsyad, Satar Amrullah, Ahmad Syuhada dan Barri Alhafidz memutuskan untuk membuka lembaran dan lingkungan baru bergegas di asrama yang disediakan kampus, Omdurman Islamic University. Sejujurnya, diantara kami, melalui percakapan – percakapan kecil kami di sela – sela kesibukan sebagai mahasiswa, kami masih merasa berat hati untuk memulai segalanya dari awal. Kami seolah sudah merasa nyaman, dengan selama ini tinggal di rumah PCINU Sudan Arkaweet blok 48 yang sejatinya kesekretariatan itu. Disana, kami sudah terbiasa bercanda, bergaul, berdiskusi tentang hal – hal remeh temeh bersama lintas daerah dan pengalaman latar belakang kami di Indonesia. Hal itu, bagi kami yang masih newbie –anak bawang—baru datang di Sudan, adalah semacam obat anti-depresan  yang selama ini kami cemaskan sebelum berangkat ke Sudan. Seperti kecemasan: apakah di sudan nanti –pada ekosistem baru, kami akan menemukan hal yang sama, minimal dalam pergaulan sesama mahasiswa seperti laiknya selama ini kami kenal di Indonesia? Atau, disana ada teman orang Indonesia bisa kita percaya, atau tidak?

Sejujurnya, pertanyaan – pertanyaan kecil nan menggelikan itu, pasti timbul bagi siapa saja, termasuk kami, ketika hendak menginjak-kan kaki di Negara yang konon seperti yang disiarkan melalui media – media massa Indonesia yang selalu memandang ‘usang’ tentang Sudan.  

Baru sedikit mendapatkan jawaban, atas pertanyaan – pertanyaan di atas. Dan diantara kita –newbie—baru belajar saling akrab dan bersahabat. Juga lingkungan yang membuat kita merasa nyaman, dengan alih – alih itu kadang penulis dengan ringan berkata: ternyata sudan itu tidak seperti yang kita sangka – sangkakan, tidak begitu menyeramkan. Disini konflik hanya cerita sebelum tidur, yang kita dengar dari lisan – lisan senior. Tidak seperti yang kita baca di koran – koran digital: Label Negara rawan. Pergaulan juga hampir persis seperti di Indonesia. bahkan Banyak mahasiswa maupun mahasiswi Indonesia di sini. Otomatis, kita punya banyak PR untuk berkenalan diantara satu dengan mereka dan menambah teman baru. Bahkan, dalam keseharian, seperti saya yang jawa, rasa – rasanya  masih tetap menggunakan bahasa jawa dalam percakapan. Memang saya dimana?

Pernyataan menggelikan diatas, selalu bikin celah tawa kecil saat penulis tergiring mengingatnya.

Sedangkan diantara penulis dan keenam sejawatnya, yang pada saat itu sudah berada di asrama. Tidak henti – hentinya berkeluh kesah, tentang hal – hal baru yang baru perlu kami hadapi di asrama, Futihab Omdurman. Kami berkumpul dalam satu bilik khusus yang kita sewa untuk tempat eskap sementara kami lari, ‘diusir’ oleh mashlahat. Diantara kami, bahkan karena saking belum mampu penuh keluar dari zona nyaman, berceloteh banyak hal tentang kebijakan itu. Bahkan sempat kami sepakat, bahwa Doktor Sohib bertindak otoriter dan tidak mengindahkan kami.

Namun toh, selang beberapa lama –hitungan minggu. Kami pun sudah terbiasa dengan kehidupan baru kami di asrama. Penulis malah sempat merasa ‘nyaman’ berada di asrama. Dimana penulis bisa meng-kondisi-kan segala hal, terkait diri penulis pribadi dengan semau ‘gue’ dengan penuh konsekwensi yang ditanggung sendiri. Jika suatu saat penulis sedang giat membaca, misalnya, penulis akan memanfaatkan menit – menit escaping di asrama bermanja – manja dengan Seno Gumiro Adjidharma, Djenar Maesa Ayu, Putu Wijaya, Phutut EA dan banyak lagi sebagai pendamping kesepian penulis di asrama. Penulis merasa bebas, menentukan sendiri nasibnya. Tidak terjerat oleh muatan – muatan pasar yang cenderung bersifat persuasive dan kurang bertanggung jawab.

 Di asrama, penulis sendirilah, yang mau tidak mau, menemukan jalan motivasinya sendiri, membangun keter-sadar-an sendiri, bukan ditentukan oleh eksponen eksternal dan motif pasar. Seperti yang sebelumnya penulis rasakan di rumah arkaweet 48 yang sejatinya kantor kesekretariatan itu.

Di asrama, penulis bebas menentukan lawan bergaul. Bilik kami yang bertetangga dan berdempetan dengan penguhuni lain yang berbeda suku, budaya dan bahasa, adalah kekayaan sendiri yang pribadi penulis rasakan sebagai ladang multicultural luas untuk kita meraba – raba saling berkenalan antar satu sama lain. Bukan kah, merupakan tujuan prinsip yang harus kita sadari dari diciptakannya manusia oleh Allah SWT dengan kondisi saling bersilang gender, berbangsa dan ber-suku itu untuk kita saling mengenal satu sama lain? Inna ja’alnaakum Syu’uban wa Qobaaila Li Ta’arafuu.

Di asrama, awal – awalnya penulis beranikan diri berkenalan dengan teman – teman dari Thailand yang masih satu rumpun (kalkulatif penulis). Selain mudah dalam proses berkenalannya, karena serumpun bahasa, adat dan kebudayaan yang hampir tidak sukar dimengerti, adalah hal – hal yang mula penulis harus bangun sebagai penghuni asrama baru yang musti ‘sowan’ –sungkem—senior. Dan alhamdulllah, dari perkenalan itu penulis kembangkan menjadi keakraban – keakraban yang ber-implikasi pada hal – hal yang kemudian boleh dikatakan bermanfaat misalnya saling sharing –tukar pendapat dan ide, atau diskusi kecil – kecilan paruh waktu. Itulah pengalaman kali pertama penulis, berdiskusi dengan tanpa atribut apapun selama penulis berada di Sudan.

Tidak jauh hari setelah itu, barulah penulis mulai mengembangkan sayap perkenalan dengan mahasiswa lain –bertetangga kamar—dari lintas Negara dan benua. Penulis berkenalan dengan awal -awalnya Musyrif sebagai ‘pengasuh’ asrama, hingga beliau kenal betul (akrab) dengan kami: mahasiswa Indonesia. Bahkan, pada satu waktu yang tidak sengaja, kami berkesempatan mengundang beliau untuk Futhuur (red, Breakfast) bersama di bilik kami, dengan menu seadanya: Indomie. Setelah itu juga, penulis berkenalan dengan teman – teman Sudan dari berbagai daerah: Darfur, Port Sudan, Jined, Sudan barat dan sebagainya. Ada juga diantaranya, adalah orang – orang asing dari Pantai Gading, Nepal, dan Nigeria.

Alangkah begitu, hal tersebut rangkaian album kenangan indah yang penulis rasakan ketika berada di asrama.

Fasilitas di asrama pun, penulis kira memadai. Disediakan tempat tidur (bahkan lemari bagi yang di IUA), kamar mandi bersama, masjid, lapangan sepakbola atau basket, dan satu hal: dekat dengan kampus hari – hari kita belajar. Bikin kita betah belajar dan merenung, mengembangkan bahasa arab atau meluangkan waktu yang melimpah untuk sekedar membaca diktat materi kuliah untuk mempersiapkan ujian yang konon menegangkan  ---namun yang terakhir ini, belum berlaku bagi pribadi penulis.  

Pada hari dan tanggal keberapa yang penulis lupa. Sedang terjadi kerusuhan di asrama, Futihab Omdurman. Yang desas – desusnya konon kerusuhan disebabkan oleh dua hal: Pertama, kasus pembunuhan 4 mahasiswa Darfur di Jazirah  –salah satu kawasan di Sudan, oleh oknum yang disinyalir militer yang merebak kasus setelah jenazah diketemukan di perairan sungai Nil tanpa ada kejelasan dari pihak terkait. Kontan, hal tersebut mengundang aksi brutal dari sejumlah aktivis mahasiswa Darfur yang menuntut penegakan hukum: dengan aksi perusakan 4 gedung raksasa asrama Futihan. Kedua, konon ini terkait kenaikan harga tariff tinggal di asrama. Tidak tanggung – tanggung, tariff kenaikan – nya hampir seratus persen dari 125 SDG ke 250 SDG per-tahunnya. Hal ini lah, sebab alasan kenapa banyak kabar menilai kenapa huru – hara terjadi. Adalah aksi protes atas kenaikan harga tariff tinggal asrama yang dianggap tidak pro dengan kantong mahasiswa. Malam itu para aktivis menggelar serangkaian aksi protes dengan membakar ludes hampir seluruh asrama seisinya. Pada malam hari itu, penulis dan keenam sejawatnya sedang tidak berada di asrama: merayakan libur tahunan di Khartoum. Baru ke-esokan harinya penulis mendengar kabar lisan dari Ahmad Syuhada’ lalu dibenarkan oleh para saksi kejadian –teman Thailand.   

Kalau, toh, pada saat itu penulis tidak sedang berada di Khartoum. Mungkin penulis hari ini masih memiliki asrama sebagai sarana escaping, merenung, belajar keluar dari zona nyaman, berkenalan dengan hal baru, menghadapi persoalan komunal, mengembangkan diri, dan pengayaan bahasa.
 Hari ini, dua tahun kurang setelah aksi brutal itu, penulis baru sadar tentang penting dan kerugian penulis  yang sudah tidak lagi memiliki asrama. Di samping rasa sedih yang sempat penulis rasakan, juga bahkan ke-enam sejawat penulis yang kehilangan harta benda paska kerusuhan. Detik ini Penulis berkata: Saya menyesal, kenapa tidak tinggal saja di asrama saja.

Tak ayal, bagi penulis hanya bisa meratapi bagaimana sikap 2 tahun yang lalu, utamanya terhadap fatwa ‘pemutihan’ Doktor Haji Sohib melalui lisan Haji Lian Fuad yang menyadarkan penulis sampai hari ini tentang satu pasal hukum: sejatinya rumah yang dengan pembiayaan kantong PCINU Sudan itu adalah kantor kesekretariatan dan sentral kegiatan. Tidak lain, bukan?


Khartoum, 25 Juni 2014
Read More...

Dari Bisik - Bisik


Terhitung sudah 8 hari –sejak tanggal 14 Juni 2014 lalu, program PCINU Sudan masa kepemimpinan Miftahul Munif yang diamanati oleh hasil pemilihan raya pada Konferensi Cabang PCINU XII di auditorium Daar Mushar untuk menjabat sebagai ketua Tanfidzhiyah masa abdi 2014-2015. Penutupan program kerja PCINU sementara ini konon ditenggarai oleh beberapa pertimbangan. Salah satunya, adalah dalam rangka menyambut massa ‘hening’ bagi para teman – teman yang mengaji di International University of Africa (IUA). Dalam hal tersebut, PCINU Sudan melalui rapat gabungan dewan Syuriah dan Tanfidhiyah menelurkan kelonggaran bagi mahasiswa IUA untuk sejenak lepas dari komitmen institusi dan kesempatan bermanja – manja dengan diktat  --materi ujian yang akan diujikan pada 6 juli mendatang.   

Penulis melakukan kroscek, ke beberapa pelaku sejarah terkait kebijakan yang sempat membuat muntab penulis ketika membacanya. Meski jauh sebelum penulis tergerak berkesimpulan, penulis berupaya menjauh dari wilayah – wilayah emosional destruktif dan ruang sensitive pribadi, (mungkin) terkait memang penulis tidak sedang menempuh pendidikan S1 di UIA, namun toh akhirnya tulisan ini rampung dan sampai dibaca oleh para pembaca budiman. Dengan penulis masih tetap merasa marjinal dan minority.

Terkait kroscek penulis kepada pelaku sejarah –utamanya Assabiqunal Awwaluun—generasi awal yang sempat mengenyam pahit manis atau menyaksikan serta mengikuti secara intens perkembangan sejarah, sejak awal adanya NU di Sudan. Sebagai wadah instutional, yang selalu melahirkan kebijakan – kebijakan yang pada taraf urgensitasnya harus sesuai tolok ukur kepentingan ‘ammah atau minimal tanpa meminggirkan minoritas sebagai eksponen yang harus juga dipertimbangkan kesetaraannya di depan satu cermin yang sama. Penulis berkesempatan untuk berbincang dan konsultasi perihal persoalan gelisah penulis tentang hasil rapat tersebut pada sebuah perbincangan kecil, hangat dan sederhana. Kesimpulan pelaku sejarah mengatakan, bahwa tidak satupun pernah PCINU Sudan sebagai organisasi multikultural pengikutnya menelurkan satu buah keputusan untuk menghentikan (tutup) program sejenak dikarenakan, atau beralasan menolelir kepentingan pribadi anggotanya, yang mayoritas mahasiswa dikarenakan sedang akan menghadapi ujian, misalnya.

 Terus terang bukan di hasil kebijakan yang bikin penulis tidak terkesan dengan hasil rapat gabungan Syurah & tanfidhiyah tersebut. Namun pada argumentasi dan pertimbangan, yang membuat penulis berkesimpulan tidak relevan dan kurang pertimbangan. Jika toh, misalnya, penulis mungkin akan sedikit lega apabila menggunakan dalih penyambutan bulan suci ramadhan, atau segera menyebut tegas alasan lain yang tidak potensial meminggirkan penulis dan kawan – kawan sebagai minoritas. Hal ini dengan kerendahan hati penulis, terpaksa harus penulis sampaikan mewakili teman – teman penulis dari sementara mereka yang merasa terkebiri dan dimarjinalkan oleh kepentingan pribadi. Adakah yang lebih riskan bagi minoritas, dari komitmen sikap NU yang selalu kita hafal dengan salah satunya adalah Tasamuh –sikap toleran-- atau I’tidal –berlaku adil dan equal--, lalu secara tidak sengaja ditindas oleh kepentingan mayoritas? Inilah sebab, kenapa tiba – tiba penulis merasai menjadi bagaimana perasaan umat Kristen (minoritas) yang berkehidupan bertetangga dengan mayoritas islam, seperti di Indonesia hari ini.

Sedangkan arah sayap dan dukungan kita sebagai Nahdliyin terhadap Negara dan ideology konstitusinya sudah jelas, mendukung penuh Demokrasi dan menghalalkan Pancasila. Namun disana sini, dalam berkehidupan berbangsa bernegara: beragam dan berbhineka, sebagai Nahdliyin masih sering bagi kita menyaksikan praktik yang berhaluan dari apa yang sudah kita sepakati menjadi tujuan. Bahkan, terlalu naïf bagi kita, dengan mudahnya kita diam –tidak melawan, terhadap praktik feodalisme, monolitik dan imperalisme yang berseliweran “ngangkang” di tas kopyah demokrasi kita. Tidak mustahil, jika pada akhirnya seperti yang pernah Gus Dur katakan, bahwa mustahil kita mengaku pada dunia atas berjalannya demokrasi di antara kita tanpa adanya kedaulatan dan penegakan hokum, serta memahami komponen resapan dari demokrasi seperti pluralism, equality, kesamaan hak dan perlindungan pendapat. Pada saatnya, lanjut Gus Dur “Indonesia akan terjebak pada arus yang menjadikan Demokrasi sebagai alternative dari ‘tidak sadar dan ketakutan’ pasar yang berakibat suburnya praktik demokrasi semu (pseudo democracy)”. Seperti yang sudah terjadi di republic Weimar pada  masa jabatan rais ‘aam Adolf Hitler yang otoriter.


Persetubuhan Kultural dan Institusional di PCINU Sudan

Sebagai organisasi Cabang yang ber-induk pada kebesaran Nahdatul ‘Ulama, PCINU Sudan harus mengakomodasi Garis Besar Haluan Nahdatul ‘Ulama (GBHNU) sebagai organisasi keagamaan kemasyarakatan dengan pengikut terbesar di dunia. Diantaranya adalah sikap – sikap prinsip yang mau tidak mau harus terinspirasi dari apa yang PBNU gariskan. Sebab sejatinya, ke-NU-an terhadap prinsip ibadah, amaliah dan kebudayaan kita harus tetap sama dimanapun berada, tidak di Sudan, di Yaman, di Jerman atau di Amerika. Harus tetap sama, semaksimal mungkin kita jalankan selaras dengan ibadah, amaliah dan kebudayaan kita di nusantara. Itulah satu – satunya sikap yang harus diperhatikan sebagai anak kandung PBNU agar selalu tetap di-cap sebagai anak yang taat pada orang tua. Bukan kah sikap keagamaan, sebagaimana yang kita tahu: harus senantiasa saalih likulli zamaan wal makaan? Termasuk tradisi persetubuhan cultural dan institusional diantara kita. Sebagai pegiat, anak nahdliyin yang ber-organisasi demi keberlangsungan eksistensi tradisi maupun budi luhur yang merupakan harga mati yang perlu mati – matian dipertahankan sebagai pondasi.
Ada dua hal paling efektif untuk melanggengkan pendekatan keagamaan kita selama ini. Pertama, pendekatan secara cultural. Dalam praktinya, Nahdatul ‘ulama dalam strategi dakwahnya selalu permisif dan terbuka terhadap warisan budaya dan tradisi luhur. Banyak  sudah literature yang membahas kedewasaan strategi dakwah cultural NU dalam hal ini, baik berbentuk advokasi (pembelaan) kebudayaan atau tradisi dari gempuran arus global. Maupun rekontruksi / vermak substansi nilai dari kebudayaan hindu budha, dan menjadikannya jalan wushul pada ketentuan – ketentuan profetik.   

Kedua, Institusional. Jangan lupa, bahwa dibalik keberlangsungan dakwah cultural yang jauh sebelum NU berdiri sebagai organisasi yang dilegislasi sebagai institusi NU optimis selalu diharapkan menjadi icon pembaharuan dan perubahan dari masa ke masa. Pembaharuan NU awal, sudah ditandai dengan berdirinya NU sebagai Organisasi Keagamaan Kemasyarakata (ORMAS) pada tahun 1926. Sedangkan perubahan bersifat dinamistis sudah juga dilewati NU dari satu dekade ke lain era, bahkan sebagai kunci sejarah Nasional kita. Dengan begitu, satu hal tugas kita: tradisi Tajdid harus selalu menjadi garapan pokok bagi generasi setelahnya sebagai bentuk penyegeran dan pembaharuan. Diharapkan dengan itu, adalah terciptanya suasana dinamis dalam berkehidupan kita sebagai icon keberagamaan yang berkemajuaan utamanya saalih li kulli zamaan wal makaan. Dan dengan NU kita justru terjebak pada kobangan nihilistik dan stagnasi, yang sejujurnya keduanya itu berarti kemunduran.

Jika kita kaitkan, dengan uraian penulis sebelum ini. Sebagai bagian dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul ‘Ulama Sudan, penulis perlu kembali mengingatkan penting keduanya sebagai eksponen yang perlu memiliki porsi ideal demi kelangsungan komposisi perjuangan kita sebagai nahdliyin, yang tentu kesemuanya itu demi terwujudnya cita – cita organisasi. Kalau dipersempit, maka hal tersebut juga akan kembali pada ketidak-terkesannya penulis terhadap hasil rapat gabungan tanggal 14 Juni lalu pasal alasan pertimbangan penutupan (sementara) program kerja PCINU Sudan.
Sebab penulis beranggapan erat kaitan antara sebuah kebijakan NU sebagai institusi dengan keberlangsungan keberagamaan kita yang sejatinya penulis artikan sebagai nilai cultural. Toh, selama ini penulis melihat bahwa sebagian besar program kerja tersebut adalah juga terdiri dari beberapa hal yang bersifat cultural, seperti lailatul Ijtima’ yang digawangi oleh Lembaga Dakwah (LD) PCINU Sudan. Jelas sudah bagi pembaca, dimana letak kegelisahan dan titik ketidak sepahaman penulis terhadap hasil rapat gabungan Syuriah dan tanfiziyah PCINU 8 hari yang lalu. Belum lagi penulis menyayangkan logika kebijakan penutupan program sementara dikarenakan menyambut sebagian mahasiswa yang menghadapi ujian akhir semester (UAS) jika dikongsikan pada beberapa sebagian program kerja lembaga PCINU Sudan yang bersifat spontanitas seperti pengiriman berita kegiatan ke PBNU (nu.or.id), pengelolaan web berkala oleh Lembaga ta’lif wa Nasyr (LTN), atau yang bersifat kondisional seperti program bertandang ke kediaman masyayikh yang rencana akan dihelat oleh Lembaga dakwah (LD) pada bulan suci ramadhan ini. Sekali lagi, dengan kerendahan hati penulis beranggapan bahwa hasil rapat tersebut terlalu apriori.


Pemeluk NU itu Multikultural

Semenjak dihapusnya beberapa butir kata dalam piagam Jakarta. NU baik secara cultural maupun institusional mendukung dan menghalal-kan Pancasila sebagai ideologi Negara. Secara utuh NU mendukung penuh berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bahkan dibuktikan oleh resolusi jihad oleh KH. Hasyim Asy’ari (21-22 Oktober 2014).

Dengan begitu secara tidak tertulis NU juga menghargai komposisi – komposisi peranan dari sebuah NKRI, diantaranya adalah keberagaman etnis, suku, agama dan latar belakang. Dalam arti lain, NU mengayomi paham multikulturalisme dengan sikap moderat dan permisif berdampingan terhadap selain NU. Memiliki prinsip kesetaraan hak dalam regulasi hukum dan supremasinya. Menjunjung keterlaksanaan dan kedaulatan Undang Undang Dasar 1945 (UUD 45).

Hal ini harus disadari oleh setiap warga NU apabila hendak berpegang teguh pada spirit kebangsaan. Dengan prinsip – prinsip patriotic ini pula, NU dalam perjalanan sejarah nasional dan peranannya dapat diterima dengan mudah oleh bahkan lintas agama di Indonesia. NU selalu mampu membawa wajah perubahan dan penyegaran Islam secara moderat bahkan berimplikasi pada perubahan sosial yang massif bagi stabilitas sosial antar umat beragama dan bernegara.

Salah satu warisan penting bagi Nahdatul ‘Ulama dengan jumlah pemeluk yang hampir diperkirakan mencapai 70 juta lebih ini adalah keragaman latar belakang pemeluknya. Keragaman itu bisa dibagi menjadi beberapa bagian kecil seperti daerah / suku, strata sosial dan profesi, bahkan tingkat pendidikan. Bahkan sempat ada guyonan, bahwa karena pesona charisma sosok Gus Dur, ada sebagian orang seperti mas Butet Kertaradjasa (seniman/budayawan) yang mendaulat dirinya termasuk Nahdliyin Cabang Khatolik.

Inilah yang membuat NU memiliki potensi besar untuk menggiring sebuah perubahan nasional. Namun dibalik potensi besar tersebut, perlu diingat pula, bahwa NU juga memiliki potensi – potensi madharat besar bagi kelangsungan Nasional, apabila setiap kebijakannya di-pantati oleh kepentingan local utamanya ini biasa terjadi pada pemain elite NU yang jika tidak dengan penuh hati – hati akan membubarkan cita – cita perubahan ke arah yang lebih baik tersebut.

PCINU Sudan sebagai organisasi anak asuh cabang PBNU, juga harus bisa pertama – tama menilik potensi besar yang pasti ada di tubuh dirinya. Hal ini bisa dibeberkan dengan bukti – bukti konkrit, bahwa PCINU Sudan sebagaimana NU di nusantara juga memiliki asset pemeluk yang multicultural: berbeda tempat asal / daerah, suku, kebudayaan bahkan universitas tempat kuliah.

Dalam hal – hal kecil, sedemikian penulis sampaikan ini. PCINU Sudan harus legowo, tidak menutup mata dan telinga terhadap hal yang mayoritas orang menganggap remeh-temeh. Mendengarkan kritik terhadap sebuah kebijakan yang harus bertolok pada mashalah ‘aamah (bukan perspektif pribadi) utamanya yang dihasilkan oleh hasil rapat elite PCINU Sudan adalah hal yang harusnya dibiasakan untuk dibudayakan, diperhatikan dan didengar lalu bersama merumuskan solusi. Hal ini sering terjadi dalam tradisi keberlangsungan NU sebagai organisasi dengan pemeluk terbesar di dunia, bukan?

Senin, 23 Juni 2014

Read More...

MENYELAMATKAN FORUM: forum.nusudan.org


Pada tahun 2012, sewaktu penulis menjabat sebagai Ketua Lajnah Ta’lif wa Nasyr (LTN PCINU) Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul ‘Ulama Sudan sudah menggagas beberapa siasat untuk mengubah kecondongan public (public mainstream) dari mode penggunaan layanan internet dalam pengertian besar “mereka” adalah media sosial, kepada mode penggunaan media sosial sebagai wahana pembelajaran dakwah melalui kiat dalam menyampaikan sebuah ide atau berita melalui sebuah karya tulis lalu mempostingnya ke lama situs resmi PCINU Sudan (www.nusudan.com). Ide seperti ini, harusnya menjadi perhatian serius bagi aktivis PCINU Sudan, sebagai media independent, menyuarakan kebebasan berpendapat di tempat umum ---Sebagai akademisi—yang selalu oleh masyarakat ditunggu gebrakan – pemikiran yang menghantarkan pada perubahan sosial, atau minimal menjaganya.

Bagi penulis, keberanian untuk menyampaikan ide, pendapat dan gagasan itu sangat penting. Tidak hanya dalam forum tertutup, lebih dari itu adalah forum – forum terbuka yang disitu anda tidak hanya akan dituntut untuk berani menyampaikan ide anda, namun juga keberanian untuk menerima argumentasi yang berseberangan dengan anda. Itulah, kenapa hal semacam ini bagi penulis begitu berharga, karena sering takutnya kita untuk berbeda. Kita tidak dilarang untuk berbeda, bukan? Justru, dari perbedaan, agama kita menyeru untuk mempelajari perbedaan tersebut. Dengan implikasi lebih jauh, adalah saling memahami satu dengan yang lain dengan cara saling berlapang dada terhadap kenyataan yang beragam ini. Inna Ja’alnaa Kum Syu’uuba wa Qabaaila Li Ta’aarafu – Sungguh kami jadikan kalian berbangsa dan bersuku agar kalian saling mengenal. Di tambahkan lagi, setelah saling mengenal tercapai artinya manusia menunjukan jati dirinya sebagai makhluk sosial yang butuh kenal dan dikenal, dari persengketaan dan gesekan sosial tersebutlah manusia kemudian mampu melihat sudut – sudut strategis dan potensial untuk melangsungkan dan memilih sendiri jalan tujuan dan motif kehidupannya sendiri sebagai makhluk sosial, apakah ia akan memilih Ta’awun ‘alal Birr, kah? Atau sebaliknya?

Manusia yang ber-Ta’awun ‘alal Birr, selalu mencari celah untuk memperbaiki kehidupannya; menjauhkan diri dari perasaan sempurna. Ia selalu belajar dari resapan air, metabolism perut bumi, sirkulasi hujan, perubahan cuaca dan angin, dan apapun yang membuatnya merasa tidak nyaman untuk tidak mempelajarinya.

Ketika tulisan ini belum rampung diselesaikan, penulis terngiang – ngiang pertanyaan seorang teman yang mempertanyakan bagaimana keadaan dan perkembangan forum.nusudan.org. kepadanya itu penulis katakan, saat ini tidak diperlukan tekhnik khusus untuk memperbaiki hal itu. Melihat tidak adanya iktikad ke arah perubahan yang lebih baik. Bagi penulis, untuk memperbaiki hal ini, hanya diperlukan tekhnik “sepele”, yaitu belajar dari cara para petani tebu giling mengolah lahan yang hendak ditanami tebu. Bedah dan balik tanahnya, bakar sisa – sisa ilalang dan “bongkotan” tebu kemaren yang tidak berguna. Netralkan tanah dari tumbuhan onak yang mengganggu kelangsungan pertumbuhan masyarakat “tebu”. Lalu setelah tanah kering bersih, kita balik tanah dan membentuknya sesuai selera ---apakah dengan tekhnik reynose, atau konvensional seperti di desa – desa. Baru setelah itu, diharapkan masyarakat “tebu” pulih dengan kehidupan baru dan tumbuh lebih baik.

Sebagai mantan pejabat LTN-PCINU Sudan penulis merasa apa yang dihasilkan melalui program – program yang dibesutnya sia – sia, jika tanpa diimbangi dengan konsistensi berkesinambungan antara pemegang kendalinya. Tentu perjuangan perubahan akan macet dan terhambat jika tidak disokong oleh re-generasi yang juga searah melawan masalah dan menuju perubahan abadi. Demikian, penulis rasakan, gebrakan dan perubahan yang telah penulis dan rekan – rekan sewaktu menjabat menjadi LTN-PCINU Sudan, tidak lebih hanya sebatas euphoria yang tidak memakan waktu lama untuk kembali tenggelam ke dasar laut. Akhirnya, jika hal ini terus kita acuhkan dan tidak menarik bagi kita untuk perduli dari tahun – ke tahun, program kita hanya akan menghasilkan serangkaian keharuman bunga jihad “kosong”. Bunga mekar, wangi dan layu; tidak kekal. Sedang jihad kosong yang penulis maksud adalah, menyia-nyiakan tenaga dan kesungguhan hanya untuk mencapai tujuan yang pendek dan rendah, seperti mengisi draft keberhasilan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Tahunan Pengurus.

Perdebatan mengenai relevan, tidak kah memerjuangan eksistensi akademis dan intelektualis dalam masyarakat dewasa ini sudah close case –tutup kasus. Dalam arti kata, perdebatan di meja akademisi dan forum diskusi hanya akan berujung pada pemahaman yang berasaskan teori, sedangkan di luar sana penggunaan Facebook merajalela sebagai media kaum citizen untuk me-publish kejadian atau apapun disekitar mereka, tidak terkecuali twitter, blog ataupun wordpress yang terus naik indek penggunannya. Hari ini, dunia peradaban literat manusia mengajak dan men-sortir penggunanya untuk selebar – lebarnya membuka cakrawala fakta, opini, gagasan, ide dan men-sortir kita untuk dihadapkan pada dua pilihan: mengikuti arus perkembangan, atau terjebak ide – ide tradisional dan konservatif?

Saya mengambil dua contoh: pertama, hari ini materi jurnalistik yang biasa kita dengar dan perdebatkan faktanya sehari – hari , sudah tidak mesti lahir dari produk – produk yang ditawarkan oleh wartawan. Masyarakat modern bebas meng-observasi kebenaran sebuah kasus dari berbagai sudut pandang dan sumber. Tidak seperti dulu, jalan lintas pemahaman kita terhadap sebuah kasus atau fakta digariskan oleh pewartaan wartawan melalui sebuah media ternama. Sekarang tidak! Bahkan pers sudah banyak melonggarkan rem – rem baku, untuk masyarakat bebas memilih bahan dan kebenaran informasinya sendiri. Bahkan me-publish hal – hal disekitarnya dengan merdeka dan tanpa sensor. Inilah mungkin yang dimaksud baru – baru ini dengan istilah citizen journalism.

Kedua, facebook sebagai media sosial yang diproklamirkan 2004 lalu –sebelum itu bernama facemash. Berawal dari keinginan Mark Zuckerberg untuk membuat line penghubung antar sesama rekannya satu kampus, kini mendunia sebagai media sosial paling diminati oleh pengguna internet di seluruh dunia. Dengan berbagai fitur yang ditawarkan Mark, seperti layanan pesan, komentar dan apresiatif (like) bahkan fasilitas “Group” sebagai media persyarikatan yang konon hari ini paling efektif untuk saling bertukar Ide, pengalaman, berdiskusi paruh waktu atau bahkan sekedar reuni almamater. Namun sekarang, fungsi tersebut lebih variatif, manusia kreatif menangkap ide Mark sebagai lahan potensial yang bernilai komoditif komersial bagi keberlangsungan pemasaran iklan, bisnis bahkan bagi masyarakat demokrasi untuk meluruskan opini, mengembangkan fakta, menarik dan mendiskusikan kesimpulan hingga sampai pada sentralisasi issue, politic campaign –Kampanye politik dan lain sebagainya yang mempengaruhi perkembangan politik sampai kebudayaan kita hari ini. Lalu pertanyaannya: masihkah kita menganggap facebook hanya sebagai media sosial “biasa”, yang hanya meng-isyaratkan kita untuk sekedar update status, me-like status yang kita suka, dan saling ber-komentar kosong sembari mengesampingkan potensi besar untuk misalnya, menjadi sumber dan rujukan wacana politik, sosial dan kebudayaan yang mesti membuka celah untuk kita perdebatkan berdasarkan argumentasi akademis?

Salah satu jalan yang penulis sarankan adalah berdamai dengan teknik “olah lahan tebu” dan kembali pada basic potential yang kita miliki sekarang: halama situs resmi NU Sudan (www.nusudan.org). Hal ini salah satu jalan penting, mengembalikan eksistensi kita sebagai “jama’ah” yang memiliki porsi penting dalam wacana kebijakan, issue, dan opini yang terus secara dinamis berkembang dalam diri kita sebagai masyarakat yang komunal. Dan memerlukan perhatian khusus –minimal—sebagai strategi bertahan dari derasnya agresi global yang tidak menuntut intelektualisnya berdiam diri, namun turun –menenggelamkan dirinya pada arus—untuk mempelajari rumus – rumus resistensi kebudayaan dan jebakan peradaban global. Hal ini bukan lalu dapat diartikan untuk total mejeburkan diri dan me-berhalakan literasi kita pada perkembangan global dan mengacuhkan norma, etika dan estetika yang selama ini kita pegang sebagai kaum bersarung, bukan. Tetapi sekali lagi, kita turun ke “jalan” untuk merumuskan keadaan dan persoalan.

Merumuskan keadaan dan persoalan tersebut, bagi penulis (mungkin) hanya akan bisa ditempuh dengan dua cara diatas: menjadi –minimal terilhami untuk-- citizen journalism, dan menganggap media sosial sebagai orbit penggemblengan ketahanan mediasi kita antara standar akademisi dan emosi. Selain jadi ladang subur bagi akademisi, intelektualis dan aktivis untuk menampung materi literasi. Lalu setelah keduanya kita miliki, yuk, ajak penulis, untuk mendiskusikan apa yang kita dapatkan ke ruang yang lebih “dapur” dari sekedar merenungkannya sendiri: forum.nusudan.org.

Secara fungsional, memang forum.nusudan.org tidak lebih istimewa dan efisien dibanding dengan “group” di facebook, misalnya. Namun, penulis masih punya optimis besar bahwa terhadap perkembangan forum.nusudan.org sebagai ruang terminan untuk mengembangkan diri dalam menyampaikan pendapat, ber-argumentasi ataupun sekedar menyimak. Facebook dan media sosial sejenisnya dengan kemudahan yang ditawarkan pada user terlalu bergas dan lajak dengan begitu secara tidak sadar, menjebak penggunannya pada cara berfikir “singkat dan pendek” tanpa penghayatan ilmiah dan argumentasi panjang, bukan? Hal ini berbeda (mungkin) dengan sedikit kerumitan yang akan anda lalui dan bikin “gemes”, ketika bermain forum, blog atau wordpress, misalnya. Kita diajarkan untuk berhati – hati dalam memutuskan, tidak semena – mena berkomentar tanpa argumentasi dan pemikiran yang panjang. Yakinlah satu hal, penulis mengingatkan: untuk menguasai “keramaian”, anda perlu ruang sendiri untuk merenung, mendiskusikan dan menguasai “kesendirian”. Facebook adalah pasar, yang ramai. Suatu saat, anda perlu bersembunyi.

Ala kulli hal, kesemuanya itu, penulis hanya ingin mengajak para pembaca meng-artikan ulang pentingnya menjaga eksistensi kita sebagai jama’ah, persyarikatan, intelektualis, cendekiawan dan akademis untuk memiliki peran aktif dalam membangun “citra” positif bagi arus jama’ah, persyarikatan dan komunitas akademis lain yang berada di kanan kiri kita, yang hari ini mereka gencar menggunakan media di Internet sebagai bahan menertawakan kita, yang tradionalis dan terjerat ide – ide konservatif.

PCINU Sudan sebagai Cabang Istimewa dari organisasi keagamaan kemasyarakatan terbesar di dunia, memiliki ideology, asas dan kaidah mengenai sebuah sikap bagi pengikutnya ---kita hafal di luar kepala--, satu kaidah terpenting: Almuhafadha ‘ala qadiim salih, wa alakhd bil jadiid ashlah, bukan?



Jum’at, 20 Juni 2014

Read More...

Menulis: mengekalkan diri dalam Sejarah dan peradaban


Sebagai mahasiswa, tentu, teman – teman semua yang budiman akrab dan hangat sekali dengan sebuah adagium arab: al-Ilmu Ka al-Shoid, wa al-Kitaabah Qaiduha,yang kurang lebih terjemah bodoh saya seperti ini: Ilmu seumpama hewan buruan, dan dokumentasi seumpama talinya.

Secara spontan, hal yang akan kita tangkap dari dua frasa profetik diatas adalah: Ilmu dengan kondisi universalnya, dan proses (cara) kita mengemasnya –sesuai dialek sosial dan kondisi zaman. Artinya, sikap kita kepada universalitas Ilmu harus kita pilih sendiri. Setiap individu, berhak penuh menentukan pilihan: apakah dirinya akan menempatkan Ilmu sebagai legislasi –seperti umumnya orang sekarang, atau pada posisi esensial dari tujuan awal Tuhan mengajari Adam nama – nama benda seperti yang diceritakan pada awal Surat al-Baqoroh (?).

Saya kira, kita akan sepakat untuk berusaha memilih yang kedua: Esensialitas ilmu dan keilmuan. Cara berfikir pendek saya begini: Ketika tuhan hendak menciptakan manusia, yang secara kebetulan juga oleh tuhan, Adam dipilih menjadi manusia pertama yang diciptakan dan diturunkan di bumi dan memerlukan bekal pengetahuan bertahan hidup di medan yang Adam dan Istrinya sebelumnya belum mengenalnya: bumi. Maka Tuhan mengenenalkan ilmu Hakiki kepada adam tentang berbagai nama – nama benda (universal) yang pada taham setelahnya dalam peradaban manusia kita dikenalkan oleh penemuan – penemuan ilmiah, teoritis, sains, yang sebetulnya kalau kita telusuri dengan bekal sejarah. Adalah merupakan hasil dari elaborasi dan kolaborasi Ilmu Hakiki yang tuhan berikan kepada Adam tentang nama – nama benda.

Jadi, siapakah yang berhak melakukan legislasi ilmu dan keilmuan dimuka bumi ini kecuali Tuhan? Artinya, manusia dengan peradaban yang terus bergerak ini, tidak ada satupun fase dimana ia berhak melegislasi keilmuan yang ia dapat –dalam proses pencaharian. Karena, manusia hanya mengelaborasi, komparasi dan merunut penemuan nenek moyangnya untuk mendekati esensialitas ilmu dan keilmuan hakiki.  

Semoga dari sini jelas, apa tendensi personifikasi “ilmu” dalam adagium arab di atas dengan “hewan buruan”. Ya, dari preporsisi kita pengartian dan pemahaman kita terhadap Ilmu yang universal. Hingga setiap dari kita, memiliki hak untuk membangun sendiri keilmuan masing – masing yang tentunya sesuai dengan porsi yang sudah saya sebutkan diatas. Dengan tujuan, bagaimana Manusia sebagai makhluk yang selalu disinggung oleh tuhan dengan ekspresi: Afalaa Tatafakkaruun?  Atau Afalaa Ta’qiluun?.

Kembali ke Wa al kitabah Qaiduha. Merupakan hal yang tidak wajar, ketika manusia yang dituntut oleh tuhan mereka membangun peradaban mereka sebagai mana yang tuhan harapkan kepada Adam, tidak menjaga kesinambungan sirkulasi peradaban manusia karena terputus oleh satu generasi “pemalas” terhadap dokumentasi, bahkan minimal untuk dirinya sendiri.

Saya sendiri, acapkali membayangkan bagaimana proses runtuhnya peradaban manusia. Zaman yang serba tekhnologi, menggiring manusia pada peradaban yang ironi –mengkhawatirkan. Teman – teman bisa perhatikan, bagaimana perkembangan gadget dari hari ke lain waktu, juga berbagai produk tekhnologi modern yang lain. Dengan dalil hendak mempermudah kebutuhan manusia, teknologi modern menjawab segalanya; adalah pada hulu segalanya tidak jauh dari Industri.

Kita ambil amsal, gadget. Dengan gadget manusia modern dapat menjalankan akses informasi yang tidak terbatas jarak. Melakukan interaksi sosial non-riil, interaksi ekonomi jarak jauh, sharing idea berjauhan. Yang kesemuanya, bagi tekhnologi modern adalah jawaban atas usaha “pemenuhan” kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. (Manuel Castell)

Tanpa disadari, kita terjebak pada sebuah system micro yang mempersempit dokumentasi kita di kehidupan nyata. Saya tidak menyangkal, bahwa saya pengguna aktif Twitter, Facebook, Blogger, Path, Google Plus, Yahoo Mesengger, gadget dan sejenis apapun yang menampung ekspresi saya. Di facebook misalnya, dengan ironi “what on your mind?” seringkali kita tergelitik untuk juga menuliskan apa yang terlintas secara spontan dalam pikiran maupun perasaan kita pada kondisi saat itu. Itu kadang saya rasakan sebagai jebakan yang menuntut mindset kita untuk berfikir secara instant. Belum lagi persoalan – persoalan lain yang bisa kita pelajari jebakannya, yang tentu, tidak akan saya utarakan kegelisahan saya disini.

Akhirnya, dengan terjebaknya kita pada ranah kedewasaan bersikap yang micro non – riil, seringkali lupa terhadap sesuatu yang lebih besar –Ada hal yang dirasa hilang: Macro riil. Yaitu, keberlangsungan peradaban manusia yang perlu disejarahkan dan transenden menjaga profetik makna riil “ilmu dan Keilmuan” manusia yang perlu kita sikapi secara riil.

Tentu, ada sebagian orang yang kurang setuju dengan gagasan saya mengenai ironisasi penggunaan jejaring sosial karena kecenderungan kepada mindset micro. Saya kira, itu perlu kita perdebatkan ulang karena faktanya ada juga sebagian orang yang memilih sector “maya” untuk mendokumentasikan dirinya secara serius daripada terjebak mengikuti sihir “what on your mind?” dengan menulis hal – hal yang spontan dan hiperbola –Alay dan lebay.

Makna “al-Kitabah” dengan “dokumentasi” untuk saat ini, menurut saya, lebih mewakili dibanding dengan hanya mengartikan “menulis” dalam kehidupan modern saat ini. Karena, dokumetasi adalah memuat hal – hal yang bukan hanya berupa tulisan, namun juga hal lain yang bersifat informatif.

Namun kali ini, saya akan menekankan betapa “menulis” adalah hal dasar yang utama dari segala jenis dokumentasi yang ada. Hal ini, demi, sekali lagi keberlangsungan sejarah dan peradaban manusia dalam semua varietas.

Dalam Kitab suci, Tuhan mengingatkan kita betapa pentingnya “menulis” bahkan di beberapa kesempatan tuhan mengekspresikannya dengan ungkapan perintah. Seperti dalam persoalan hutang – piutang. Ini sudah menjadi bukti, bahwa tuhan menghendaki kita untuk focus, tidak meremehkan hal remeh – temeh dengan melakukan dokumentasi.

Hal ini, perlu kita sadari secara sepihak bahwa betapa tuhan menghargai sejarah. Dengan dokumentai yang ditemukan oleh generasi setelahnya, misalnya, para ahli arkeolog dan sejarawan akan meluruskan persepsi pengetahuan peradaban manusia sebelumnya. Dan hal ini, hanya “mungkin” terjadi jika ada kegiatan dokumentasi oleh generasi sebelumnya. Meski secara kolektif, saya tidak bisa memihak pembenaran bahwa “menulis” lebih utama daripada menvisualkan keadaan, merekam, berekspresi di jagad maya atau dalam bentuk ekspresi lain seperti relief, patung, candid dan sebagainya yang memberi kesan dan getaran keberadaan kita bagi generasi mendatang. 

Bukankah menyimpan dan membuang adalah dua tindakan yang biasa dalam dan untuk peradaban manusia menuju lebih baik, bukan? 




--- Sepenggal dari makalah yang saya sampaikan pada teman - teman Seminar Deminfo dan elNilein PPMI Sudan
Read More...

PRIBADI PREMATUR


Bagi penulis, menjadi bagian dari pengurus, anggota sekaligus warga di lingkaran NU Sudan adalah kesan tersendiri. Kesan itu terkadang lahir dari kegamangan dan disinterpersonal penulis dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hingga tulisan ini nantinya akan sampai pada tangan pembaca, dengan sangat terus terang, penulis masih merasa perlu bertanya – Tanya pada diri sendiri, dimana ruang bermain bagi pribadi yang masih terjebak kekanak – kanakan, seperti penulis?

           Penulis selalu yakin, ditengah tuntutan seseorang yang terlanjur masuk dalam instrumen keorganisasian yang berorientasi komunal-masyarakat, tidak menutup kemungkinan sebagian faksi dalam diri penulis dalam respon spontanitas pribadi terjebur ke dalam lembah kekanak – kanakan yang labil dan lebih antusias pada obsesi kepentingan pribadi, seperti yang penulis sering kali alami.

Terus terang saja menjadi bagian dari pengurus Nahdatul Ulama’ Cabang Istimewa Khartoum Sudan ini, penulis merasa belum sepenuhnya patut baik saat penulis bercermin pada kemampuan diri sendiri maupun pengalaman berorganisasi untuk mengemban amanat – amanat ketika harus terjebur dalam orientasi Komunal - Masyarakat. Terutama dininya usia pengalaman organisasi penulis yang tidak sesuai hierarki structural organisasi yang NU miliki sebagai kontruksi khusus terutama yang bersinggungan dengan kaderisasi.

Dulu, tilikan penulis tentang NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, adalah yang didalamnya diisi oleh orang – orang “sepuh” dengan karakter “matang” yang mengejawantahkan prinsip karakter NU di tengah masyarakat. Bersinggungan langsung dengan masyarakat yang sensitive sebagai stekholder,  yang dalam bayangan penulis saat itu begitu dilematis. Toh, pada kenyataannya tidak sedemikian dilematis ketika penulis akhirnya terjebur juga dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama’ Cabang Istimewa Khartoum Sudan ini.

Kepompongan ini, penulis dasarkan pada pengalaman hierarki struktur organisasi yang tidak komplit. Bayangan penulis selalu dihantui ketidak-siapan. Karena Pada hierarki struktur organisasi NU mengenal istilah pengkaderan dengan berbagai tingkatan yang harus ditempuh untuk menembus esensial struktur NU, seperti badan- badan otomom yang ada baik yang dikelola dibawah Pengurus Ranting (di tingkat Desa), Majlis wakil cabang ( di tingkat Kecamatan), Cabang (di tingkat kabupaten), wilayah (di tingkat Provinsi) maupun  Pengurus Besar NU (di tingkat Nasional).

Meskipun secara skema-sintetis, Badan – badan Otonom tersebut seharusnya tidak terkait dengan kepengurusan pada struktur Organisasi NU dalam sekala dan garis besar. Namun mengingat Banom seperti Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah, Muslimat Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Fatayat Nahdlatul Ulama, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa (IPS Pagar Nusa) dan Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH) memiliki interaksi social yang intim. Bukan hanya karena mengingat memang pada dasarnya Badan Otonom diatas memang sengaja dibentuk oleh NU dalam rangka pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu, tetapi juga berperan penting sebagai ruh dan inti daripada NU sebagai Organisasi Keagamaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat –upaya cultural. Penulis tidak akan membayangkan apa pentingnya NU sebagai organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan tanpa membentuk Banom – Banom yang berpotensi besar mengelola berbagai aspek kepentingan NU di tengah masyarakat.  

Namun secara aplikatif, dan operasinya Banom tersebut tidak dapat dipisahkan dari kepengurusan NU yang berada pada suatu wilayah. Hal ini yang mendasari penulis, tentang pentingnya peran adanya Banom di wilayah territorial pada tiap tingkat pengurus Nahdlatul Ulama’ dan juga, pentingya keikutsertaan para warga NU dalam segala bentuk kegiatan yang dicanangkan oleh setiap Banom tersebut.

Pertama, karena mengingat interaksi NU sebagai Organisasi memiliki kepentingan - kepentingan mulia yang salah satu diantaranya adalah menegakkan ajaran Islam paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) maka harus memiliki interaksi yang mesra dan intim dengan masyarakat sebagai objek daripada dakwah.
Kedua, Banom memiliki otoritas yang divergen dengan kepengurusan, hal ini bisa kita lihat pada keduanya yang memiliki AD/ART yang berbeda. Karena memiliki target dan program yang berbeda, antara structural kepengurusan Nahdatul ‘ulama yang dibentuk di suatu wilayah dengan Badan Otonom didalamnya yang bergerak lebih fungsional komunal, meski secara obyek normatif memiliki kesamaan. Namun karena BANOM lebih menyentuh dan focus pada arah yang lebih intens maka tidak heran jika BANOM lebih ditekankan dalam misi yang lebih fungsional. Itulah dua hal yang menjadi dasar penulis, bagaimana keikutsertaan kita sebagai “orang” NU pada tiap – tiap Banom menjadi sangat penting dan berharga.

Belum lagi jika kita lihat betapa pentingnya peran keikutsertaan para pelajar (NU Muda) dalam kegiatan di bawah Banom seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU – IPPNU) sebagai wahana dan wadah mengenalkan paham, ajaran, semangat berorganisasi dan sekaligus yang terpenting adalah pengkaderan kepada “NU Muda” sejak dini, sejak menjadi pelajar.

Kembali pada dilematisme yang sempat menjangkit penulis pada pembahasan sebelumnya, maka ketika menginjakkan kaki di Sudan yang otomatis spontan, sebagai anak orang NU, mau tidak mau penulis diharuskan terjun berkecimpung dalam lingkaran organisasi NU (maksud penulis, PCI NU Khartoum Sudan) dengan penguasaan dan pengalaman ke-organisasi-an yang minim. Penulis seringkali “klabakan” memikirkan sikap bagaimana menisiasati ketidak-siapan menjalankan organisasi dengan melakukan pengayaan diri nekat “terjun bebas” tanpa disokong instrument formal “diklat ke-organisasi-an” yang seharusnya PCINU Sudan agendakan. Alasan kuatnya, adalah mengemban NU dan masuk dalam arena organiasasinya tidak hanya dibutuhkan keterampilan manajement (dasar) baku seperti pengalaman kita dalam organisasi – organisasi eks-skul, namun lebih dari itu, organisasi NU memiliki obyek yang lebih luas daripada seisi gedung sekolah sewaktu SMA dulu. Yang bagi pegiatnya tidak hanya diharaapkan mampu terampil dalam manajemen organisasi namun juga komperhensip terhadap pengelolaan mental dan spiritual. Karena secara garis besar objek dan sasaran dakwah NU adalah masyarakat umum, luas dan beragam.

Dalam beberapa waktu, sebagai pribadi labil. Keinginan untuk membangun ideology dari dalam selalu penulis usahakan, sebagai bentuk upaya penselalarasan minimal agar tidak terjebak minder dan usah perubahan yang penulis anggap harus dimulai sejak dini dan dari diri sendiri. Dengan kuat, dan penuh kesadaran bahwa yang selama ini penulis anggap itu keliru, beban yang dipikul harus juga dianggap sebagai upaya perbaikan dan pendewasaan. diri. Namun ini hanya sebatas “kesadaran” sepihak yang penulis lakukan oleh dan untuk diri sendiri penulis. Dan belum pernah ter-peta-kan selama rentang tahun 2011-2014 untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan semisal diklat ke-organisasi-an yang seharunya PCINU Sudan selenggarakan sebagai sikap serius pengkaderan. Meskipun ide ini tidak baru, toh, belum juga mampu diselenggarakan secara riil.

Dari sini lah akan terlahir semangat untuk kita selalu belajar, meningkatkan, dan mempelajari segalanya menjadi sebuah pengalaman yang bukan hanya ber-amaliah Nahdliyah namun juga semangat ber-jam’iyyah. Meskipun kita tidak berada pada garis besar yang seharusnya, namun diantara kita selalu yakin bahwa pertolongan Allah selalu lekat disekitar orang – orang yang berjuang  mengawal masyarakat.

TANAM PAHAM KE-ORGANISASI-AN SEDARI DINI

Kaderisasi yang selama ini terjadi dalam lingkup NU, khususnya Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul ‘Ulama Khartoum Sudan hanya berkutat dalam hal “tanam paham” Nahdhatul ‘Ulama sebagai muatan Ideologi an sich. Kant mengomentari pengertian an sich dengan sesuatu yang tak terikat dengan kesadaran maupun pengalaman. Padahal untuk menyentuh sebuah esensi kehadiran diperlukan kesadaran dan untuk menggerakan sesuatu secara fungsional –di garis lurusnya, dibutuhkan pengalaman yang transcendent pada kesadaran. Artinya, kaderisasi PCI NU Sudan selama ini lebih banyak berkutat dalam “tanam paham” yang hanya mengenalkan dirinya sendiri sebagai mazhab ideologi teoritis: NU yang harfiah. Belum sepenuhnya keluar dari jalur yang sesungguhnya dituntut oleh NU sebagai organisasi.

Seingat penulis, Abdurrahman, MA adalah salah satu yang pernah mengemukakan pentingnya kaderisasi pada Rapat Koordinasi lembaga PCI NU Sudan tahun 2012. Ia menilai bahwa Kaderisasi dini ini dirasa penting, melihat gejolak ketidaksiapan sebagian pengurus menjalankan roda program yang dicanangkan oleh hasil konferensi. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi setelah 3 bulan masa jabatan Miftahuddin Ahimy, MA sebagai ketua Tandfidziyah PCI NU. Ketidaksiapan ini pun otentik karena kurangnya pengalaman mengenal NU sebagai organisasi secara utuh. Meski lagi – lagi yang dikemukakan Abdurrahman menjadi sebuah gagasan yang diterima dan direspon oleh forum dengan kembali melakukan kaderisasi NU An sich: Mazhab Ideology Teoritis.

Tidak sangkal jika kemudian hari, setelahnya, dinamika organisasi kembali menjadi kepompong yang bertapa dan tak kunjung berubah menjadi kupu – kupu yang terbang menguasai langit. Karena bagaimanapun harus dibedakan bagaimana memahami NU secara cultural dan structural agar tidak menjadi beban berkepanjangan, dan menjadikan NU lagi – lagi kecolongan dengan orang – orang berkepentingan “pribadi” yang menyusup dalam structural NU sebagai organisasi keagamaan yang profetik.

Jadi sudah seyogyanya PCINU Sudan lebih serius melangsungkan serangkaian program riil yang berkiblat pada seluruh amanat NU sebagai organisasi yang memerlukan kemampuan pengelolaan jalannya organisasi bagi pegiat dan aktivisnya. Jalan formal satu – satunya adalah dengan mengadakan “diklat ke-organisasi-an” secara berkala pada tiap tahun kedatangan mahasisiswa baru NU ke Sudan. Hal ini PCINU Sudan fungsikan sebagai kelas tambahan bagi kadernya untuk mengejar ketertinggalan pengalaman dan pengetahuan di kelas kaderisasi yang tidak semua mahasiswa baru yang datang dari Indonesia mengikutinya disana. Juga dalam upaya menyiapkan kader – kader aktivis dan pegiat PCINU Sudan yang memiliki integritas ber-organisasi baik secara structural maupun cultural.  

Bagi kepentingan organisasi, mereka adalah potensi dan ruh dalam kelangsungan eksistensi organisasi yang perlu PCINU Sudan kelola dan rawat dengan menanamkan paham dan ilmu organisasi sedari dini maupun berkala. Hal ini adalah ke-istimewa-an tersendiri PCINU Sudan dalam perjalanan sejarah dan peradabannya sebagai organisasi yang mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki, bukan?

Read More...

MENDIRIKAN LESBUMI PCINU SUDAN: SEBUAH MOMENTUM



           Perjalanan perjuangan Nahdlatul ‘Ulama sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Indonesia dengan lebih dari 40 juta pengikut yang bergerak di pelbagai bidang strategis masyarakat sebagai stekholder dan penjaga sikap keagamaan yang moderat, toleran, serta senantiasa mampu menjeburkan diri dalam instrument budaya dan warisan lokal masyarakat setempat dengan kearifan lokal yang dijunjung NU, sebagaimana  metoda akulturasi budaya dalam berdakwah yang sudah diajarkan oleh para walisongo di Jawa. Tidak akan pernah lepas dari sikap permisif Nahdatul ‘Ulama sendiri sebagai organisasi modern, moderate, dinamis dan terbuka terhadap hal baru yang dirasa lebih baik, dan menyimpan tradisi, peninggalan dan budaya lama yang masih baik.

Dalam sikap peradaban Nahdlatul ‘Ulama sendiri kita sangat lekat dengan “al-Muhaafadha ‘ala Qadim al-Shalih, wa al-Akhdzu bi al-jadiid al-Ashlah”, dengan arti sikap menjaga warisan baik berupa khazanah kebudayaan dan tradisi berkesenian yang baik, dan mengambil penemuan (modern) yang dirasa lebih baik. Sikap inilah, alasan kenapa sikap NU selalu teridentifikasi baik secara sosio-historis, ataupun sikap ideology dengan perjuangan awal para walisongo melakukan missi dakwah di tanah Jawa.

Antara Walisongo dan perjalanan Nahdlatul ‘Ulama sebagai organisasi tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dirasakan dari sikap keagamaan NU terhadap perkembangan Seni dan Kebudayaan sebuah masyarakat. Dimana NU selalu berusaha mengadopsi sikap –sikap dan strategi dakwah walisongo yang dengan akulturasi budayanya, para pegiat dakwah cultural NU selalu diterima karena memiliki keintiman dan kemesraan dalam menyikapi suatu budaya masyarakat setempat. Di tengah maraknya ekstrimis kanan yang senantiasa berusaha mengaburkan nilai luhur kebudayaan dan kesenian. Arti singkatnya, perjuangan dakwah Walisongo di tanah Jawa dan perjalanan NU tidak akan dapat dipisahkan. Karena Nahdatul ‘Ulama adalah akselerasi keberhasilan dakwah Walisongo, sedangkan sikap bijak Walisongo akan senantiasa direduksi, diadopsi, dan dikolaborasi dengan pemikiran baru oleh NU hingga saat ini.

Mengacu pada seriusnya para seniman, budayawan, intelektual, cendekiawan dan siapapun yang memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan dan kesenian. Dengan terbukti, digagas ulang berdirinya kembali aliansi Seniman dan Budayawan di tubuh NU sendiri seperti digagas ulangnya Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) Nahdlatul ‘Ulama yang diprakarsai oleh ketua terpilih LESBUMI Saat ini, Zastrwo alNgatawi (masa khidmat 2010-2015). Sudah selayaknya PCINU Sudan memiliki sikap apresiasi gerakan dalam sikap berkesenian dan berkebudayaan.  Hal ini akan menjadi sebuah legislasi sikap kebudayaan NU dalam ranah wilayah (Luar Negeri) yang memiliki potensi  multi-research kebudayaan dan kesenian pada Negara dimana PCINU berada.

Kembalinya semangat melembagakan kegiatan berkesenian ini juga tidak terlepas potensi kentara dari hari ke lain generasi mulai menunjuk perkembangan yang sangat baik. Seperti yang terlihat adalah, semangat berkesenian Hadroh dan Rebana oleh warga PCINU Sudan yang sudah tidak lagi kita ragukan urgensitasnya dalam pelbagai momen Sebagai icon PCINU Sudan dan bahkan mulai dikenal luas oleh sebagian warga pribumi  Sudan sendiri.

 Perkembangan demikian, seharusnya sudah saatnya PCINU Sudan bersikap memberi ruang bagi kelanjutan kegiatan berkesenian yang sudah dirasa membanggakan. Belum lagi kegiatan berkesenian lain semisal dalam seni gerak dan teater yang seringkali berjalan apa adanya, bahkan lebih sederhada dari Hadroh dan Rebana yang masih diayomi oleh Lembaga Dakwah PCINU Sudan, yang memerlukan perhatian khusus bagi para pegiatnya yang seringkali justru tidak terorganisir dan terakomodasi dengan baik. Padahal jika dikembangkan, akan sangat menguntungkan PCINU Sudan untuk merajut ulang semangat dakwah kulturalnya.

Jika di tahun ini, lagi –lagi PCINU mengambil sikap diam seperti tahun lalu dalam menanggapi wacana legislasi (pe-lembaga-an) ruang dan wadah berkesenian bagi para anggotanya yang potensif, maka sudah sangat terbayang bagaimana stagnasi kegiatan berkesenian yang selama sudah ada dan cenderung apa adanya tanpa adanya lembaga yang menaunginya secara serius. Sehingga, terhambat ide – ide yang seharusnya bisa jadi bahan ledak bagi sejarah PCINU Sudan dalam meraih cita – cita pengemban tradisi dan kultur nusantara yang sejatinya mampu diupayakan dengan melembagakannya.

Pelembagaan ini juga bisa bernilai sikap perhatian serius dan jawaban PCINU Sudan terhadap kegiatan berkesenian dan menghargai kebudayaan ditengah gagalnya pelbagai upaya instansi pemerintah dalam mengakomodir kegiatan berkesenian bagi warganya sendiri yang cenderung ber-orientasi “dangkal” dari yang kita harapkan bersama. Karena seringkali Negara hanya menganggap seni dan budaya sebagai warisan yang bisa setiap saat dia pamerkan dan pentaskan kepada Negara lain tanpa berdasar falsafah kesenian dan kebudayaan yang mendalam. Lantas, kepada instansi mana lagi PCINU Sudan bisa mempercayakan potensi berkesenian anggota dan cita – citanya  kecuali pada dirinya sendiri?

Sumberdaya Manusia dalam berkesenian PCINU Sudan pada dekade ini sedang dalam pertanda baik – baiknya untuk mengembangkan kembali semangat berkesenian yang sempat hilang pada beberapa tahun lalu. Lebih – lebih PCINU Sudan dengan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) nya, yang jika direstui untuk didirikan menjadi ruang sendiri dalam melahirkan, mendiskusikan dan mengadvokasi sikap berkesenian dan berkebudayaan yang selama ini cenderung berjalan tanpa payung yang menaungi secara serius.

Dengan berdirinya LESBUMI, PCINU Sudan akan lebih digiring pada sikap substantive dakwah cultural yang selama ini Nahdlatul ‘Ulama’ selalu perjuangkan.

Sudah sangat terbayang, dibawah Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCINU Sudan nantinya, akan lebih sering melakukan maneuver sikap dakwah yang selama ini sering dilupakan oleh pelbagai varietas metoda dakwah keagamaan yang justru dianggap kering dan ironisnya seringkali para pegiatnya malah menampilkan agama dengan muka yang menakutkan. Hal ini, hanya mungkin bisa terjadi secara rapi dan terorganisir jika PCINU Sudan dalam hal ini Steering Committee (SC) Konferensi Cabang PCINU ke XII yang dipimpin oleh H. Zainul Alim, MA mampu meluluskan berdirinya LESBUMI kemudian menjadi wacana untuk direstui pada puncak KONFERCAB XIII nanti.

JIka kita merujuk pada tema Konferensi Cabang (KONFERCAB) PCINU Sudan ke XII 2013 lalu sendiri yang salah satunya adalah optimalisasi peran Sosial Budaya dalam menjaga jaringan Internasional Ilmu dan ‘Ulama’ maka tuntaslah sudah, bahwa PCINU Sudan sudah tidak lagi pantas beralasan untuk menolak kehadiran instrument lembaga baru yang menaungi semangat dan kreatifitas dalam berkesenian dan mengenal kebudayaan nusantara secara intens. Karena ini merupakan titik klimak dan momentum menjalankan amanat profetik semangat KONFERCAB PCINU Sudan ke XII.

Ini akan menjadi serangkaian legislasi terhadap pelbagai sikap PCINU Sudan sendiri dalam bersikap dan juga sebagai lembaga advokasi “syariah” terhadap pelbagai issue dalam paradigma kebudayaan dan kesenian yang tidak bisa kita pisahkan dari perjalanan NU Sendiri. 
Read More...
 photo Joel2_zps6bff29b6.jpg