SELAMAT DATANG
Showing posts with label Seperti Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Seperti Cerpen. Show all posts

SUTRISNO BERSIKAP


Sepulang dari mengikuti seminar, Subagyo bertemu dengan seorang teman. Namanya Sutrisno, akrab dipanggil Sutris oleh teman – teman Subagyo. Sutris memang berkarakter pendiam, tidak banyak bicara, tetapi dibalik diamnya selalu responsive dan kritis menyikapi apa yang ia lihat. Subagyo yang tergolong dekat jika ia ditanya tentang bagaimana pribadi Sutris Sebenarnya, yang sering  dianggap eksklusif oleh teman – temannya, Subagyo selalu bilang, “Sutris itu memang boleh dikesankan Eksklusif, namun kesanmu jangan berhenti sampai sebatas itu. Karena dibalik eksklusifitas Sutris yang bagi saya menipu, ada banyak sikap – sikap kritis, responsive terhadap sesuatu yang hanya saja Sutris tidak mau tampak – tampakkan”.

Karena bagi Subagyo, banyak yang tidak tahu stream, dan mind Sutris yang responsive terhadap apapun yang kritik-able. Dan itu, biasanya tidak diketahui orang banyak di sekitar Sutris, karena seringkali Sutris hanya berbicara serius kepada orang – orang tertentu yang dianggap mampu menseriusinya. Termasuk Subagyo, yang seringkali dipilih Sutris sebagai lawan bicara.

“Begini Yo, ini tentang dilematika ideology mahasiswa dan ke-mahasiswa-an terhadap gonjang – ganjing persekongkolan  sebagian dari kita dengan partai politik”. Kata Sutris membuka pembicaraan seriusnya.

Dari nada dan gaya Sutris bicara, Subagyo faham. Sutris akan ngomong panjang, makanya Subagyo masih diam. Memberi waktu Sutris menuntaskan.

Kerja praktis partai politik yang selama ini kita kenal bersama, semenjak reformasi dari orde baru dan mulai dibuka selebar – lebarnya dimulai tahun 1999 bagi siapapun untuk berpayung di bawah payung demokrasi sebenarnya masih merupakan rangkaian perjalanan yang belum berumur panjang. Tentang kebebasan berekspresi, mengemukakan pendapat, mendirikan dan melegislasi gagasan kelompok yang menjamur dari barat ke utara, dari kota ke pelosok desa. Ini, sebagai mahasiswa kita, harus berperan sebagai controller, karena dalam praktisnya ternyata “orang – orang itu” tidak semuanya berkesempatan hadir dan memahami serangkaian gonjang – ganjing dan peristiwa – peristiwa rekonsoliasi kebangsaan dan kebudayaan. Sebagian orang, tanpa masuk dalam instrument perjuangan demokrasi dulu justru kerap kali, dewasa ini muncul sebagai poros baru yang bebas keliaran dimana – mana, yang tentu istilah yang dimaksud adalah munculnya “mereka”, dibenarkan oleh demokrasi. Istilah nya, ya, seperti terlahir dari keluarga konglomerat, yang begitu lahir sudah merasa berhak mewarisi dan menikmati hasil kerja keras ayahnya. Hal ini yang mestinya, membuat kita: mahasiswa gerah. Dari sisi strategisnya, mahasiswa harus kita tempatkan bukan hanya sebagai obyek kebijakan politik dan birokrasi, namun lebih spesifik mampu mengartikulasi keadaan dalam kapasitas yang lebih tinggi: Kebangsaan.

Mahasiswa, kita re-posisi bukan hanya sebagai perusuh bagi stabilitas pemerintah, namun sebagai controller. Bukankah diatas jalannya kebebasan (liberty) harus ada yuridiksi, dan cendekiawan termasuk mahasiswa di dalamnya memiliki otoritas penting dalam pengawasan agar perjalanan birokrasi senantiasa under-control ?.

 Di sejarah revolusi manapapun, revolusi tergerak dari kontemplasi pihak cendekiawan sebagai ideologi dengan premanisme sebagai sikap arogansi yang diperbolehkan dalam pengawalan sebuah ide dan gagasan. Justru yang kita lihat, dewasa ini seringkali tidak padu. Istilahnya, Ayatullah Khomeini dan Ahmad Dinejad Sudah pisah ranjang. Atau Muhamad Abdul wahab dan king Abdul Aziz sudah bercerai. Sehingga yang tampak seringkali keduanya berjalan sendiri – sendiri menuju, yang sebenarnya bertujuan sama. Mahasiswa harus menjadi perangkat yang seirama dengan proses berjalannya kebijakan pemerintah dan meluruskan output kebijakan dengan konservatifitasnya.

“Permasalahannya, adalah begini, Yo…”, lanjut dia, mengambil satu tarik nafas.

Jika ada satu golongan partai politik, yang berusaha menggawangi konservatifitas ideology kemahasiswaan, seperti di Sudan ini. Dengan berbagai upaya dan wajah, yang seolah – olah mendapat legislasi untuk juga menggerakan kepentingan politiknya melalui jalur kemahasiswaan. Jika ditilik sepihak dengan memandang hak mendirikan sebuah wadah untuk menampung ide mahasiswa dan meluluskan cita – cita, visi dan missi nya, maka hal tersebut “boleh” secara konstitusional baku. Namun jika ditilik dari jangkauan idealisme seorang mahasiswa dengan berbagai potensi tadi: Controller dengan sikap konservatifitas yang perlu dijaga, maka hal tersebut jelas me-salah-I estetika, dan mencederai netralisme serta konstitusi kemahasiswaan kita. Karena apapun bentuk lembaga atau organisasi yang dibuat oleh sebuah partai politik, maka selalu harus kita curigai bersama apa tendensi dibalik itu semua.

Subagyo yang dari tadi membatu mendengarkan, magut – magut sambil pegang bulu jenggot, memahami maksud Sutris. Sebelum akhirnya bertanya,

“lantas, sebagai mahasiswa, apa sikap kita agar tidak terjebak erosi dan pendangkalan idealisme mahasiswa, Tris?”

Pertama, kita cermati dulu, jangan terburu mengambil sikap hemat. Kita telisik dulu, dengan menjangkau berbagai aspek sudut pandang penilaian sejarah, pondasi dan track record politik partai tersebut. Tolok ukurnya begini, apakah sebuah partai tersebut memiliki perjalanan sejarah yang sesuai dengan cita – cita dan semangat luhur kebangsaan atau malah menyimpang. Harus kita jeli juga, apakah partai tersebut memiliki tendensi sikap dan kepentingan politik yang sesuai dengan pedoman dan empat pilar bangsa dan Negara, atau malah sebaliknya mengkafirinya. Selanjutnya, apakah perjalanan partai tersebut dalam kancah perpolitikan memiliki raport memuaskan, yang ukurannya kita sesuaiakan pada raport para pejabat publiknya, karena baik buruknya rapot seorang pejabat public yang diusung oleh suatu partai menentukan baik buruknya citra politik sebuah partai tersebut.

Tindakan kedua, sebagai mahasiswa yang idealnya senantiasa merawat ideologi dan sikap controller (tanpa kontaminasi dan tidak tercemar tendensi sebuah kepentingan rendah) terhadap kebijakan penguasa yang secara tidak langsung merupakan posisi strategis mahasiswa untuk berteriak “tidak” pada penyelewengan penyelenggaraan kebijakan dan mengapresiasi bersama setiap prestasi dan pencapaian yang dilakukan oleh pemerintah. Nah, hal ini hanya bisa mungkin terjadi secara “wajar” jika para mahasiswa senantiasa merawat ideology kemahasiswaannya dengan tidak terjebak pada kepentingan – kepentingan instan seperti politik praktis yang selalu berujung pada cita – cita rendah sebagai seorang mahasiswa.

Ketiga, adanya sebuah wadah organisasi ataupun apa istilahnya yang mewadahi berbagai kegiatan dan hadir di tengah – tengah mahasiswa itu harus kita telusuri dulu, apakah benar organisasi / lembaga anak partai tersebut yang berada diantara kita benar – benar memiliki niat luhur untuk mewadahi kreativitas teman – teman mahasiswa dalam berbagai hal misalnya, tanpa kepentingan lain, atau justru sama halnya partai dengan kepentingan politik yang hanya bertujuan seperti menanam pundi – pundi massa yang akan dipetik “suara” mereka pada PEMILU? karena jika benar, bahwa berdirinya organisasi anak partai tersebut jatuh pada kepentingan “kedua” maka jelas itu tidak sesuai spirit dan komitmen awal kita, dan bahkan mereka mencederai harkat dirinya dengan persekongkolan jihad demi “kekosongan”.

“Saya kira, kita harus memikirkan yang terakhir ini, Tris…”, Ucap Subagyo menyela pembicaraan Sutris. Matahari sudah terbenam, hari mulai malam. Terdengar lantang dari jauh suara adzan yang tidak pernah gagal mengisi kekosongan hati untuk beranjak memenuhi panggilan. 


Khartoum 230214
Read More...

Mandjan

Sebut saja namanya Mandjan. Seorang perempuan. Tidak terlalu tua, mungkin umurnya hanya terpaut beberapa tahun di atasku. Tak ada yang berubah dari caranya bicara. Caranya menatapku sebagai teman curhatnya, tak ada yang berubah, cara berpakaian juga masih sama; memakai kaos panjang, kerudung ungu, sandal yang membuatnya sedikit berjinjit seperti pertama kali kutemui di gerbong kereta.

Saya masih ingat dengan wajah Mandjan kala itu; kusut, apa adanya dan tanpa polesan make up apapun di wajahnya. Ia sedang duduk sendiri di gerbong  saat saya bertemu dengannya tanpa sengaja dalam perjalanan pulangku ketika mencari warung kopi untuk berkumpul bersama para sahabatku.

Langit sore di kota Surabaya yang menuntutku untuk pulang,  menjadikanku memuutuskan untuk melakukan perjalanan dari kota pahlawan itu ke kota Angin di mana saya dilahirkan---  menggunakan jasa perjalanan kereta api. Saya putuskan untuk berangkat dari Stasiun Wonokromo, kebetulan hanya stasiun itu yang terbilang berdekatan dengan warung tempat biasa saya dan para sahabat saya nongkrong; bercerita tentang banyak hal baru.

sumber gambar : google
Pukul 16.30 sore Kereta Kertajaya yang akan menghantarkanku ke rumah ibu telah sampai di Stasiun Wonokromo dimana  saya menunggu kedatangannya. Saya pun bergegas mencari tempat duduk sesuai nomor yang saya dapatkan dari tiket yang kubeli. Akhirnya setelah berjalan dari gerbong ke gerbong, saya temukan tempat yang akan kududuki selama perjalanan. Tepat mengarah di depan tempat dudukku yang memang berhadapan, kulihat Mandjan yang belum kukenal untuk kali pertama. Ia duduk di pojok. Wanita berkerudung ungu, berkaos panjang, bercelana jeans sedang tertunduk lesu. Seperti sedang terpuruk, sementara kulihat di samping kanan dari tempat ia duduk masih ada ruang untuk dua orang duduk.

“hai… mbak, boleh saya duduk disini..”, kataku menyapa, sambil menunjuk arah pada tempat duduk kosong di depannya.

Ia tak mengeluarkan jawaban. Ia mengangkat wajahnya yang suram. Hanya mengernyitkan keningnya, bahasa yang saya mengerti sebagai orang asing baginya.

Dari wajahnya yang memandang ke luar jendela, dan sekelebat kulihat dari samping. Ada anak sungai kering yang mengalir dari mata ke pipinya.

“.. ia habis menangis”, pikirku dalam hati.

Kereta pelahan berjalan ketika keseluruhan penumpang sudah duduk di tempat masing – masing. Kebisingan mereda. Setelah sekian lama saya baru sadar; saya terjebak, berhadapan dengan perempuan yang terus memandang ke luar jendela. Tanpa seorang pun di sampingnya maupun disampingku. Saya dan ia duduk berhadapan di pojok gerbong kereta.

Di ujung sana. Seorang pemuda – pemudi terlihat membawa barang-barang, kupastikan mereka habis pulang mendaki, mereka sedang bercanda di tempat duduknya masing-masing, ketawa-ketiwi sembari terus memproduksi asap dari rokok yang mereka hisap bersama. Duh, melihat itu aku ngiri sekali.

Tiap kali aku pulang dari kota ini, aku selalu sendirian. Kebersamaan mereka yang kulihat itu seperti yang saya rasakan saat di warung kopi. Selebihnya, satu sama lain diantara mereka mungkin  memiliki arah pulang yang tak pernah sama. Sebagaimana saya.

“.. Aku bisa mati tanpa asap..” gerutuku, sambil masih melihat keceriaan mereka.

“..ehm..”, saya mencoba berdiri untuk mengangkat keberanian berbicara. Berharap perempuan asing di depanku membuatku tak semakin asing.

“.. mbak, boleh  merokok di sini?”, saya bertanya pelan kepadanya. Menyapanya untuk ke dua kali setelah perjalanan dari Wonokromo ke Krian tanpa percakapan.

“…untuk apa kamu merokok?”, ia berjingkat menolehkan wajahnya ke arahku. Wajahnya yang muram mulai mereda.

“.. ya, untuk menenangkan pikiran. Di saat kesepian saya butuh teman. Seperti Mbak yang selalu butuh teman bercerita untuk sedikit memudarkan kesedihan”.

Ia seperti sedang memikirkan pertanyaanku.

Karena merasa sudah mengantongi izin untuk mengisap rokok disampingnya. Saya segera mengambil rokok di kantong dan menyulutnya. Saya mulai berani membuka percakapan dengannya.

“.. Mbak, mau kemana?”, tanyaku

Langit yang sepi. Jendela gelap dan sunyi.
Tiada petir, tiada hujan. Ia menangis.



*****

Mandjan

Langit sore yang mulai gelap. Burung-burung pulang ke sangkar. Angin malam yang dingin mulai berhijrah mendinginkan sepasang kakinya yang ketakutan.

Di ranjang ia duduk sendirian. Menanti detik- detik suaminya Parman pulang kerja dari kantor. Selimut yang ia lilitkan pada sekujur tubuh tak membuatnya lebih hangat dari kesakitan – kesakitan di tiap malam yang selalu ia ingat.

Ia perempuan naïf. Sudah 3 tahun membangun rumah tangga, tapi Tuhan belum juga memberikan karunia anak kepadanya. Tiap hari ia tak pernah berhenti berdoa. Ia masih berharap Tuhan mendengar doanya. “Tuhan tak tidur, Tuhan tak tuli…” tekadnya kepada Tuhan sangatlah besar.

Suara sepatu yang ia sangat kenal seperti mendekat. Ia ketakutan.

“.. Mandjan, aku tahu kau belum tidur...” suara berat itu keluar dari pria berbibir tebal. “cepat bangun, dan buka bajumu !!!”, bentak Parman.

“kau tahu, Mandjan, betapa malunya aku pada ibu dan bapakku. 3 tahun kita menikah, tapi belum juga kau lahirkan anak…” lanjutnya sambil membuka kancing- kancing kemejanya, melepas sepatunya dan merapat ke atas ranjang.

Namun Mandjan perempuan yang ketakutan. Ia terus berlindung di atas selimut. Ia tak bergeming, ia ketakutan. Bibirnya tertutup. Tubuhnya kaku tak bergerak, seperti mayat.

“cepat buka !..” kali ini Parman membentak dengan nada serius. Dan Mandjan tetap pada posisinya. Tertelungkup di pojok ranjang. Diam.

“baiklah… kalau begitu maumu, kau akan kutelanjangi paksa…dasar bedebah!”, kata Parman, mencerca istrinya yang ketakutan. “  apakah itu yang diharapkan suami seusai pulang mencari uang untuk kau makan? Hah? Apa ini balasan yang kau dapatkan? Untuk apa aku menikahimu? Andaikan mau, aku bisa mencari wanita lain yang tidak sebodoh kamu. Yang lebih cantik, lebih muda dan memberiku anak…”

Dedaunan bergoyang. Pohon – pohon cemara pun digoda hujan. Pohon cemara yang kokoh, tidak sekokoh daunnya yang meruncing ke atas. Juga pohon – pohon bambu di pinggir sungai belakang rumahnya sedang menghasilkan suara – suara dari gesekan kesedihan. Bambu? Bagi Mandjan, bercinta dengan Parman lebih menyakitkan daripada kemaluanya yang ditusuk ujung bambu.

Malam itu, dan malam – malam sebelumnya. Mandjan melaluinya sebagai mayat yang dikoyak anjing kelaparan. Parman mengikat kedua kaki Mandjan hingga terlentang pada ranjang dengan tampar. Pun juga tangan Mandjan yang Parman ikat kuat – kuat dengan tampar. Hingga genap sudahlah Mandjan yang sudah tak berpakaian sehelai kainpun terlentang di atas ranjang dengan ke dua kaki dan tangannya terikat oleh tampar pada tiap sudut ranjang.

Ia seperti mayat. Ya, ia dingin. Tak bergerak. Mulut Mandjan yang diikat dengan kain pel membuatnya tak bersuara. Mengejang pun tak bisa. Otot – otot dan syaraf seksualnya telah mati. Susunya kendor, vaginanya tak berair. Ia hanya mengenal kesakitan.  Karena sudah tak bisa lagi apa-apa, kadang matanya melotot dan urat – urat di dahinya yang membesar adalah bahasa lain bahwa dia sedang kesakitan.

Andaikan ia boleh memilih antara mati dan hidup. Tapi buat apa? Bukankah setelah kematian toh ada kehidupan lagi. Andaikan ia boleh memilih takdirnya sendiri. Tapi buat apa? Siapa yang bisa menjamin Tuhan mengerti perasaan perempuan? Perjalanan hidupnya sudah banyak bicara soal keadilan, soal kehormatan, dan soalTuhan yang mengindahkan nasibnya selama 3 tahun.

****

Tetapi itu bukan Mandjan jika tidak melalui semuanya itu dengan tegar. Sosok yang sekarang sedang berada di depanku. Waktu mempertemukan saya dengannya untuk yang kedua kalinya, kami bertemu di sebuah café di pinggiran kota Surabaya. Perempuan yang tidak terlalu tua,  umurnya hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dariku itu. Tidak ada yang berubah dari cara ia bicara. Cara ia menatap saya sebagai teman curhatnya. Cara berpakaian juga masih sama, kaos panjang, kerudung ungu, sandal yang membuatnya sedikit berjinjit seperti pertama kali aku menemuinya di gerbong kereta.

Mungkin yang berubah adalah wajah yang dulu muram sekarang mulai reda. Tidak jarang dari bibirnya keluar senyuman. Namun tetap sederhana.

 Ia sosok perempuan yang murni dibesarkan oleh keadaan. Dari perjalanan hidupnya, ia mengenal bahwa dalam kehidupan, keadaan baik tidak selalu berpihak kepadanya. Kadang kala Tuhan mengajak kita untuk bermain teka – teki di balik semua skenario yang Ia buat. Tinggal bagaimana kita menjalaninya. Apakah kita kuat dalam ujian atau malah kita tinggalkan keimanan.

“saya mau tanya sesuatu kepadamu, boleh?”, ia membuka percakapan dengan pertanyaan

“boleh., apa?”

“Bagimu, apa perbedaan rasa nikmat dan sakit?”

“hmm…”, pertanyaan macam apa itu. Seumur hidup saya tak pernah sempat mempertanyakan hal yang demikian. Namun kuputuskan untuk menjawab“.. aku tak tahu..”.

“ antara rasa nikmat dan sakit tidak pernah bisa dibedakan. Seperti bijimu, ada yang kanan ada yang kiri”

“hah? Maksudmu..?”

“keduanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Orang bilang rasa nikmat itu lahir dari rasa nyaman, rasa terlindungi, rasa dihargai dan dihormati. Tetapi bagiku salah, justru dari kesakitan dicaci, dikasari, disiksa aku merasakan kenikmatan. Sekarang pun aku sudah mulai memahami apa yang mas Parman mau tiap malam, its okay.. everythings easy…”

“maksudmu?”, aku masih belum paham.

“Duh, dasar kamu…  bukankah kau sadar, Bahkan kenikmatan tertinggi adalah orgasme yang merupakan hasil dari benturan keras alat kelamin dan tubuh manusia?”

“ … lhoh, masalah anak?”

“Alhamdulillah, sekarang mas Parman sudah mengizinkan saya untuk mengadopsi anak dari Panti Asuhan…”

“ya, Syukurlah… “




Khartoum, 2 oct 2013
Read More...

Bubur Politik !

Bubur, siapa diantara orang nusantara yang tidak mengenal bubur? Salah satu makanan dari olah masak beras, direbus, dengan kadar air lebih dari untuk menginginkanya menjadi nasi. Tidak banyak tercatat dari mana asal mula bubur itu ada, mengingat luas kehadirannya sebagai makanan yang banyak dikenal di Nusantara: Indonesia, dan negara tetangga: Malaysia, Singapura, Thailand –Pattani, Cina Selatan, dan Sebagian daerah Tiongkok.

Ahli Tarikh Tiongkok, sebagian dari mereka: seperti Yu, malahan mencatat sebuah cerita awal ditemukannya bubur, melalui cerita rakyat yang berkembang di Tiongkok. Bagi sebagian dari bangsa Tiongkok, membuat bubur dari beras untuk mengingatkan mereka tentang pentingnya mengetahui cara bekerja dan mandiri (?). Membuat beras menjadi bubur adalah sebuah pekerjaan yang tidak susah alias gampang, dan special bagi pemalas. Karena ia hanya cukup mengisi kuali atau panci dengan beras dan air dengan kadar yang melimpah. Omong kosong, anak manja:tidak mandiri, siapapun pasti bisa memasaknya.



Macam macam bubur pun berupa, kita mengenal bubur Ayam (Bubur disajikan dengan campuran kuah kuning, seperti soto dan Siwiran ayam), bubur Sumsum (menyerupai sumsum, dari beras biasa, dihidangkan dengan  saos gula jawa manis), Bubur kacang ijo (terbuat dari kacang Ijo yang direbus dengan santan kelapa, dan gula jawa), bubur ketan hitam (ketan hitam yang direbus juga dengan santan kelapa muda dan gula) dan berbagai macam lagi sejenis bubur.

Selain bubur menjadi pengingat kita untuk pentingnya belajar dan bekerja keras, bubur bagi orang jawa malahan sangat raket. Misalnya, pada tradisi jawa, ada istilah slapanan yakni ketika umur bayi menginjak 35 hari, karena di hari itu seorang bayi mengulang wethon dia untuk pertama kali. Nah diantara ubo rampeatau syaratnya adalah membuat bubur tujuh rupa. Tujuh dalam bahasa jawa disebut Pitu, yang berartiPitulungan  artinya pertolongan. Sebagai simbol pengharapan agar mendapatkan Pertolongan dari Allah.

Lagi, Bubur pada Sajian Sesajen ada Bubur panca warna: bubur beras merah, ketan hitam, bubur jagung, ketan putih, kacang hijau. Ditempatkan di empat penjuru mata angin, satu di tengah. Melambangkan elemen alam (air,api, udara, tanah, dan angkasa). Biasa untuk Bersih desa, atau Nyadranan.
  
Soeparman bercerita mengenai bubur seusai melahap habis semangkuk bubur ayam Pak Kasan, Tukang bubur keliling, di mbale rumah Waluyo. Yang kebetulan mereka hanya berdua cangkrukan sore itu seusai sholat ashar.

jian, aku arep nambah nanging sungkan marang slirane sing ngebosi yosuwun saestu suwun yo..”, kata Soeparman sambil sendawa. Tak lama berselang, ia sahut langsung rokok Tajimas kesayangannya lalu menyulutnya.

“Enak?”

“ya mesti, bubur ayam jan eram, apalagi bubur daging sapi Gratisan !”

“tapi ada yang kurang yo, dari ceritaku tadi....”, lanjut Soeparman. Kata orang tua dulu, bubur itu artineNgeleburTegese ngelebur duso kang wes kapungkur. Ya, melebur dosa dan kesalahan yang berlalu. Yang dulu biarlah berlalu, ngunu, sekarang membuka halaman baru, begitu. lha iya to, orang khilaf kalau masak nasi kebanyakan air lan lali niliki lhah yo sarapan bubur tenan to yo.
“lha kok enak? Kalau koruptor buat bubur, lalu dibagi bagikan, trus bersih Gicu ?”

“ GITU, Gicu Gicu Cangkemmu !.... 
ya ndak nu, itu kan dalam rangka “berharap” to, istilah orang itu minta kawelasan.”. Selebihnya dia harus bekerja keras,membangun kesadaran diri dan belajar mencintai kesalahan sendiri. Paham?

“ndak!”

“cocok!”

“orang tua kita mengajari kita akhlak, dari pesan moral dan etika yang dibawakan oleh Tradisi dan budaya”. Nah, kalau sampai ada yang mau merusak budaya, berarti juga merusak sekolahan etika dan moral masyarakat.  Merusak itu ya tidak harus dengan membakar punden punden peninggalan leluhur di desa desa itu, namun juga mengunjunginya -punden bahkan makam tidak  dalam rangka dan dengan motif yang semestinya; penghambaan dan napak tilas rohani.

“Politik.. !” 


Khartoum, 21 April 2013
Read More...

Senyum Simpul Si Minah

I can see you, if you're not with me. I see to my self is u're okay. I think about you tonight.

First, I thanks so much too night. Berkat balsem dinginnya. Aku bisa berkarya kembali, meski sebuah realita. Ya, karya atas realita. It’s right bro. 

Kembali mengingat, mengenang, membicarakan dan membayangkan serta beberapa terkaan yang terjadi saat dan kala itu. Menghitung berapa jumlah detak jantung yang berdentum dalam nadi, kala memberi dan membagi secara Cuma sebuah dan ber juta dosa.

Warto sedang sibuk berfikir, sambil mengenyitkan kening yang tak mulus itu. Ia terus menghisap dalam rokok kesukaannya. Ia berada pada kedinginan sebuah malam. Petang. Dan berfikir sesuatu. Tepatnya, dia merenung. Tentang apa saja, relasi bisnis, keimanan, keilmuan nya sebagai seorang pelajar, sampai tiba ia teringat kisah klasik indah pada sebuah perjalanan cintanya.

Sesampai pada perjalanan terakhir itu. Dia menangis, terbayang olehnya betapa duri mawar itu tajam di banding kulit. Betapa dengan mudah api membakar kertas. Ataupun tisu tipis yang mudah saja robek. Warto, menangis di balut kemalangan malamnya.
Read More...

Taman Kanak Kanak Abad 21

Ketika mata mengatup untuk pertama kalinya

Dunia begitu kelam

lalu pejaman mata itu terbuka….

dunia tetap kelam…

Ada indah namun fana

ada rasa namun tak ada makna

Hidup didunia ini membuat raga sakit

terlalu banyak kepedihan yang harus di tangisi

telalu banyak lumuran dosa yang tak berbias…

dan dewasa…..

ternyata begitu sulit

meyedihkan…

episode balita tetap menaungi si kakek.

ketika hasrat menggenggam hati….jangan harap ada naluri

semua perprinsip….JUST DO IT !

ketika impian harus di gapai…asa tak henti berlari….

jangan pernah halangi……semua harus minggir!!

lalu ambisi, ego, dan nafsu berdalih….

percaya atau tidak ?…

Tak ada lagi dosa…

KEKUATAN ADALAH KEBENARAN…

masa kecil yang tak henti berputar..

kekanak-kanakan penguasa

keluguan si alim

dan kepolosan si rakyat..

lengkaplah sudah episode Taman Kanak-Kanak abad 21.

masa dimana tak ada lagi panutan, arahan dan kewarasan.


Ya Allah !

bimbinglah kami menuju kedewasaan

sehingga tak ada lagi celoteh bayi-bayi berkumis menolak seraya berkhilah SyariatMu

Dewasakanlah mereka..

walau kedewassaan itu sebuah pilihan ……
Read More...

Negara Negri Dongeng "Only On Stage"




Jam pelayar melepas kejenuhan setelah berhari hari mengarungi laut dan bertengger sejenak melepas penat disini, Marseilles le port tepatnya. Seperti biasa, Parman, pria yang sudah tak tampak muda lagi ini selalu tampak perkasa disini, lagi lagi menghabiskan waktu malamnya dengan beberapa botol minuman keras( liqueur), kali ini vodka yang menjadi temannya, sesekali ia menyulut cerutu kesayangannya. Selain vodka yang menjadi penghangat malam malamnya, ia pun tak lupa menggandeng wanita muda, tampaknya ia wanita nakal. Ia selalu memilih jeans sebagai teman kencan, termasuk malam ini. Wanita cantik, putih, mulus, bohai, sexy, berbadan tinggi semampai dan ber lipstick tebal lengkap dengan u can see ini, masuk dalam rating wanita wanita sewaan yang tergolong mahal. Karena jeans termasuk beberapa list wanita import dari negeri tetangga. Yang pasti, tak semua pengunjung bisa berkesempatan duduk bersama menghabiskan malam bersamanya, merogoh kocek lumayan dalam, dengan tarif per jam, apalagi untuk malam ini. Malam special buat para pekerja, menyambut libur esok hari.
Read More...

Perasingan Wanita Wanita Turki


 Berjejer serta tertata bangunan-bangunan besar bercorak dan bergaya  identitas penghuninya, ku arahkan pandangan secara keseluruhan, saat aku berdiri tepat diatas loteng homestay ku saat sore  menjelang petang tiba, selalu kumanjakan mataku dengan pemandangan keunikan dan keindahan lalu lantang dan beberapa kegiatan kecil keluarga keluarga yang tampak bahagia, lalu lantang mobil yang jarang kudapatkan, sebagai bahan pemandangan baruku kali ini. Kurang puas dengan pemandangan terbatas, ku ambil teropong kesayanganku sebagai hadiah ulang tahunku tahun lalu, Ku arahkan pandangan tanpa filter, menikmati berbagai keindahan dan keuinikan yang selalu menuntutku untuk terus bertanya dan terpana lebih. Hingga diriku tererembab dalam ketidaksadaran bahwa hal ini kujadikan kebiasaan sehari hariku disini, melupakan sejenak status pengangguran yang kusandang dan meninggal jauhkan kejenuhan yang sedang melandakku saat ini, di negeri orang yang serba asing bagiku.
Read More...
 photo Joel2_zps6bff29b6.jpg